Chapter 18 "Kelompok Asing"

17 4 0
                                        

"Melepaskan musuh begitu saja adalah hal yang paling bodoh."
-Fairuz.
~•~
.
.
.
.
.

Keempatnya terdiam di atas bagian Goa yang terbuka.

Astara menahan tangan Eja dan Fairuz yang hendak maju menyelamatkan teman-teman nya, yang sedang bertarung melawan Buk Sari dan 5 orang asing itu.

"Sebentar, kita lihat situasi dulu." Astara menatap tenang keduanya. Ia tau, jika semuanya panik tidak akan ada jalan keluar dan hanya akan bersikap impulsif.

Astara tidak ingin melakukan kesalahan seperti dulu. Matanya sedikit bergetar saat mengingat nya.
'Sial, aku harus fokus.'

"Sabar? Kau gila, itu teman kit--" mulut Eja sudah terlebih dahulu ditutup oleh tangan Sisi.

Astara merasa hatinya lebih ringan saat Sisi mengerti tindakannya dan membantunya.

Mata Eja melebar reflek menepis tangan Sisi.

"Diam, Eja." desis Astara dengan mata yang biasanya Sayu dan kalem kini menjadi tajam.

Eja terdiam, ini pertama kali ia melihat Astara yang biasanya santai menjadi tajam.

Kemudian mata Astara menatap Fairuz yang diam, dia juga mengamati situasi.

"Fairuz, kamu tau siapa mereka?" tanya Astara yang kini sudah melepaskan tangan Eja dan Fairuz.

Astara duduk di atas atap Goa, memang posisi atap Goa nya sedikit miring, jika salah langkah bisa mati, ini sangat tinggi tapi tempat inilah paling bagus jika untuk mengamati situasi.

Tangannya membuka buku Destiny, tadi ia ingat nama salah satu dari 5 orang itu, Dion.

Halaman 4 terbuka, memperlihatkan nama Dion dan kemampuan nya yang sudah bangkit. Mind Control.

'Mind Control?' Mata Astara langsung mneyipit saat melihat seorang pemuda dengan Mata kuning seperti kucing dan kulit tan.

Fairuz mulai membuka mulutnya, "aku tau, mereka dari SMA yang terkenal brandal, kamu tau kan? Sma yang isinya anak-anak nakal. Di tengah dengan mata kuning itu Dion, dibelakangnya ada Udin, Kai, Bintang dan Tarana." Ucap Fairuz sambil menunjuk satu-satu.

Tangan Astara menyusuri halaman 4 mencari nama mereka. "Dion, kemampuan Mind control, Kurasa Buk Sari dikontrol oleh bajingan itu. Lalu Bintang dengan kemampuan Api dan terakhir Kai dengan kemampuan Data."

"Api? Mirip kemampuan Panji?" tanya Eja yang kini malah menatap penasaran.

"Iya, Kemampuan unsur adalah yang paling banyak. Air, api, angin, tanah. Itu kemampuan umum." Ucap Astara sambil membalik bukunya.

"Lalu punya ku? Bagaimana punyaku?" melihat tatapan puppy eyes dari Eja membuat Astara memalingkan mukanya. "Cuma kamu." jawabnya.

Astara menatap kebawah dimana teman-teman nya bertarung. Tanpa sadar Astara menggigit jari-jarinya sambil berfikir cara apa yang harus digunakan.

'Api berlawanan dengan air dan Mind control? Apa lawannya? Jelas mind control biasanya karna kita menatap mata atau terkena sentuhan dari pemilik kemampuan,kan? . Lalu data. Ini berbahaya, kemungkinan setiap orang yang dia lihat akan terbaca kemampuan nya.'
Pikiran Astara bergerak cepat saat mengamati situasi

"Mereka harus diikat. Raka, Vera dan Hazel."
Melihat Astara yang sibuk menggigit kulit mati di jarinya hingga berdarah membuat Sisi yang melihat nya memegangi tangan Astara.

"Oke oke, tapi cukup menggigit jarimu, Ra." Sisi menatap Astara kesal. Ia tau Astara sedang berfikir cepat dengan segala kemungkinan di otak nya.

Astara menghela nafas, membiarkan Sisi memegangi sebelah tangannya, sebenarnya Astara masih tergoda menggigit kulit mati di jarinya yang sebelah lagi, Tapi itu cukup, dia tidak ingin membuat masalah sekarang.

Our Stories : Island Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang