one.

138 19 11
                                    

Neera's Pov

"Neera!!" panggil seseorang dari belakangku. Aku menoleh dan kudapati Josh bersama Daisy.

"Ah, hai Josh." sahutku dengan senyum.

"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Josh lalu turun dari kudanya. Ya, Daisy adalah nama kuda Josh yang dinamai oleh kami berdua.

"Umm, seperti yang kau lihat. Aku baru saja selesai mengantar susu. Hai Daisy." sahutku lagi, aku lalu mengelus Daisy. Daisy mengikik selesai aku mengelusnya.

"Dia baru saja sembuh," ucap Josh.

"Oh ya? Jangan sakit lagi Daisy, Josh jadi kesusahan, kau tau?" candaku. Josh tertawa kecil.

"Neera!!" teriak seseorang. Suara yang aku amat sangat kenal. Itu ayahku.

"Sepertinya aku harus pergi. Bye Josh. Bye Daisy," aku berbalik dan berjalan meninggalkan Josh dan Daisy.

"Sampai nanti Neera. Oh ya, aku ingin kau terima-" teriak Josh yang lalu berlari menyusulku. Aku berhenti. Josh menyelipkan kertas pada tanganku.

"Neera!! Astaga kau itu tuli atau apa hah?!" teriak Ayahku lagi yang tau-tau sudah berdiri di belakangku.

"A-ayah" aku berbalik dan kudapati Ayah dengan wajah geramnya.

"Kau!! Jadi kau masih berani mendatangi putriku, hah?" Ayah menarik tangan Josh menjauh dariku.

"Ayah, jangan!" timpalku.

"Diam, Neera! Cepat masuk!" perintah Ayah, aku menunduk dan berjalan meninggalkan Josh.

Maafkan aku, Josh.

° ° °

Saat ini aku sedang berada di kamarku. Aku sedang membaca kertas yang tadi Josh berikan padaku.

drrrt drrrt

Tiba-tiba saja handphone yang tergeletak di sebelahku bergetar. Saat kubuka, satu pesan masuk ternyata.

Josh

Kau sudah membacanya?

Aku tersenyum membaca pesan singkat darinya. Aku seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Entahlah.

Aku pun mengetik balasannya.

Ya. Sangat menarik. Bisakah kita kesana?

drrrt drrrt

Tak lama handphoneku bergetar lagi.

Josh

Tentu saja :)

Ya Tuhan, kenapa Josh selalu saja bersikap manis padaku?

BRAKK!

"Neera, kau- ayah!!" tiba-tiba saja Camelia, adikku datang mendobrak pintuku sambil berteriak.

"Ssssttt Cam, kumohon jangan adukan ini pada ayah," aku langsung menyembunyikan handphoneku.

"Oh yaaa?! Ayahhh!" lagi-lagi Cam teriak memanggil Ayah.

"Cam, kumohon," lirihku.

"Neera, kau- oh jadi di sini kau rupanya?! Bisa-bisanya kau bersantai di rumah ini!!". Tak lama Ayah datang.

Tak bisakah aku tenang di kamar ini untuk sebentar saja?

"Ahh.. lihat ini, yah!" Cam merebut kertas yang tadi siang Josh berikan padaku.

"Cam, jangaaann!!" teriakku mencoba mengambil kembali kertas tadi.

Namun percuma, Cam sudah terlanjur memberikannya pada Ayah. Ayah melihat isi kertas tad, lalu meremasnya dan melemparnya sembarang.

"Ohh.. jadi kau ingin pergi dengan Josh-mu malam ini?! Iya? Bersihkan dulu rumah ini!!" teriak Ayah tepat di depan wajahku. Aku hanya bisa menunduk dan menahan tangisku. Dengan geram Ayah lalu berbalik dan keluar dari kamarku.

"Bye Neera, aku, Ceilin dan Ayah akan ke kota untuk mengambil paket baju baruku dan Ceilin. Ingat! Bersihkan dulu rumah ini, dasar jelek!" ucap Cam sebelum akhirnya menyusul Ayah keluar dari kamarku.

Tak lama aku mendengar suara deruman mobil menjauhi rumah. Mereka sudah berangkat.

Aku terduduk membelakangi pintu kamarku dengan tangisku yang pecah.

Ya Tuhan, tidak bisakah Ayah dan kedua adikku bersikap baik padaku?

tuk

Aku menoleh ke arah suara.

tuk

Ternyata ada yang melempari batu kerikil ke jendelaku.

tuk

Aku berjalan ke arah jendela, lalu membukanya untuk tau siapa yang tadi melempari kerikil.

"Josh?!"

• • •

Keep reading and don't forget to votes and comments!

Thank you,
naadiaasa

Never Been Better [Short Story]Where stories live. Discover now