32 ?

3.9K 347 68
                                    

Akhirnya salah satu sesi menegangkan dalam hidup terlewati. Ya, seminar proposal sudah rampung dilaksanakan.

Salma lebih dulu dilanjut Rony seminggu kemudian, tentunya di fakultas mereka masing-masing.

Setelah mendapatkan persetujuan dan izin Salma diperkenankan menggarap skripsi lebih lanjut lagi. Menggabungkannya dengan data hasil penelitian, berikut media pun sumber penelitian lainnya. Dibuat menjadi satu buku. Ah, makalah. Mungkin? Intinya digabung.

Skripsi atau biasa disebut thesis disini tidak harus terdiri dari beratus-ratus lembar yang membuat jari keriting mengetik kata per katanya. Tugas skripsi itu tidak boleh lebih dari 100 halaman, dibawah. Berkisar antara 60-80 halaman saja. Entah, setiap universitas berbeda kebijakan. Termasuk universitas di Swiss yang berbeda-beda metode ujinya.

Skripsi itu dibuat dengan singkat, padat dan jelas. Ya, gampang-gampang susah. Membuat kepala pening setiap harinya.

Salma sudah merampungkan skripsinya, tapi tidak semudah itu. Masih ada proses pengecekan. Ah, Salma berharap semoga Dosennya berbaik hati tidak memberikan koreksi yang mengharuskannya merevisi skripsiannya. Semoga. Apalagi besok jadwal bimbingannya.

"Semoga gak revisi ya Allah. Biar bisa cepet-cepet ngajuin sidang. " begitulah harapan Salma sedari tadi.

Bunyi tulang beradu dari sebuah jari, Salma meregangkan otot jemarinya. Rasanya sungguh pegal, sedikit kebas karena terlalu lama mengetik. Lelah, tentu saja. Salma menenggak air mineral.

"Sal, besok lo bimbingan? "

Salma mengangguk, "Iya, semoga gak revisi. Sayang banget kalo harus buang-buang kertas. Biaya printer mahal. "

Zara tertawa pelan, mereka mengerjakan skripsi bersama di apartemen Salma. Zara yang mengajaknya, Salma dengan senang hati meng-iyakan. Toh, ia bosan sendirian.

Rony bekerja, belum pulang. Kadang Salma iba pada lelakinya. Selain seharian sibuk di kampus. Lelaki itu harus bekerja, meski jadwal kerjanya sudah dipangkas. Maksimal 15 jam dalam seminggu, itu artinya Rony hanya kerja sekitar 2-3 jam perhari.

Penggunakan jam kerja itu atas kebijakan kampus, terlebih Rony mahasiswa internasional. Pihak kampus tidak melarang mahasiswanya untuk bekerja, paruh waktu. Justru pihak kampus menyediakan lapangan kerja, mendukung. Mereka bergabung dengan beberapa perusahaan di Swiss. Termasuk kafe tempat Rony bekerja.

Seharusnya, diawal kehadiran Rony menjadi mahasiswa lelaki itu tidak diperkenankan bekerja sebelum enam bulan menjadi mahasiswa. Ya, memang begitu prosedurnya. Itu kebijakan kampus, namun untungnya bisa dinegoisasi. Sehingga Rony bisa bekerja pada akhirnya, meski belum masuk kuliah waktu itu. Tentunya melalui perizinan yang cukup rumit.

Kebijakan itu dibuat bukan tanpa alasan, alasannya cukup logis. Pengertian malah. Pihak kampus tak ingin konsentrasi mahasiswa baik mahasiswinya terbagi dengan beban kerja itu. Tapi, pihak kampus cukup fleksibel. Sebagian mahasiswa pasti memerlukan pekerjaan, itu pasti. Meski tidak semuanya. Alasan mengambil kerja paruh waktu untuk menambah pendapatan, alasan itu menjadi alasan yang paling sering didapatkan pihak kampus. Alasan yang cukup logis.

Waktu luang Rony tentu tak sebanyak Salma, Salma bisa lebih santai. Buktinya skripsinya lebih dulu selesai. Meskipun masih rada-rada ragu, takut ada revisi.

Zara sudah pulang, malam belum terlalu larut. Baru pukul sembilan.

Baru beberapa menit Zara pulang, Rony datang. Wajahnya kuyu, kantung matanya sedikit menghitam. Lelaki itu lebih sering bergadang. Berpacaran dengan laptopnya, apalagi kelakuannya selain mengerjakan skripsi. Ngebut, karena Salma sudah rampung lebih dulu. Gengsi dong, katanya. Dasar lelaki, si paling harus unggul.

Hi Switzerland (belum END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang