Chapter 7 [revisi]

43 10 0
                                        

Suasana di ruang keluarga itu begitu mencekam, seolah beban yang melingkupi para penghuni apartemen semakin berat. Tak ada yang berbicara, hanya suara detak jam yang berdetak keras menembus hening. Masing-masing dari mereka tenggelam dalam pikiran sendiri. Malam sebelumnya, teror yang mereka alami seakan menggantung, meninggalkan rasa cemas dan tak percaya. Mereka datang ke sini untuk berlibur, namun sekarang semuanya berubah menjadi ketegangan yang tak terbayangkan.

Perasaan cemas itu begitu menekan, hingga lamunan mereka pecah oleh suara bel yang tiba-tiba menggema di tengah kesunyian.

DING! DONG!

Gempa yang duduk di kursi sebelah jendela bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu dengan perlahan. Di hadapannya, berdiri dua sosok remaja perempuan, sepertinya seusia dengan mereka.

"Hallo," sapa salah satu remaja perempuan yang membawa sebuah bakul.

"E-e, hai," jawab Gempa, sedikit gugup. "Siapa ya?" tanyanya, bingung.

"Oh, kami baru pindah kemarin. Ini ada sedikit biskuit buatan aku dan adikku, sebagai perkenalan," ucapnya sambil menyerahkan bakul itu.

Gempa menerima bakul tersebut dengan senang hati, lalu mempersilakan mereka masuk ke dalam apartemen. Tentu saja, mereka tidak bisa menolak keramahan yang diberikan oleh dua perempuan itu.

"Siapa, Gem?" tanya Halilintar, yang sedang duduk di ruang tamu.

"Ini kakak, tetangga baru," jawab Gempa sambil tersenyum.

"Hallo, nama aku Liona, dan ini adikku Marsya," ucap perempuan itu dengan lembut.

"Eh, kalau gitu kita pamit ya. Jangan lupa dimakan biskuitnya," tambah Marsya, sambil menarik tangan kakaknya pergi.

Gempa mengantar keduanya keluar, dan setelah itu kembali ke ruang keluarga. Ia duduk bersama teman-temannya yang sedang menikmati biskuit yang dibawa oleh Liona dan Marsya. Taufan, yang duduk di sebelah Yaya, menyarankan agar Yaya belajar membuat biskuit seperti mereka.

Namun, waktu berlalu begitu cepat. Matahari mulai memancar dengan teriknya, menandakan bahwa siang telah tiba. Gempa, yang sebelumnya sedang berkutat di dapur, kini merasa ada yang tidak beres. Tiba-tiba, angin muson bertiup kencang dan pintu apartemen terbuka.

"Gempa, Gempa!" suara Taufan memanggilnya seperti anak kecil yang ingin manja pada ibunya.

"Apa, Kak?" jawab Gempa dengan sabar, meskipun pandangannya masih tertuju pada masakan yang sedang ia buat.

"Izin keluar, mau beli snack," kata Taufan dengan cepat.

Gempa mengangguk tanpa banyak berkata, dan Taufan pun segera bergegas pergi. Tak lama setelah itu, Gempa memanggil Taufan lagi.

"Kak," panggil Gempa, menahan Taufan yang baru saja berbalik.

"Apa lagi, Gem?" jawab Taufan dengan heran.

"Tolong pulangin bakul punya Liona dan Marsya ya," kata Gempa dengan tenang.

"Oke," jawab Taufan sambil berlalu cepat, meninggalkan Gempa di dapur.

Beberapa saat kemudian, hal yang tak terduga terjadi. Halilintar, abang tertua Gempa, tiba di apartemen dengan langkah tergesa-gesa.

"Gempa, kita mau keluar jalan-jalan, lo mau ikut?" tanya Halilintar, sambil tersenyum lebar.

Gempa berpikir sejenak. Meskipun ia ingin ikut, rasa gelisah yang tiba-tiba muncul membuatnya menggelengkan kepala. "Tidak usah, kalian saja yang pergi," jawabnya.

Halilintar dan yang lainnya mengangguk setuju. "Oke, Kak Gemgem, bye," ucap mereka sebelum beranjak pergi.

Sekarang, apartemen nomor 105 terasa sepi. Hanya ada Gempa yang duduk sendiri di ruang tamu, menikmati keheningan yang sepertinya membawa ketenangan. Namun, perasaan gelisah yang tak terjelaskan masih menghantuinya. Jam menunjukkan pukul 17.30, dan ia merasa ada yang tak beres. Taufan dan yang lainnya belum juga pulang.

Tiba-tiba, suara bel terdengar lagi, menggetarkan suasana yang sudah tegang.

DING! DONG!

Gempa terkejut dan segera bangkit, menuju pintu. Ketika pintu dibuka, ia melihat dua perempuan yang sama yang ia temui pagi tadi—Liona dan Marsya—berdiri di depannya. Kali ini mereka membawa bakul lagi.

"Eh, Liona... Marsya, ada apa?" tanya Gempa, kali ini lebih tenang meskipun sedikit bingung.

"Enggak kok, ini kami antar biskuit lagi. Tadi katanya Taufan ingin lagi," jawab Marsya sambil tersenyum, diikuti anggukan Liona.

Gempa memandang kedua perempuan itu dengan cermat. Bukankah Taufan sudah membawa bakul mereka tadi? Namun, dengan sikap sopan, ia menerima bakul itu lagi. "Ih, padahal masih lo yang tadi, ini dikasih lagi, btw makasih ya," ucap Gempa sambil mempersilakan mereka masuk.

Kali ini, Liona dan Marsya duduk lebih lama di ruang tamu, lebih santai. Bakul itu diserahkan pada Gempa, dan Marsya menyuruhnya untuk membuka bakul tersebut.

"Bukalah," ujar Marsya dengan senyuman yang sulit diartikan, senyum yang tak seperti biasanya.

Gempa terdiam sejenak. Namun, ia akhirnya mengambil bakul tersebut dan membuka penutupnya. Begitu bakul itu terbuka, bau tak sedap menyengat indera penciumannya, aroma busuk yang bercampur dengan bau anyir yang membuat perutnya mual.

Tiba-tiba, kedua perempuan itu memberi isyarat dengan mata mereka, seolah meminta Gempa untuk mencoba biskuit yang ada di dalamnya. Gempa merasa mual, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.

Dengan keberanian yang luar biasa, Gempa mengambil satu biskuit dan menggigitnya. Namun, begitu rasa biskuit itu menyentuh lidahnya, ia langsung memuntahkannya kembali. Rasa yang tak terdefinisikan—pahit, amis, dan sangat menjijikkan. Matanya terbelalak, dan tubuhnya mulai gemetar.

"Kenapa Gempa? Apa tidak enak?" tanya Marsya dengan senyum yang mengerikan.

Gempa mundur sedikit dari kursinya, mencoba menghindar dari mereka. "Apa ini?!" teriaknya dalam hati.

"Padahal itu biskuit spesial, lo," ujar Liona dengan senyuman yang semakin lebar. "Karena itu terbuat dari daging Taufan," sambungnya, sambil tersenyum penuh kepuasan.

Mendengar itu, Gempa tak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Matanya semakin membelalak, mulutnya kering, dan tubuhnya mulai lemas. "M-maksudnya?" tanyanya dengan suara gemetar.

Liona dan Marsya hanya tersenyum lebih lebar. "Dia bilang ingin membantu membuat biskuit kami, jadi... kami turuti saja," ujar Liona dengan senyum psikopat, puas dengan ekspresi ketakutan yang muncul di wajah Gempa.

"Tunggu, tunggu, ini..." Gempa mundur beberapa langkah lagi, ketakutan semakin merasuk ke dalam dirinya.

"Tidak usah takut, Gempa," ujar Marsya sambil berdiri, mendekatkan dirinya pada Gempa. "Sekarang giliranmu."

Gempa terperangah, dan perasaan ketakutan mulai menguasai dirinya. "M-marsya, m-mundur, jangan dekati aku!" teriak Gempa dengan suara yang bergetar hebat. Ia mundur selangkah demi selangkah, berusaha menjauh dari mereka.

"TIDAK! TIDAKKKK!" teriak Gempa, namun semuanya sudah terlambat.

Marsya sudah berada di depannya, dan Liona sudah siap untuk melangkah lebih dekat.

Gempa berlari, mencoba melarikan diri, tapi semuanya terasa sia-sia.

DU APARTEMEN ✅ Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang