"Kenapa lo? Lesu amat!"
Suara Hasya membuyarkan lamunan sore Tara. Kepala Tara langsung berputar kepada pria berkacamata dan berkemeja biru lengan pendek yang entah sejak kapan berdiri di samping meja kerjanya sambil bersedekap. Mata pria itu disipitkan penuh selidik.
"Kayaknya Rifki beneran mau putus dari gue, Sya..." curhat Tara nelangsa. Wajahnya pun ikutan memelas.
Setibanya di kantor tadi, Tara pun tidak bisa berkonsentrasi seratus persen pada pekerjaannya. Padahal banyak proposal kredit yang mesti ia cek dan memutar otak untuk menyusun strategi agar targetnya tercapai. Tapi otaknya malah dipenuhi satu nama: RIFKI ARDIANSYAH!
"Maksudnya 'beneran' mau putus?" tanya Hasya tak paham. Volume suaranya sengaja direndahkan agar tidak terdengar oleh head account officer lain yang sedang prengat-prengut di meja masing-masing.
Tara mendesah pelan. Ia memperhatikan kuku-kuku jarinya yang bersih sehabis manicure beberapa hari lalu. "Sebenarnya tadi pagi dia minta putus. Katanya gue berhak mendapatkan yang lebih baik dari dia."
"Emang." Hasya menyela.
"Lo temen gue atau bukan sih? Dukung hubungan gue sama Rifki dong mestinya!" balas Tara tak sabar.
Tiba-tiba Tara menyesal bercerita kepada Hasya. Padahal ia berharap temannya ini mau mendengarkan bahkan minimal mendukung hubungan percintaannya yang nyaris kandas.
Atau malah udah kandas, batin Tara miris.
Akhirnya sambil mengembuskan napas berat, ia bersitumpu siku di atas meja. Matanya memandang kosong ke arah jendela yang tak jauh dari meja kerjanya yang menampilkan hutan beton perkantoran Sudirman.
"Bukannya gue nggak mau dukung hubungan lo sama Rifki, tapi kelihatan banget lo yang excited sendiri soal hubungan ini," ujar Hasya rendah. "Daripada lo pacaran tapi rasa jomlo, mendingan lo jadi jomlo murni."
Refleks, Tara mendelik ke arah teman senasibnya di Bank Santara Capital.
Rawi, Hasya, dan Tara sudah berteman sejak mereka menjadi management trainee. Setelah sekian lama berteman, Tara memang paling sering beradu pendapat dengan Hasya Agnibrata--pria yang sedang menguji kesabarannya sekarang. Entah mengapa, tindak-tanduk Tara selalu salah di mata Hasya.
"Lo punya dendam apa sih sama gue, Sya?" tanya Tara akhirnya. Kedua tangannya bersedekap sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi. "Lo kayaknya demen banget bikin gue sengsara lho!"
"Sembarangan!" Hasya buru-buru menampik. Matanya membulat. "Gue cuma ngomong apa adanya. Lo sama Rifki itu nggak balance. Lo banyak effort, sedangkan Rifki ngapain? Terima jadi doang!"
"Ih, sok tau banget sih lo!" seru Tara tak terima pacarnya diejek.
"Kalau pengin work-love balance* seperti yang pernah lo gembar-gemborkan waktu itu, mestinya lo tau hubungan lo sama Rifki nggak seimbang!" lanjut Hasya sama sekali tidak mengindahkan protes Tara. "So, kenapa lo nggak terima dia mau putus sama lo? Mestinya lo terima aja. Lo emang terlalu baik buat dia."
Tara tercenung sejenak. Entah mengapa kata-kata Hasya membuatnya memikirkan hubungannya dan Rifki akhir-akhir ini.
Meski baru dua bulan berpacaran, tapi Tara memang lebih banyak mengambil inisiatif. Namun, itu karena Rifki tipe orang yang pemalu. Jadi, Tara menyeimbangi Rifki dengan mengambil langkah lebih dulu. Mulai dari chat pertama kali, memikirkan ide kencan mereka, menanyakan kabar Rifki, bahkan Tara juga mengingatkan Rifki agar tidak lupa salat di tengah kesibukan.
Tara meringis masam. Ia dan Rifki memang menjalani hubungan beda agama. Meski berbeda, tapi Rifki tak pernah menyinggung atau mempermasalahkan perbedaan mereka sehingga Tara pun merasa tenang dengan pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love at Risk
RomanceTara harus menemukan calon suaminya sebelum ulang tahunnya yang ke-32. Padahal Tara telanjur nyaman dengan Hasya, teman kantornya. Sementara, orangtua Tara maupun Hasya menentang hubungan mereka. [Spin off Love in Credit] Publish date: 23 Feb 24 Re...
