🌷Bab 2

19 4 0
                                    


"Kakak kenapa? Sembab banget mukanya? Apa kembaran kakak kenapa-napa lagi?" Tanya Yujin, anak didik bimbelku dengan raut polos campur penasaran. Aku tersenyum untuk menyamarkan wajahku yang memang terlihat kacau habis nangis, meski aku tau itu tidak bisa tertutupi.

"Fokus Yujin. Besok ulangan harian. Nanti aja nanyanya."

Yujin menghela napas berat.

"Capek kak. Kita istirahat bentar yah?"

"Kerjain dulu soalnya. Itu dua soal lagi, pasti keluar deh besok dengan format yang sama, hanya beda angka aja."

"Capek." Keluh Yujin sambil memasang ekspresi protes.

" Keluh Yujin sambil memasang ekspresi protes

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku menatapnya, tersenyum sabar.

"Dikit lagi. Kalo udah terserah mau ngobrol atau apa."

"Kakak pulang sejam lebih telat buat ngobrol sama aku ya tapi?"

"Hmm. Iya. Kerjain dulu sampe bener tapi. Inget-inget jalan pintas yang pernah kakak ajarin."

"Oke, Kak Kia!" Seru Yujin semangat. Ia berkutat dengan alat tulis dan bukunya lagi lalu fokus mengrjakan.

Kiara terkekeh diam-diam melihat Yujin. Anak itu memang senang kalau diimingi ngobrol denganku. Memang kami sudah seakrab itu. Katanya, hanya akulah orang yang paling enak diajak ngomong selain kakaknya. Selain itu tak ada lagi yang bisa diajak ngobrol mengingat sifat Yujin yang lumayan introvert, jarang ada yang bisa akrab dengannya. Terlebih keluarganya juga yang tipe sibuk yang lebih mementingkan pekerjaan dibanding bicara dengan dirinya. Wajar kalo Yujin senang diperhatikan oleh orang yang dianggapnya dekat dengannya.

Sembari mengamati Yujin mengerjakan soal, kuintip sesekali HP ku untuk melihat isi grup yang di dalamnya ada aku, Gyuvin, Geonwook dan Taerae. Mereka adalah sekawan yang sering bergantian membantuku menjaga Hao. Terkadang mereka sering ribut di grup membicarakan hal random, sembari saling menginfokan tentang kondisi Hao di rumah sakit seperti ini. Namun belum sempat kuselesaikan deretan chat guyon itu, Yujin tiba-tiba sudah meletakkan penanya.

"Kak Kia, Yujin sudah selesai."

Aku terhenyak karena waktunya tak sampai tiga menit untuk seukuran dua soal yang lumayan rumit. Aku lumayan terkesan. Yujin rupanya memang cerdas. Hanya saja selama ini dia kurang motivasi dan tidak ada minat belajar saja.

"Coba kakak koreksi dulu ya." Aku mulai memeriksa hasil pekerjaan Yujin. Sementara anak itu menaruh kepalanya di atas meja sambil mengamatiku yang sedang berkutat mengoreksi soal di sebelahnya.

Beautiful MazeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang