""Asalkan kamu bahagia. Aku rela ngelakuin apapun, bahkan bertaruh nyawa sekalipun"
-Rakha untuk Mala-
🌹🌹🌹
Mala sudah pulang kerumahnya, sudah seminggu dia berada dikandangnya sendiri.
Kini, gadis itu tengah menutup mulutnya karena kantuk sedang melanda dirinya. Disaat guru dengan rambut sanggul itu menjelaskan panjang lebar mengenai Matematika.
Dia mengucek matanya kasar. "Sampai disini ada yang mau bertanya?? Atau ada sesuatu yang tidak dimengerti?? Sialhkan bertamya" Final guru itu.
Guru itu melihat gerak gerik Lucky yang sedang menggaruk keningnya. "Lucky, kamu tidak ingin bertanya??" Tanya guru itu.
Lucky mengetutkan alisnya "oh tidak tidak, apakah seorang Lucky pernah tidak mengerti?? Oh tentu saja tidak" sombongnya.
Laki laki dengan dasi yang tak berbebentuk lagi itu diteriaki oleh teman sekelasnya. "UUUU" sorak mereka.
"Heh kalian yah, aikeh kan ngonongin fakta. Iya ga Mala" ledek laki laki itu melihat Mala yang tengah asik membaca bukunya.
Mala yang merasa terpanggilpun melirik kearah Lucky. Dia memutar matanya melihat laki laki itu menaikkan alisnya.
Rakha mendelik tajam kepada Lucky, dan dapat dilihat oleh laki laki itu "beuh pawangnya marah, canda Kha"
"Gimana kalau Vio aja?? Kan masih jomblo nih" Lucky mengeluarkan siulan ala alanya
Dan mendapatkan geplakan buku cetak tebal dari Vio yang berada diseberang tempat duduknya. "Ogah gue same lu samsudin. Owgwahh"
Guru matematika itu hanya menggeleng pasrah melihat kelakuan Laki laki ganjen itu, ngidam apa dulu nyokapnya?? Kok bisa jadi seperti ini?
"Yah kesiaann, cinta bertepuk sebelah tangan" sindir Devi
"Kalau Devi gimana??" Dia kembali membuat ulahnya.
"Heh apa lu bilang??" Sahut Afan yang berada tak jauh dari sana.
"Beh, langsung di serobot. Yah kalau gitu siapa dong?? Oh iya neng Aura aja gimana?"
Aura tersenyum menanggapi hal itu "Manisnya Maasyaallah, nikmat mana lagi yang aing dustakan tuhan??" Gombalnya.
"Sorri, gue ga mau sama lo. Lo bukan type gue" Ulti Aura
"Ya Tuhaann, senyumannya menghayutlan begutupun perkataannya. Menusuk ke hatii sakit Ra" dramanya dengan acara berlutut di lantai.
Guru itu semakin jengkel dibuat mereka. "Yaallaahh, sepertinya ibuk harus punya banyak iman masuk kesini ya" ucap guru itu.
Mala mengangkat tangannya, bukan ingin bertanya melainkan ingin permisi ke toilet."ya mala?? Mau bertanya apa??" Tanya guru itu menurunkan kaca mata yang bertengger dihidungnya sedikit kebawah.
Gadis itu menyengir kuda dan menggaruki tengkuknya yang tak gatal. "Eh enggak buk, saya mau permisi ke toilet" elaknya dan dia menjadi perhatian dikelas, termasuk Rakha yang berada diseberang tempat duduknya.
"Oalah, yasudah sana" ucap guru itu
"Yolo yoloo Malaa, kenapa ga tudep aja sihh" kritik Lucky, sudah terbiasa seperti itu. Gadis eh, laki laki itu memang mempunyai muncung seperti muncung ikan yang tak bisa mingkem.
Selalu ada saja yang diproteskan olehnya. Kalau boleh jujur, dia memang ganteng sama seperti namanya Lucky tapi tidak dengan perilakunya yang nauzubillahh..
Mala mendelik sinis kearah laki laki yang memiliki jiwa seperti perempuan itu. "Ribet lo ki, diam aja napa" Mala pun melangkahkan kakinya keluar kelas.
Dia memasuki toilet dan menghidupkan wastafel, lalu mencuci wajahnya asal. Dia membuka matanya dan melirik kearah kaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Something Perfect (Rakha)
Fiksi PenggemarGadis yang menyukai semua tentang langit, gadis yang memiliki berjuta juta sayatan luka di dalam hatinya semenjak kehilangan sosok mama didalam dirinya, gadis yang baik dan dia tidak pernah mau ditindas kecuali ketika ia sedang lelah dan di titik it...
