7th Page - Additional

2.9K 323 31
                                        

Chapter ini tanpa prompt, karena tujuannya buat nambahin chapter yang kemarin. Jadi kalau mau baca ini, baca yang sebelumnya dulu, yaa. Happy reading, Peeps!

***

Satu minggu berlalu semenjak Ata meminta maket padanya dan Kafka melempar penolakan tepat di depan perempuan itu tanpa pikir panjang. Ata tak pernah mengatakan apa-apa lagi setelah meminta Kafka melupakan permintaan itu. Ata sangat pengertian padanya. Namun, Kafka tak bisa mengenyahkan rasa bersalah karena menolaknya.

Ata benar. Kafka hampir selalu berkata pada Ata bahwa perempuan itu bisa mendapatkan apa pun darinya. Saat Ata memanfaatkan kartu itu, Kafka menghancurkan harapannya. Ata bilang, itu perihal kecil. Kafka pun menganggapnya begitu. Setidaknya sebelum ia tahu Ata kecewa karena Kafka menolak dengan semua alasan-alasannya.

Ribet?

Sejak kapan ia memikirkan perihal itu untuk memenuhi sesuatu yang diinginkan Ata?

Takes time?

Mengapa ia mengatakan itu, ketika dulu Ata pernah menemaninya membuat maket hingga pagi, padahal perempuan itu punya banyak tugas? Mengapa ia menjadi sosok yang tidak bisa berterima kasih saat Ata selalu membantunya, meluangkan waktu untuk menemaninya, dan membangkitkan kreativitasnya di saat-saat terdesak?

Lalu, buang-buang tempat? Susah dibersihkan?

Apa pula itu? Ata pernah bilang, apartemennya bisa dipakai untuk main tenis saking luasnya. Akan selalu ada ruang, apabila Kafka ingin menambah sesuatu di ruang TV atau kamarnya. Selalu. Mamanya mengirim ART dari rumah untuk membersihkan apartemen Kafka lima hari sekali. Malah, kadang-kadang, ART itu tak perlu bekerja keras karena apartemen Kafka terawat. Ata merawatnya. Ata beberapa kali mengambil alih tugas ART dari rumah untuk membersihkan apartemennya. Lalu ia membalas itu dengan mengatakan bahwa satu maket di apartemennya akan membuang-buang tempat? Ia merasa sangat buruk sekarang. Bahkan meski penolakannya sudah berlalu satu minggu.

Kafka tahu dirinya terlambat, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Kafka tidak membicarakan lagi dengan Ata. Ia tidak ingin membuat suasana tak nyaman di antara mereka. Karena itu, di Sabtu yang masih pagi, ia sudah tiba di rumahnya. Ata tak bersamanya. Perempuan itu pulang ke Malang sejak semalam karena harus datang ke acara keluarganya. Ata akan kembali besok pagi, sehingga ia punya cukup waktu untuk merealisasikan sesuatu yang sudah direncanakan sejak awal pekan ini. Membuat maket dari satu desain yang mereka sepakati.

"Lemari kaca yang kamu minta Senin kemarin udah bisa dikirim ke apartemenmu, Kaf

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lemari kaca yang kamu minta Senin kemarin udah bisa dikirim ke apartemenmu, Kaf."

Mamanya kembali dari dapur sambil membawa sepiring besar tempe goreng. Irina, yang masih memakai celana yoga, muncul dari pintu samping yang terhubung dengan taman dan langsung berbinar-binar melihat makanan favoritnya. Kafka menggeleng tak habis pikir, tetapi ia tetap menerima suapan sepotong tempe goreng hangat yang sedap dari mamanya. Ini menu sarapan yang hampir tak boleh dilewatkan. Mamanya dan Irina adalah penggemar tempe, apalagi digoreng dengan bumbu bawang putih dan garam.

"Thanks, Ma." Kafka beranjak dari kursi dan mengisi gelas dengan air dari dispenser. "Bisa dikirim malam ini?"

"Siang memangnya nggak bisa? Ini malam minggu, Kafka. Kamu jangan bikin orang kerja, deh." Meskipun suka memerintah, mamanya jarang mau mempekerjakan seseorang di akhir pekan apabila tidak cukup butuh. Kadang, ART-nya saja diliburkan memasak di malam minggu.

Kafka terkekeh. "Maketku belum tentu selesai siang ini, meskipun bakal dibantu. Sore? Atau kalau siang ini Mama senggang, Mama yang temani petugasnya ke apartemenku. Mau, ya?"

