PROLOG

23.8K 730 24
                                        

Vote & Komen ya ♡

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Vote & Komen ya ♡

Yang belum follow cus di follow biar tidak ketinggalan.

_________________________________________


Pada salah satu ruangan pribadi di rumah sakit, seorang pria tengah berjuang menyelesaikan sesuatu yang terasa begitu canggung dan aneh. Dengan gerakan pelan, berangsur cepat dan terukur, dia menggerakkan tangannya sembari menatap layar televisi yang memutar video khusus untuk memancing gelora di dalam dirinya semakin memuncak.

Sungguh situasi yang sangat memalukan jika dipikirkan lebih jauh. Namun, apa boleh buat, pria berjas necis lengkap sedikit berantakan, dengan peluh yang perlahan keluar, harus menjalani serangkaian tes medis yang mengharuskannya berada dalam posisi serba tidak nyaman serta beban yang harus dia pikul di pundaknya.

"Sial, ini sangat memalukan." Suara beratnya akhirnya keluar walaupun disertai umpatan.

Tubuhnya spontan menyandar pada sofa, kepalanya mendongak menatap langit-langit yang didominasi warna cat putih dan bau obat-obatan.

Dia tetap berusaha memusatkan fokusnya, meski pikirannya berkelana tanpa arah. Pemeriksaan ini dia jalani bukan semata-mata demi kesehatan, melainkan demi reputasi, demi citra diri yang selalu dipertanyakan oleh orang tuanya dan juga orang tua sang istri. Di balik sikap tenang, berwibawa, tegas, bahkan terkesan acuh, dan tak peduli, terselip sebuah kebencian terhadap hubungan yang dia jalani tanpa benar-benar melibatkan hatinya.

Nafasnya kian memburu, semakin berat ketika tubuhnya merespon tak terkendali. Tangannya juga masih terus bergerak, semakin lama semakin cepat. Desahan tak tertahan lolos di bibirnya seiring sensasinya mendorong untuk ke puncak. Kelopak matanya terbuka cepat, tubuhnya bergerak. Dengan cepat dia mengambil wadah yang sudah diberikan oleh perawat tadi. Dia mengarahkan miliknya, cairan yang pria itu tunggu-tunggu akhirnya keluar ke wadah kecil. Itu adalah sperma yang akan diuji oleh lap sebagai prosedur pemeriksaan kesuburannya.

Sesaat setelahnya, dia terdiam. Dadanya masih naik turun, sementara perasaannya tak karuan. Manik mata perlahan turun, menatap wajah kecil di tangannya. Helaan nafas panjang keluar di akhir bersama dengan tangannya meraih tisu, membersihkan dirinya.

Benci sekali rasanya sampai dia ingin marah saat ini juga. Namun, dia harus memendamnya. Tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuk meluapkan kemarahannya.

Pria itu bernama Jeon Arion Deerwod, dia memang diam-diam pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes kesuburan. Akan tetapi keputusannya juga berasal dari dorongan orang tuanya. Mereka sangat menginginkan seorang cucu di tengah-tengah hubungan dengan sang istri yang hanya sebatas formalitas itu.

SINGLE MOOM'S? [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang