" Kenapa kamu selalu melibatkan saya?"
•••
Arumi membuka mata dengan perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah jendela.
Sekujur tubuhnya kaku. Dan jangan lupakan tenggorokan yang kering serta terasa gatal.
Sebenarnya apa yang terjadi padanya?
Seingatnya tadi ia sedang berada di depan hotel, menunggu kehadiran Alaska.
Arumi menatap setiap sudut ruang, dan ia tidak menyadari bahwa sekarang dirinya sedang berada di rumah sakit. Matanya seketika menangkap seseorang yang tengah duduk di sofa empuk. Mengapa tatapan seseorang itu kosong?....tatapan yang membuat ia khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Saat Arumi hendak berbicara, memanggil seseorang itu, suaranya tak kunjung keluar. Tak kehabisan cara untuk mengalihkan perhatian seseorang itu, tangannya terangkat mencoba meraih gelas berisi air.
Sretttt...
Gelas yang ia coba raih menimbulkan bunyi yang akhirnya mengalihkan perhatian Alaska. Ya, seseorang itu tak lain adalah Alaska.
Dengan gerakan bibir pelan Arumi berucap " M-minum..."
Alaska terdiam sejenak sebelum beranjak dari sofa. Ia mendekat kearah brankar, sebelum menyodorkan gelas air ia terlebih dulu membantu Arumi untuk bisa bersandar.
" Makasih, mas. " kata Arumi. Suaranya sudah bisa keluar walaupun terdengar begitu serak.
" Ya."
Beberapa saat terdiam dalam keheningan, Arumi memberanikan diri untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
" Kamu tanya kenapa? " Alaska terkekeh sinis. " Makan banyak udang. Sudah tahu punya alergi. "
"Akal sehat kamu udah ilang ya? "
" Mas, A-aku gatau---"
" Kerjaan kamu biasanya cuman nyusahin saya. " potong Alaska menatap tajam.
Arumi tak menghiraukan ucapan pedas yang keluar dari bibir Alaska.
Ia baru tersadar akan sesuatu...
" A-anak aku!?" Arumi meraba-raba perutnya panik. Air matanya perlahan mengalir dengan deras. Ia menatap Alaska dengan sendu, menuntut jawaban.
Alaska menatap dingin. " Saya kira kamu melakukannya cudengan sengaja.
Alaska menghembuskan nafasnya mencoba sabar. " Tenangkan dirimu, dia baik-baik saja. "
Bukannya mereda, tangis Arumi semakin pecah.
"S-selama ini a-aku nggak punya alergi terhadap apapun. Aku beneran gatau kalau alergi sama udang..hiks.. sama sekali nggak terlintas dalam benakku buat nyakitin anak aku sendiri.. hiks.. " kata Arumi terisak takut.
"Apa yang sakit? " alih Alaska setelah tangis wanita itu sedikit mereda.
"Tenggorokan.. " cicitnya.
Alaska mengambil wadah berisi bubur lalu menyodorkan kehadapan Arumi. " Makan. " titah Alaska mengalihkan pandangannya ke samping.
" Suapinn ?" pinta Arumi tanpa ragu.
Alaska sempat tercengang mendengar permintaan itu. Ia berdeham kembali merubah raut wajahnya.
" Tangan kamu ikutan sakit? " sindir Alaska sambil memutar bola matanya. Arumi memanfaatkan keadaan, pikirnya.
" Iyaa, mau yaa?" mata Arumi berbinar menatap Alaska penuh harap.
" Saya sibuk. "
Arumi kembali mengeluarkan air matanya. Hormon hamil membuat dirinya mudah sekali menangis, bahkan dengan hal-hal yang terbilang kecil.
hikss...
Alaska lagi-lagi menghembuskan nafasnya. Isak tangis wanita itu membuat Alaska terpaksa mengambil wadah berisi bubur yang sempat ia taruh tadi.
Arumi menghapus air matanya cepat lalu ia tersenyum puas.
" Nyusahin. " sinis Alaska. Meski begitu ia dengan telaten menyuapi Arumi.
" Terimakasiiih, maaf aku ngerepotin kamu. " ucap Arumi usai memakan lahap bubur yang disuapi oleh Alaska. Arumi senang.
" Hm. "
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
ARUMI [HIATUS]
ChickLit"Tolong, jangan hancurin masa depan yang udah lama saya rancang bersama, Maureen. " • • • • • ⚠️JANGAN COBA-COBA MENDEKAT KALO CUMAN MAU PLAGIAT/MENJIPLAK KARYA KU. HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH TUHAN.
![ARUMI [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/339442787-64-k692745.jpg)