"Kamu ini ... ganggu aja!" Mamanya cemberut. "Hari ini Mama mau ke salon, terus ke acara teman Papamu."

"Kenapa nggak kamu sendiri, sih, Kaf?" Irina mencomot sepotong tempe goreng dan mencocol dengan sambal bawang pada mangkuk di tengah-tengah meja makan. "Istirahat dulu nanti siang buat antar lemarinya, lalu balik ke sini. Selesai."

"Tumben hari Sabtu begini kamu kerja?"

Menoleh ke asal suara, Kafka mendapati papanya memasuki ruang keluarga. Satrio mengikuti sambil menenteng tumbler yang kosong. Pekan ini, kegiatan sepasang mertua dan menantu itu bersepeda keliling kompleks. Kafka, si bungsu yang hampir selalu diajak oleh papanya—dalam berbagai kegiatan, memilih bersembunyi di apartemen. Ia dan papanya bukan kombinasi sempurna. Mereka bisa mendebatkan apa pun apabila disatukan dalam waktu yang lama.

"Aku nggak kerja, Pa," sahut Kafka, kemudian menenggak air putih dalam gelasnya.

"Memangnya bikin maket itu bukan kerja?" papanya menatap Kafka heran, kemudian berjalan ke tengah ruang makan untuk mengecup pipi mamanya. "Semalam, kardus-kardus dikirim ke sini. Papa kebagian naikin ke lantai tiga. Mamamu udah kayak kernet, nyuruh-nyuruh doang."

"Yang ikhlas, dong! Maketnya buat menantu Papa, lho," kata Irina, meledek.

Kafka sengaja menceritakan pada Irina ketika ia makan siang bersama kakaknya di hari Senin dan perempuan itu hanya memberi satu solusi: buatkan.

"Ngapain Ata minta maket?" Papanya kelihatan tak percaya.

"Nah, Mama juga heran, Pa. Kenapa dia nggak minta rumah yang asli aja, sih?" Mamanya tersenyum geli. "Kalau cuma maket, Kafka pasti bisa langsung bikin. Nggak perlu bongkar-bongkar rekening dia untuk hitung-hitungan. Nggak ada tantangannya buat Kafka."

"Masalahnya, kemarin Ata minta maket aja langsung ditolak sama dia, Pa." Irina mengadu, dan Kafka sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi.

"Wah, tumben ditolak?" timpal Satrio, heran. Laki-laki itu lantas membuka mulut, menerima suapan sepotong tempe goreng dari Irina.

Kafka meringis. "Pikirku, ribet, Kak. Ngapain bikin maket segala. Kayak mau presentasi sama klien aja."

"Terus?" Papanya menyimak dengan senyum geli.

Tidak ada pilihan lain, Kafka menceritakannya. Semuanya. Semua orang di meja makan tampak terhibur melihatnya gundah. Bahkan Satrio, yang selalu berada di pihaknya.

"Kamu jangan langsung nolak, lho, kalau Ata minta rumah." Mamanya memberi ultimatum.

Mendengarnya, Kafka memberengut. "Mana mungkin dia minta, Ma. Aku ngomongin rumah, dia malah minta maketnya."

"Mungkin Ata mikir, kamu belum cukup mampu buatin dia rumah," seloroh papanya, dengan raut mengonfrontasi yang langsung membuatnya sebal.

"Enak aja! Aku mampu, meskipun harus nyicil, dikit-dikit!"

"Kalau kamu mampu, kamu nggak bakal rebutan sama Jessy."

Kafka menatap papanya tidak terima. "Papa, kan, nawarin ke aku dulu. Lagian, Kak Jess bakal ikut Ardan kalau udah nikah. Buat apa dia aset tanah kosong? Kantor, punya. Apartemen, punya. Rumah, udah disiapin sama Ardan."

"Tetap aja, tandanya kamu nggak mampu. Coba turunin egomu dulu, Kaf."

"Maksud Papa, harusnya itu bukan buat aku? Buat Kak Jess? Tapi kenapa ditawarin ke aku dulu?"

"Lho, lho." Mamanya menatap Kafka dan papanya heran. "Kok jadi berantem, sih!"

"Papa yang mulai!"

"Ngawur! Kafka duluan, Ma!"

"Heh, udah, udah!" Mamanya memelototi Kafka dan papanya bergantian. "Kalau masih mau sarapan tempe gorengnya Mbak Yayuk, yang akur!"

***

(Pardon my typos and grammatical errors.)

Thank you for always reading and keep waiting for this story.

***

"8th Page" is loading ....

Fiance #2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang