Sebuah Kilasan

65 9 0
                                    

"Ma, apa kabar?"

Hari itu, tak pernah ada dalam benaknya hal paling buruk yang selalu ditakuti terjadi. Setelah menyelesaikan urusannya di kampus ia pergi menuju rumah sakit untuk mengunjungi orang yang paling ia cintai. Tersenyum memandang manusia paling dicintainya yang juga sedang memandang ke arahnya. Terbaring lemah di atas brangkar namun masih tetap sama, senyum cantik itu.

"Halo"

Entah mengapa, hari itu terasa berbeda. Tak ada obrolan apapun. Ia tetap melanjutkan membaca bukunya dengan sesekali memandang manusia cantik itu, tanpa melepas tautan tangan mereka. Hari itu wanita yang paling dicintainya terlihat tampak berbeda, hanya diam dengan pandangan kosong.

"Kenapa?"

Tanyanya setelah tanpa sengaja menemukan wanita yang masih ia genggam sedang memandangnya dengan tatapan yang ia pun tak mengerti arti tatapan tersebut.

Mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca dan kembali bertanya, "perlu sesuatu?"

Wanita itu hanya menggeleng setelah beberapa kali tak menyahuti panggilan. Bosan dengan sepi yang memeluk mereka, ia putuskan untuk menceritakan hari-harinya setelah beberapa hari ini tak mengunjungi wanita cantik itu.

Ia terus memandang wanita cantik itu dengan senyuman kecil. Terus memanjatkan doa sambil mengelus tangan yang berada dalam genggamannya. Saat tengah memikirkan banyak hal sulit yang terus terjadi belakangan ini, tiba-tiba wanita cantik itu mengalami sesak nafas.

Perasaan takut, cemas dan kalut kembali hadir namun jauh lebih besar dari apa yang ia alami sebelumnya. Yang ia lakukan hanya terus berharap dan berusaha agar wanita yang ia cintai kembali sadar. Entah kemana perginya orang-orang, ia memutuskan mencari sendiri siapapun kiranya yang bisa membantu wanita itu meskipun dengan derai air mata yang tak henti-hentinya mengalir.

Tuhan memiliki rencana yang jauh berbeda dari yang dia harapkan. Dini hari, wanita itu telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dirinya.

Ia tak menangis saat menunggu ambulance yang akan mengantarkan wanita itu ke rumah duka. Ia bahkan masih sempat tersenyum dan merangkai banyak hal dalam isi kepalanya yang mungkin akan ia lewati nanti bersama wanita itu. Ia juga tak menangis saat ia tahu wanita itu ada di balik keranda yang ada di hadapannya. 

Namun saat perjalanan menuju rumah, air mata itu terus mengalir dengan sesengukan yang terasa menyayat hati. Masih terasa segar diingatannya wanita itu meminta untuk tak meninggalkannya, namun hari itu wanita itu yang malah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Semua hal indah, hal-hal yang ia harapkan bisa terjadi bersama wanita itu, dan janji-janji yang ia harapkan bisa wanita itu tepati namun ia pun sadar wanita itu tak pernah dengan gamblang menyetujui janji-janji itu terasa terus berputar di kepala.

Perjalanan itu terasa sangat menyakitkan. Ia merasa seperti dilempar ke kejadian 2 tahun lalu yang juga merenggut wanita yang juga disayanginya lebih dulu. Wanita yang juga dicintai oleh wanita cantik itu.

Saat di rumah duka, yang pertama kali ia lakukan adalah memeluk perempuan lain yang sudah menunggu kedatangannya di rumah. Hanya kalimat 'gak papa, semua akan baik baik aja. ikhlas ya' yang dapat meluncur dari mulutnya sambil memeluk perempuan yang lebih kecil darinya itu erat-erat. Ia masih sempat tersenyum dan tertawa saat banyak orang menyampaikan pesan bela sungkawa dan memeluknya. Ia bahkan masih tidak menangis saat ia ikut memandikan mayat wanita itu.

Namun seketika kesedihan tumpah dengan menyiksa dan terasa sangat mencekiknya ketika ia melihat wanita itu sudah tertutupi oleh gundukan tanah dengan bertaburan bunga di atasnya. Isi kepalanya terasa kosong dan ia seperti tak lagi mampu merasakan apapun. Menyisakan ruang kosong yang amat menyiksanya. Rasa kehilangan dan kesepian terasa terus menggerogotinya hingga ia merasa amat kesakitan.

Ia benar-benar menyadari, wanita itu telah tiada.

Saat itu, ia bener-benar baru merasa kehilangan. Baru menyadari bahwa hingga kapanpun wanita itu tak akan bisa ia temui. Selepas ini, ia tidak akan dengan mudah melihat wanita itu, mendengar suaranya, menggodanya dengan gurauan-gurauan ringan mereka, mencium pipinya dan menceritakan hal apapun bahkan hal paling tidak penting sekalipun.

Ia akan merindukan nasihat-nasihat wanita itu, ia akan merindukan perdebatan kecil mereka, ia akan merindukan kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu yang lembut dan terasa menenangkan, ia akan merindukan pelukan hangat wanita itu, ia akan merindukan kelakuan-kelakuan ajaibnya yang selalu dirindukan dan ia akan terus merindukan wanita itu.

Sendirian ternyata tidak membuat ia merasa baik, kepalanya semakin berisik dengan banyak pertanyaan.

Kenapa harus wanita itu?

Kenapa harus sekarang?

Kenapa harus aku yang mengalami ini?

Semakin banyak waktu terlewat, perasaan teramat rindu dan pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang-ngiang dan mengganggunya hingga ia kepayahan. Perasaan yang ia tau jawabannya. Pertanyaan yang ia tau tak akan ada yang bisa menjawabnya. Belum lagi bayangan hari esok yang terasa begitu menakutkan. Ia merasa sudah kehilangan kekuatan. Perasaan-perasaan buruk yang tak kunjung usai terasa mencabik-cabik seluruh tubuhnya hingga ia merasa sangat kesakitan dan terluka.

"Untung ketemu, kalo nggak aku gatau lagi deh gimana. Harus ganti dan mama pasti ngomel"

Ia kembali tersadar dari lamunannya saat mendengar gerutuan lelaki di sebelahnya yang sedang memasang seatbelt.

"Kamu sih, makanya hati-hati" balasnya seadanya.

"Loh aku tadi ngerasa udah nyimpen kok mana tau kalo sakunya bolong"

"yauda, yauda. Udah kan? Ayo jalan"

Dan kemudian mobil itu melaju untuk kembali pulang meninggalkan tempat peristirahatan terakhir bagi orang-orang yang telah lebih dulu berpulang.

LostTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang