Happy Reading ....
Hari sudah mulai sore dan jam sekolah sudah selesai beberapa menit lalu. Namun, gadis yang mencepol rambut panjangnya itu berjalan tak tentu arah. Venesia sedang bingung dimana letak rumahnya. Karena dalam buku diarynya tidak ada keterangan dimana rumahnya berada.
Kalau ia pulang kerumahnya yang dulu saat ia masih menjadi Athena itu tidak mungkin. Jiwanya masih ada di tubuh Venesia.
Merasa frustasi, gadis yang beberapa bulan lalu berusia 17 tahun itu duduk di terotoar. Tidak memperdulikan rok seragamnya kotor.
'Hari ini keadaan masih baik-baik saja. Tidak ada yang mengganggu ku selain 3 gadis tadi.' pikirnya
"Trus... Gimana gue bisa balik... Ini gimana... Nasib gue" keluh Venesia frustasi.
Brum...
Tak berselang lama sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu turun dan memperlihatkan seorang pria yang tidak asing baginya.
"Kamu ngapain disitu?... Cepet pulang. Nanti ayahmu bakal marah kalau gak pulang tepat waktu" omel pria dari dalam mobil.
'Dia tahu ayahku... Jangan jangan...' belum selesai dengan lamunannya Vene lebih dulu ditarik ke dalam mobil.
Suasana menjadi canggung setelah beberapa saat lalu mobil meninggalkan trotoar dimana Vene berada. Pria dengan hodie hitam itu juga tidak membuka suara sedari tadi dan hanya fokus menyetir.
Ya, pria itu adalah teman sekelasnya yang tadi pagi terlambat masuk kekelas dan mengendap-endap kebangkunya.
Tak berselang lama mobil berhenti di sebuah rumah yang cukup tidak asing baginya. Rumah dengan lantai dua bergaya klasik, tentu saja! ini masih 2005.
'Rumah ini di tahun 2020 adalah sebuah rumah tak berpenghuni yang tidak jauh dari rumah tempat tinggalku, satu komplek lagi. Dunia memang sempit ya' Vene dalam hati.
Seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu rumah itu, terlihat sedang menunggu seseorang. 'mati aku' gumam gadis berlesung pipi itu.
Vene dan pria yang belum ia ketahui namanya itu keluar dari mobil dan berjalan kearah rumah, menghampiri sipemilik rumah. Tatapan tajam dari pria itu serasa menusuk mata Vene, ia memilih menunduk dan tak berani menatap pria itu.
" Halo om, Om jangan marah sama Vene. Tadi dia telat soalnya saya ajak mampir kerumah dulu" bohong pria yang mengantarkan Vene itu.
"Ya sudah kalau begitu nak Vegas, kamu mau mampir lebih dulu?" ucap lembut pria yang gadis itu rasa ayahnya. Pria paruh baya itu menatapnya dengan tatapan yang masih sama, mengisyaratkan agar ia segera masuk.
Tanpa berlama-lama Vene segera masuk dan meninggalkan 2 pria yang masih betah berbicara di depan pintu itu.
Gadis dengan mata monoloid itu melihat sekeliling dan berjalan kearah tangga mencari dimana kamarnya berada. Hingga ia menemukan pintu kayu yang terletak di ujung.
Ia membuka kamar dan begitu masuk kedalamnya ia merasa menyukai kamar ini. Kamar dengan cat biru dan terlihat sederhana juga rapi. Walaupun tidak sebesar kamarnya dulu tapi nyaman.
Gadis itu tidak berhenti tersenyum memperlihatkan lesung pipinya saat berjalan kearah balkon. Balkon ini mengarah pada taman yang ada daerah komplek perumahan itu.
Lampu-lampu taman sudah mulai menyala akibat matahari yang sejak tadi telah tenggelam. Semilir angin Desember yang dingin menerpa wajahnya. Tetapi tak membuat ia berpikir untuk beranjak dari tempatnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
JIWA
Teen FictionSeorang gadis pembasmi pembuly disekolahnya harus menerima bahwa jiwanya masuk ke dalam tubuh seorang gadis pendiam yang sering di buly dan dilecehkan oleh teman-temannya di sekolah. Yang ternyata ia memasuki tubuh gadis yang mati bunuh diri lompat...