Happy reading
..
..
..
Hari demi hari ,Minggu demi Minggu sampai berbulan-bulan Remaja yang kerap disapa dengan nama "Alvino"itu masih terbaring dengan tak berdaya
"Koma"itulah yang terjadi padanya.
bahkan sampai detik ini pun keluarganya tak menjenguknya sama sekali .
Hanya ada sang paman yang selalu menemani mencari kebenaran tentang kejadian beberapa bulan lalu.
Namun,ia mendapat kejanggalan pada saat itu,pada saat ia menemani Alvino yg sedang koma,ia ditelfon oleh kakaknya yaitu "Dirgantara".Dirgantara mengatakan bahwa Alvino berulah kembali dengan melukai Tasya putri kesayangannya itu.
Ia pun terheran-heran bagaimana "Alvino" bisa melukai Tasya jika ia saja sedang koma,apakah ini lelucon?"pikirnya dengan alis yang berjengit:v
Dan pada akhirnya ia paham bahwa ada orang yang sengaja memakai identitas keponakan tampan kesayangannya itu
Vin..jagoan om kapan bangun ganteng?cape banget ya sampe tidur lama banget?kata dokter kamu masih bisa denger om ngomong jadi..bangunn yukk ganteng,om kangen suara kamu, kejahilan kamu,ketawa kamu, intinya semua yang berhubungan sama kamu om kangen."ucapnya dgn suara serak menahan tangis
om tau ini berat buat kamu,tapi.. tidurnya jangan lama" ya vinn..
ada kebenaran yang harus terbongkar dan kamu harus janji buat bangun ya ,anak kuat..
kalo kamu tau om nangis pasti kamu ketawa"ucapnya sambil sesekali terkekeh
---
Di lain sisi...
Terlihat seorang wanita paruh baya duduk di tepi ranjang sambil menggenggam sebuah bingkai foto. Senyum di foto itu begitu lebar, sangat berbeda dengan wajah wanita tersebut yang kini dipenuhi air mata.
Ia mengusap perlahan wajah putranya yang ada di dalam foto.
"Vin..."
"Bunda kangen sama kamu, Nak."
Keheningan kamar hanya diisi suara isaknya yang berusaha ia tahan.
"Udah berbulan-bulan kamu pergi..."
"Bunda nggak tahu sekarang kamu ada di mana."
"Bunda cuma berharap kamu makan dengan teratur, nggak kehujanan, dan masih ingat pulang."
Tangisnya semakin pecah.
Sejak hari itu...
Hari ketika Tasya menjadi korban dan semua bukti mengarah kepada Alvino.
Anak laki-lakinya menghilang tanpa jejak.
Tidak ada telepon.
Tidak ada pesan.
Bahkan sekadar kabar bahwa dirinya masih hidup pun tidak pernah ada.
Semua orang menganggap Alvino melarikan diri karena takut mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Termasuk kedua orang tuanya.
Wanita itu memejamkan mata.
"Sampai sekarang... bunda masih marah sama kamu karena memilih pergi."
"Tapi..."
"Bunda juga nggak bisa bohong."
"Setiap malam bunda selalu berharap pintu rumah terbuka... terus kamu masuk sambil bilang..."
"Bunda... aku pulang."
Senyum pahit terukir di wajahnya.
"Kalau memang itu bukan kamu..."
"Kenapa kamu nggak pulang dan jelasin semuanya, Nak?"
---
Tak jauh dari sana, Dirgantara berdiri di balkon rumah dengan rokok yang hampir habis di tangannya.
Tatapannya kosong menembus gelapnya malam.
Ia sebenarnya ingin mencari Alvino.
Namun harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
"Dasar anak keras kepala."
"Kalau memang nggak salah..."
"Kenapa malah kabur?"
gumamnya pelan.
Meski kalimat itu terdengar penuh amarah...
Jauh di lubuk hatinya, ia mulai merasa ada yang janggal.
Alvino memang sering membantah perkataannya.
Alvino memang keras kepala.
Namun...
Anaknya bukan pengecut.
Berkali-kali Dirgantara menghela napas panjang.
"Ayah cuma pengen satu..."
"Pulanglah."
"Kalau memang kamu nggak bersalah..."
"Buktikan di depan ayah."
Tanpa ia sadari, matanya mulai memerah.
Namun rasa gengsi membuatnya segera menghapus air mata yang hampir jatuh.
Ia tetap yakin...
Suatu hari nanti Alvino akan pulang membawa penjelasan.
Sedangkan yang tidak pernah mereka ketahui adalah...
Orang yang mereka tunggu selama berbulan-bulan itu...
Sedang terbaring tak sadarkan diri di sebuah ruang ICU.
Berjuang sendirian.
Tanpa tahu...
Bahwa keluarganya masih mengira ia memilih menghilang.
