Risk 03

899 150 14
                                        

Apa hukumnya menolak permintaan ibu sendiri?

Tara sudah tidak bisa khusyuk selama ibadah di gereja pada Minggu paginya. Desakan mamanya kemarin menghantui benaknya tanpa henti dan paling parahnya... setelah Tara sengaja mengabaikan pesan itu, mamanya mengancam mau menjodohkan Tara juga! Arghhhhh...

Untuk pertama kalinya, Tara berharap bisa langsung loncat ke hari Senin. Padahal hari Minggu waktunya ibadah, santai-santai, atau eksplorasi tempat dan mencicipi makanan yang sedang viral. Tapi Tara justru mau dijodohkan!

Tara mengembuskan napas berat. Ia tahu mamanya sering dramatis tapi tidak mengira akan bertindak senekat dan sejauh ini. Lagi pula, Tara anak kedua di keluarganya. Kenapa bukan Mas Cipta-kakaknya-yang masih jomlo itu diprioritaskan lebih dulu? Kenapa malah Tara yang didorong-dorong lebih dulu bahkan sampai mesti dijodohkan segala?

Tara benar-benar tak habis pikir. Pokoknya, ia harus bisa menolak dan menggagalkan usaha mamanya untuk menjodohkannya!

Seusai ibadah, Tara keluar dari gedung gereja sambil mengecek tarif ojek online ke Senayan City. Mengingat tanggal gajian masih lama, ia membuka beberapa aplikasi sekaligus demi mencari tarif yang paling ramah untuk kantong tipis sepertinya.

"Mau ke mana, Yang?"

Suara itu membuat Tara terperanjat dan menoleh. Ia terbelakak tak percaya saat tatapannya bertemu dengan pacar gadungan yang meninggalkannya di MRT. Pria itu dibalut kemeja biru dongker yang lengannya digulung hingga siku dipadu celana hitam yang terkesan smart casual di mata Tara. Dan, entah mengapa penampilan itu cukup serasi dengan Tara yang juga mengenakan kemeja biru dongker dan celana panjang putih.

"Om!" seru Tara spontan.

Pria itu meringis. "Masih aja panggilnya 'Om' ya?" ujarnya. Lalu dia mengulurkan tangan kepada Tara. "Aryudha Praditya. Kemarin kan kita belum kenalan."

"Siapa suruh Om kabur?" ejek Tara tersenyum kecil tapi tak urung menjabat tangan pria itu. "Aku Tara Prameswari."

"Please, jangan panggil 'Om' lagi," pinta pria itu dengan buru-buru.

"Terus, mau dipanggil apa?"

"Yudha aja nggak apa."

Mata Tara mengerjap cepat. Ia baru membuka mulut sesaat, lalu menutupnya lagi. Kepalanya mulai celingukan, memastikan sesuatu yang amat penting. "Eh, tunggu, tunggu!"

"Kamu cari sesuatu atau seseorang?" tanya Yudha menyadari gelagat aneh Tara.

"Kamu nggak apa-apa ngomong berduaan sama cewek gini?" balas Tara memandang Yudha lurus-lurus. "Istri kamu nggak marah?"

"Istri?" Yudha membeo tapi suaranya terdengar seperti tercekik. "Emangnya... saya gimana di mata kamu, Ta?" tanyanya dengan alis menyatu heran.

"Om-om able." Tara mengangguk mantap. "Lebih tepatnya... orang yang udah nikah gitu sih," ringisnya sedikit malu-malu. Ia menunduk sejenak untuk melihat heels yang dipakainya. "Intinya sih aku nggak mau... dikira pelakor sama istri-"

"Saya belum nikah, Ta." Yudha menyela dengan nada rendah tapi tegas.

Tara mengangkat kepala dan menatap Yudha dengan mata terbelakak. "Kok, belum sih?" tanyanya. Ketika melihat kerutan di kening Yudha, Tara buru-buru menambahkan lagi. "Eh jangan marah dulu, soalnya aura kamu mature banget. Makanya, aku mikir kamu udah nikah. Minimal, udah punya pacar."

Tawa Yudha pecah, kepalanya menggeleng geli. "Mature apanya? Mature nuwun*?"

"Pft... dad jokes banget sih!" dengus Tara mati-matian menahan agar tawanya tidak tersembur.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love at RiskCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang