3. Mate?

789 66 2
                                        

Switch (Enigma)
.
.
.
.
.

Sekarang pembelajaran sudah kembali aktif seperti biasa. Guru-guru juga sudah mulai meberikan tugas-tugas kepada murid-muridnya.

Beberapa hari ini tidak ada yang menggangunya, kecuali feromon San. Entah kenapa feromon tersebut terasa sangat mengganggu indra penciumannya, disaat feromon teman sekelas lainnya tidak sama sekali tercium oleh hidungnya.

Puncaknya hari ini, feromon San lebih kuat dari biasanya. Feromon itu membuatnya sangat pusing sehingga Wooyoung tidak bisa fokus dengan pelajarannya.

Dengan mengumpulkan sedikit keberanian, Wooyoung berusaha memberanikan diri untuk berbicara dengan San.

"San!" Panggilnya pelan sembari menepuk pundak San.

Merasa seseorang menepuk pundaknya dari arah belakang, San kemudian menoleh kearah wooyoung yang ada di belakannnya.

"Maaf, bisakah kamu menahan sedikit feromonmu. A-aku sedikit terganggu dengan itu" Wooyoung berucap sedikit gugup, karena jujur saja Wooyoung sedikit takut dengan aura San yang berbeda dengan teman sekelasnya yang lain.

"Kau bisa menciumnya? Yang lain bahkan tidak merasa terganggu"

"T-tapi bisakah kamu menahannya sedikit?"

"Akan ku usahakan"

Tidak ada yang berubah, feromon San masih menusuk indra penciumannya bahkan sekarang terasa lebih menguar dari sebelumnya.

Aroma feromon San bukannya tidak enak, malahan ia sangat suka. Aroma pinus bercampur dengan mint yang segar. Namun rasanya sangat menusuk.

Ia berusaha meminimalisir aroma tersebut dengan menutup hidungnya menggunakan tangannya. Walaupun sedikit sia-sia, setidaknya aroma yang ia hirup tidak semenusuk sebelumnya.

• ° ♡ ° •

Bel istirahat berbunyi.

Wooyoung akhirnya bisa bernafas lega, karena pada akhirnya ia bisa terhindar dari aroma feromon San.

Sebelum menuju kantin, Wooyoung mampir sebentar ke toilet untuk buang hajat. Ia sudah menahannya sejak dikelas tadi, ia tidak enak dengan gurunya karena harus meninggalkan kelas.

Setelah selesai, ia berjalan menuju kearah wastafel untuk mencuci tangannya.

Disaat tengah mencucui tangan, hidung Wooyoung tak sengaja menangkap aroma yang cukup familiar didekatnya.

Wooyoung berusaha untuk tidak memperdulikannya, namun tiba-tiba saja sebuah tangan besar melingkar sempurna di pinggang rampingnya.

"Apa yang kau lakukan, San!?" Wooyoung terkejut dan berusaha melepaskan tangan San yang berada pingangnya.

"Tenanglah, tidak ada orang lain disini" Bisik San tepat di samping telinganya.

Wooyoung melihat kesekelilingnya, dan benar saja tidak ada orang lain selain mereka di toilet ini. Tentu saja para murid lain sedang fokus berebut makanan yang ada di kantin.

San membalikkan tubuh Wooyoung agar menghadap ke arah dirinya. Menghimpitnya kearah wastafel, lalu kemudian menatap lamat-lamat ke arah mata Wooyoung.

Tatapan dari San entah mengapa membuat jantung Wooyoung bergedup tidak karuan.

Tatapan keduanya terkunci cukup lama.

San lebih dulu memutuskan kontak mata antara mereka berdua. Ia kemudian meraih tangan kanan Wooyoung, lalu mengangkatnya ke atas.

"Seperti dugaan ku"

San kemudian menunjukkan pergelangan tangannya sendiri pada Wooyoung, dan membuat Wooyoung seketika membulatkan kedua matanya.

Tanda yang sama, ditempat yang sama.

San adalah matenya.

"Aku bahkan tidak pernah mengeluarkan feromonku di kelas, tapi kau bisa menciumnya"

"Tapi aku alpha..." ucap Wooyoung lirih sembari menundukkan kepalanya

"Kau tidak mungkin bodoh sekarang, kau sudah pasti bisa menebak kalau aku seorang..."

"...Enigma"

San sengaja mengucapkan kalimat terakhirnya tepat di telinga Wooyoung dan dengan nakalnya ia meniup area telinga Wooyoung.

Hal tersebut mengundang geli pada tubuh Wooyoung, dan membuatnya sedikit menggeliat.

"Baumu manis, aku suka!"

Setelah melakukan hal tersebut, San kemudian pergi meninggalkan Wooyoung yang masih dengan keterkejutannya sendirian di toilet.

• ° ♡ ° •

"Baik semuanya, sesuai dengan kelompok yang telah dibagi. Silahkan kalian selesaikan tugasnya, dan kumpulkan ke saya pada pertemuan selanjutnya. Karena saya sedang ada urusan, kalian bisa berdiskusi sekarang dengan kelompok kalian. Saya permisi!"

Setelah sanang guru keluar, semua orang di kelas mulai berkumpul sesuai dengan kelompok mereka masing-masing untuk membahas tugas yang telah diberikan, karena jam pulang masih sekitar satu jam lagi.

Kelompok Wooyoung sudah berkumpul semua di dekat tempat duduknya. Ada San, Mingi, Soobin, Juyeon, Yeji, Karina, dan juga dirinya.

San? Ya, Wooyoung satu kelompok dengan San. Jujur Wooyoong sangat malas jika harus satu kelompok dengan San, tapi mau bagaimana lagi jika kelompoknya sudah di tentukan.

Entah apa yang dirasakan Wooyoung tentang San, rasanya ia malu, marah, dan juga takut kepada San karena kejadian di toilet saat istirahat tadi.

"Jadi gimana nih? Mau dimana ngerjainnya?" Tanya Yeji.

"Ada yang mau suka rela nampung nggak nih?" Kali ini Mingi yang bersuara.

"Aku nggak bisa, soalnya rumah mau dipake buat pertemuan" sahut Karina.

"Di tempat ku boleh aja sih, tapi kasian kalian kalau jauh"

Pack Yeji berada di paling pinggir kerjaan Eldoria dan sangat jauh dari pusat kota. Pack Valoris, pack yang dikenal sebagai penghasil para ksatria terbaik. Yeji setiap harinya harus berangkat sangat pagi agar tidak terlambat ke sekolah.

"San, kamu bisa nggak? Sekalian ajak kita-kita keliling Istana" ini ide Mingi. Kebetulan Mingi dan San sudah lumayan akrap dari lama.

"Aku baru inget kalau satu kelompok sama Putra Mahkota" celetuk Soobin

Wooyoung yang awalnya hanya diam mendengarkan percakapan teman-temannya, tiba-tiba menunjukan ekspresi terkejut ketika mendengar ucapan Mingi dan Soobin. Istana? Putra Mahkota?

"Terserah kalian ajalah" ucap San

"Hari minggu gimana? Pada bisa kan?" Yeji memastikan, dan semua mengangguk tanda setuju.


Tbc.

Banyak typo, soalnya ngetik sambil setengah merem😁
Btw, alurnya cepet aja ya, soalnya cuma short story
Semoga suka...

Switch (Enigma)🔞 Short {Sanwoo}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang