Risk 01

2.7K 235 19
                                        

Rifki: sori, Tara. Kayaknya kita nggak bisa lanjutin hubungan ini lagi deh. Kamu baik, akunya aja yang bermasalah. Kamu berhak sama orang yang lebih baik. Kudoakan kamu segera menemukannya. Semoga harimu menyenangkan.

"Ini beneran... putus?" Tara Prameswari tak bisa menahan mulutnya ternganga. Matanya berkedip beberapa kali, berusaha memastikan penglihatannya tidak ngawur pagi-pagi.

Demi memastikan Rifki tidak lagi mengigau atau semacamnya, jempol Tara segera membalas pesan pria itu. Ia tahu Rifki sering begadang untuk merampungkan pekerjaannya sebagai arsitek. Efek begadang bermacam-macam, termasuk mengigau.

Barangkali Rifki salah kirim, kan? Tara berusaha berpikir positif. Ini masih pagi dan ia tidak mau menjejali pikirannya dengan hal-hal negatif atau overthinking.

Detak jantung Tara mendadak semakin cepat setelah mengirim balasan untuk Rifki. Pesannya masih centang satu. Namun, semoga saja ini karena Tara sedang berada di bawah tanah-alias, menaiki MRT. Toh, akhir-akhir ini jaringan internet ponselnya juga sering lemot.

Tak lama, terdengar pengumuman kereta yang dinaikinya akan tiba di stasiun dekat kantornya. Tara beranjak dari kursi, tapi matanya masih memeloti layar ponselnya yang bergeming. Begitu pintu peron dibuka, Tara bergegas keluar dan menaiki tangga-berharap centang satu di pesannya segera berubah menjadi centang dua atau centang biru.

"Kalau bisa centang biru please," gumam Tara penuh harap. Napasnya mulai pendek-pendek saking terburu-burunya menaiki eskalator. Suara heels-nya beradu dengan eskalator membuat dadanya seperti dipukul-pukul palu godam.

Tidaaaaaakkkk!!! Padahal ini sepatu kesayangannya. Tara mati-matian melunasi kartu kreditnya demi sepatu ini. Tapi sekarang, sepatu seharga dua setengah juta ini malah mesti adu ketahanan dengan benturan karena Tara sedang terburu-buru bagai orang yang dikejar deadline!

Yah, ini memang death-line-alias, garis kematian! Status kehidupan percintaan Tara sedang dipertaruhkan. Dan, Tara yakin tidak akan selamat kalau pesannya tak kunjung dibalas.

Gawat, ia terancam bakal menjadi jomlo of the year!

Amit-amit! Pokoknya, Tara menolak jadi jomlo lagi!

Ponsel di tangan Tara tiba-tiba berdenting. Sebuah notifikasi diskon tanggal kembar dari sebuah e-commerce favoritnya muncul di layar. Seketika itu juga, Tara tak bisa menahan diri lagi.

"GUE UDAH BELANJA!" seru Tara penuh emosi.

Tepat tengah malam tadi ia memang checkout beberapa barang incarannya. Tanggal kembar, gratis ongkir, diskon gede... wah, nikmat Tuhan mana lagi yang didustakan? Anggap saja sebagai self-reward. Ya, kan?

Lantas, Tara kembali mengecek ruang obrolannya dengan Rifki tapi... tidak ada perubahan juga.

"Pasti dia ketiduran deh!" Tara berdecak geregetan. Ia sudah hafal kebiasaan pacarnya yang selalu mematikan internet ketika tidur. Biar kualitas tidur bagus, katanya. Tapi di momen krusial seperti sekarang ini, kebiasaan Rifki justru membuat Tara darah tinggi. Kesal!

"Moga-moga uang dia nggak cukup buat bayar makanan atau minumannya hari ini!" rutuk Tara memelototi layar ponsel yang masih bergeming. Kemudian, "Jajan kopi dulu deh biar nggak bad mood banget!"

Sambil mendengus sebal, Tara menuju sebuah gerai penjual kopi tak jauh dari situ. Gerai kopinya tidak terlalu luas, malah cenderung sempit meski dikelilingi kaca tebal. Begitu memasuki gerai itu, Tara segera mengantre di barisan orang-orang kantoran yang tampaknya perlu membeli asupan pagi untuk memulai hari. Kepala Tara mendongak sedikit untuk membaca papan menu pada dinding di belakang kasir merangkap barista.

Love at RiskCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang