34. Another Fact

13.7K 887 213
                                        

Florisha melangkahkan kakinya, membuka pintu toilet khusus wanita tersebut dan alangkah terkejutnya saat ia langsung berhadapan dengan Misya yang menampilkan wajah panik serta napasnya yang terengah-engah. Gadis dengan kulit putih itu juga terkejut saat melihat Florisha namun, detik kemudian, ia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Fadel.

Saat melihat Fadel yang tengah memeluk kedua kakinya dan terduduk di lantai dari kejauhan, Misya kembali menatap Florisha dengan tatapan tajam, matanya membulat sempurna. "Lo apain Fadel?!"

Florisha terkekeh pelan. "Lo cuma anggota baru. Lo gak perlu tau apa yang udah terjadi." Gadis mungil itu kembali melangkahkan kakinya, tetapi Misya menahan lengannya, menariknya dan kembali menatapnya tajam.

"Kenapa lo lakuin ini, Florisha? Lo apain Fadel?"

Florisha menepis dan menarik paksa lengannya. Gadis itu mendekat, sedikit berjinjit agar dapat berbisik kepada Misya. Gadis itu membisikkan, "kalo lo emang penasaran, coba aja tanya ke orangnya langsung tentang apa yang terjadi tiga tahun lalu." Usai membisikkan hal tersebut kepada Misya, Florisha kini benar-benar melenggang pergi.

Misya mengerutkan keningnya heran. Apa maksud ucapan Florisha? Apa yang terjadi pada tiga tahun lalu? Mengapa hal itu membuat Fadel terlihat begitu tersiksa karenanya?

Tak ingin terus berpusing ria, gadis putih itu segera menghampiri Fadel kemudian memeluknya erat. "Del! Kenapa? Apa yang dia lakuin sampe bikin lo kaya gini?" panik Misya kemudian menangkup wajah Fadel, menyeka air matanya yang terus terjun. "Fadel! Ada apa?!"

Fadel menggeleng pelan. "S-Sya, gue brengsek, Sya," ucapnya tergagap seraya terisak. Tubuhnya terasa menggigil, lidahnya kelu, bahkan sepertinya ia akan kehilangan suaranya. "S-semuanya ... salah gue, S-Sya."

Misya menggeleng cepat. "Gak, Fadel. Shhh, lo gak salah." Misya kembali memeluk gadis tomboy itu erat, berusaha menenangkan. "Fadel, kamu gak salah. Enough, Del," lanjutnya seraya mengecup pucuk kepala Fadel lembut. "Lupain rasa sakit itu, Fadel."

"Lo gak tau apapun, Sya!" bentak Fadel, sedikit mendorong Misya menjauh. "Lo gak tau apapun tentang masa lalu gue. Lo gak tau apa yang Florisha alamin karena kebodohan gue. Lo gak ngerti apa pun!"

Misya terdiam kala Fadel mulai meninggikan nada bicaranya. Selama dua tahun mengenalnya, Misya tak pernah melihat Fadel yang menaikkan nada bicaranya. Misya mengenal Fadel sebagai pribadi yang pendiam dan hanya aktif saat bermain bola basket. Kemana Fadel yang selalu tenang? Kemana Fadel yang periang dan jenaka?

"Del ... "

"Lo gak ngerti, Misya! Lo gak tau apa pun!"

Fadel kembali terisak seraya memukul kepalanya kuat berkali-kali. Dengan cepat Misya menahan kedua tangannya agar berhenti memukul dirinya sendiri. "Fadel! Stop!"

"Lo gak tau alasan kenapa orang tua gue nyuruh gue untuk les setiap hari, lo gak tau alasan kenapa gue main basket setiap ada kesempatan, lo gak tau alasan kenapa gue melukis dan menggambar setiap saat, lo gak tau kenapa gue selalu ngelak dan takut buat berhadapan sama Florisha. LO GAK TAU APAPUN TENTANG GUE, SYA!"

Misya menangkup kemudian mengecup lembut bibir Fadel, membuatnya terdiam dengan mata yang membulat sempurna. Misya terus menempelkan bibirnya pada bibir Fadel seraya mengusap wajah serta rahangnya lembut, menghapus air matanya. Setelah beberapa saat, akhirnya gadis itu melepaskan ciuman itu.

Fadel bungkam seribu bahasa. Gadis tomboy itu hanya menatap Misya dalam dengan alis yang berkerut. Bahkan, tanpa ia sadari tangisnya berhasil berhenti. Fadel mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya gadis itu mengalihkan pandangannya dari wajah Misya.

OBSESSED I (END) || KathGitsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang