Seorang brandal yang dikeluarkan dari sekolah sebelumnya tiba tiba pindah ke sekolah internasional Gangnam. Pria nakal itu bernama "Min yoongi". Sesuatu kebetulan membuatnya bertemu dengan seorang pria baik bernama "Park Jimin". Dan lihat bagaimana...
Sebagai seseorang yang sangat susah untuk berinteraksi dengan banyak orang, membuat jimin menjadi kesulitan untuk bergaul dengan teman teman dikelas yang pastinya level mereka sangat berbeda dengannya. Bagaimanapun masuk ke kampus semewah dan sebesar ini tidak akan pernah terjadi untuknnya jika tidak di bantu oleh kakek yoongi.
"Semua orang pasti sudah saling mengenal satu sama lain, bagaimana agar aku bisa menyapa dan mengenal mereka?" Dia bergumam sendiri didalam hatinya sambil mengusap usap punggung tangannya karena terlalu gugup.
"Eoh?? PARK JIMIN!!!" Suara yang sangat jimin kenali itu berhasil membuat bulu kuduknya otomatis berdiri setelah mendengarnya, jangankan untuk menyapa balik, hanya untuk berbalik kebelakang untuk melihat siapa yang datang, dia sudah tidak berani. Dia merasa punggungnya menjadi memanas dan keringat mulai bercucuran membasahi pelipisnya, matanya sedikit berkunang kunang dan dia merasa jantungnya berdebar sangat kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari dadanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kukira tidak akan bertemu denganmu lagi setelah pertemuan kita yang terakhir kali, siapa sangka kita akan bertemu lagi dikampus yang sangat tidak mungkin dimasuki oleh orang sepertimu ini." Celoteh seorang pria yang datang mendekat dan menghampiri park jimin yang masih gemetar.
Jimin pertama kali bertemu dengan changbin saat dia masih duduk dibangku sma, dan changbin selalu menganggunya tanpa alasan yang jelas. Setiap hari jimin selalu membuat tugas sekolah yang harusnya dikerjakan oleh changbin, dia dan temannya selalu meminjam uang dan barang barang milik jimin tanpa berpikir untuk mengembalikannya kembali. Walau jimin tau mereka hanya meminta barang dan uangnya dalam kedok meminjam. Justru itu dia memiliki trauma yang cukup dalam dari changbin dan juga teman temannya, dia berusaha untuk menghindari pertemuan mereka tapi justru berakhir menjadi teman sekelas di kampus yang harusnya menjadi awal baru untuknya. Changbin pastinya tidak akan berubah dalam waktu yang singkat sejak terakhir kali mereka berdua bertemu.
Merangkul bahu jimin." Yaa jimin aah, sudah lama sekali kita berdua tidak bertemu, bagaimana kabarmu sejak kamu pindah dari kota kita?" Tanya changbin sambil tertawa mengejek.
"Ak-aku baik baik saja, ka-kau bagaimana changbin aah? Sudah lama sekali tidak melihat dirimu." Balas jimin dengan terbatabata. Mendengar ucapan jimin membuat changbin tersenyum lalu disusul dengan suara tertawa kecil dari mulutnya." Aku baik baik saja, jimin aah apa kau sudah sarapan?" Tanya changbin lagi kepadanya.
"Ndee, aku baru aja sarapan pagi tadi, ba-bagaimana denganmu changbin aah?"
"Aku belum sama sekali sarapan, bisakah kau belikan untukku jimin aah, kau masih ingat sarapan yang aku suka kan?" Ucap changbin mengusap usap kepala jimin membuat tubuhnya semakin bergetar. Tanpa mengatakan satu katapun, jimin berdiri dari kursinya lalu beranjak untuk membelikan sarapan yang biasanya dia lakukan untuk changbin saat mereka masih duduk dibangku sma. Dia hanya bisa menghela nafasnya tanpa bisa melawan changbin karena memang dia mengakui kalau dirinya sangat ketakutan jika sudah berlawanan dengan changbin.