Setelah enam tahun berpacaran, hingga berganti status menjadi tunangan Kafka, Ata masih merasa hidup di negeri dongeng yang tak punya jalan keluar.
Setelah enam tahun berpacaran, hingga berganti status menjadi tunangan Ata, Kafka masih merasa bermim...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"You look happy."
Sepanjang perjalanan dari toko pusat grosir menuju panti asuhan di pinggiran Jakarta, Ata banyak bicara. Suaranya riang. Senyumnya tidak luntur dari wajah. Betapa Kafka menyesal karena tidak meluangkan waktu sejak lama apabila yang akan dilihatnya adalah Ata versi paling semringah sepanjang beberapa bulan terakhir.
"Aku memang happy." Ata memindahkan tatapan dari jalan di depan mereka padanya. Senyum Ata masih bertahan di wajah cantiknya. "Rasanya aku belum pernah sebahagia ini sejak ...." Ata berhenti, membuat Kafka menoleh lagi. "Ya, intinya aku bahagiaaa banget."
Kafka tahu siapa persisnya, meski Ata tidak meneruskan.
"Sejak Viona bikin kamu nggak nyaman di kantor?" Kafka merasakan genggamannya pada roda kemudi menjadi lebih erat. "I wish I could do something for her."
"Kamu bikin aku bahagia hari ini, it's more than enough." Tangan hangat Ata mengusap-usap bahunya. "Padahal aku yang seharusnya bikin kamu bahagia."
"Aku bahagia lihat kamu hari ini, Sayang."
Kafka membalas senyum Ata, berusaha melenyapkan rasa tak nyaman setiap perempuan itu menghindar dari pembicaraan mengenai Viona yang sering merisaknya. Betapa Kafka ingin mengatakan pada Ata bahwa siapa pun yang berani membuat senyum perempuan itu lenyap, maka ia akan berhadapan dengannya. Dan siapa pun orangnya, ia pasti telah memilih lawan yang salah. Namun, Kafka memilih menyimpan pemikiran itu sendiri untuk sementara waktu. Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kelakuan buruk Viona. Mereka sudah makin dekat dengan panti asuhan. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai mobil Kafka memasuki sebuah gang sempit.
"Kita udah ditunggu!" Ata bergerak-gerak tak sabar di tempatnya, tampak antusias, sambil menggenggam sabuk pengaman yang masih terpasang. "Lihat, deh, Kaf, Adek-adeknya juga ngintip kita dari jendela! Aku kangen banget sama mereka!"
Setelah memarkir mobil di samping bangunan utama panti yang tampak usang, Kafka mengikuti Ata yang sudah lebih dulu berlari kecil menuju teras. Saat mendekat, ia melihat Ata memeluk seorang perempuan paruh baya berparas kalem.
"Mbak Ata sehat? Udah lama kita nggak ketemu. Terima kasih, ya, waktu itu dikirimi kue banyak banget. Kenapa nggak kabar-kabar kalau lamaran, Mbak? Saya jadi nggak siap hadiah buat Mbak Ata."
Ata tersenyum lebar sembari menjauhkan diri dari perempuan itu. "Saya sehat. Hadiahnya cukup Bu Widya sama teman-teman di sini sehat. Lamarannya memang nggak rame-rame, Bu. Tapi nanti kalau saya kirim undangan ke sini, Bu Widya datang, ya?"
Bukti Ata sangat bahagia tampak makin jelas saat Kafka melihatnya mengobrol sebentar dengan salah seorang pengurus panti. Ata pernah bercerita, ia sangat akrab dengan para pengurus panti. Namun, Kafka tidak pernah menduga bahwa keakraban itu berada pada level yang berbeda daripada yang pernah ia lihat. Belum pernah ia melihat Ata membicarakan hubungannya dengan Kafka pada orang lain. Sekarang ia bisa yakin, perempuan paruh baya yang dipanggil Widya itu bukan orang lain bagi Ata. Siang ini, Kafka melihat Ata sangat berbeda, dan tentunya dalam artian baik. Perempuan itu tampak sangat nyaman, santai, dan penuh gurau.