—18. Terjebak
Dari kejauhan, terlihat Hazel dan juga Rachel tengah melakukan pengambilan rekaman. Hazel menoleh dengan wajah datar serta tatapan tajam. Tatapan yang mulanya menatap lekat wajah dan mata Rachel, kini beralih turun menatap jemari yang menggenggam pergelangan tangannya erat. Hazel melepasnya secara perlahan.
"Maaf, aku udah kenyang," ucapnya kemudian melenggang pergi.
"Mau sampai kapan kamu ngejar Misya yang jelas-jelas udah suka sama orang lain, Hazel?" ucap Rachel lantang, membuat Hazel terdiam dan menghentikan langkahnya. Gadis itu membalikkan tubuhnya, kembali berjalan menghampiri Rachel.
"Kamu gak bisa suka sama aku aja, Zel?"
"Aku gak pernah larang kamu untuk suka sama siapapun, tapi tolong. Jangan jatuh cinta sama aku, Rachelia Wisesa," jelasnya tegas.
"Cut!"
Hazel menghela napasnya panjang kemudian berjalan mendekat kemudian memeluk Rachel erat. "Good job, Shel! Sorry if it hurts you, ya?" Hazel menenangkan Rachel walaupun gadis itu tidak menangis.
Rachel menunjukkan wajah sedihnya yang ia buat-buat. "Ditolak terus, huhuhuuu. Terima aku, please!"
"Gak bisa sekarang hahah! Kak, liat tuh, Kak. Masa ngelunjak hahah," ucap Hazel seraya menatap kamera yang menyala. "Kapan-kapan yaa, Shel. Di script soalnya kita emang gak akan pernah jadian sampai akhir."
"Parah nih. Padahal kita kan chemistry-nya udah dapet banget!"
(beep!)
Dari kejauhan terlihat Fadel, Misya, dan juga Clara yang tengah duduk bertiga di sofa panjang di dalam ruangan khusus milik "The Pillars". Ketiganya sama-sama memegang kertas naskah dan mendengarkan secara seksama arahan dari salah satu staff. Mereka sesekali memgangguk dan kembali membaca kertas yang mereka genggam.
"Halooo, lagi pada ngapain nih? Spill dong!"
Baik Fadel, Misya, dan juga Clara, ketiganya menoleh dan tersenyum secara serentak. Misya melambaikan tangannya kepada kamera, sedangkan Clara jahil sembari menjulurkan lidahnya guna meledek para pembaca.
"Halooo," sapa Fadel dengan suara berat khasnya. "Kita disini lagi mau take scene buat nyari siapa pelaku yang selalu terror kita nih!" Fadel mengangkat kertas yang ia pegang, menunjukkan ketebalan naskah tersebut ke arah kamera. "Perjalanan kita masih panjang, kira-kira bakal ketemu gak ya pelakunya?"
Hazel yang baru saja datang segera berucap, "Pasti ketemulah! Cape banget kalo gak ketemu," celetuknya kemudian ikut duduk tepat di sebelah Misya. Gadis itu menyandarkan kepala pada bahunya, membuat Fadel melirik kilas kemudian menggeleng.
"Pssst! Kak, padahal lebih banyak yang setuju kalo Hazel sama Misya tau," bisik Clara ke arah kamera. Ia duduk pada sisi ujung bagian lainnya, tepat di sebelah Fadel.
"Yaudah, mau gimana lagi? Kan di script-nya begitu. Kita mah ngikut aja sama authornya," balas Misya tak acuh. "Toh jadi bisa deket sama dua-duanya, wle!" Misya yang duduk tepat di antara Fadel dan Hazel kini memeluk tangan keduanya erat sembari menjulurkan lidahnya, meledek.
"Jadi kalian tim DelSya atau ZelSya, nih?" tanya Hazel, membuat keempatnya tertawa secara serentak.
(beep!)
"Guys, liat deh. Isi kameranya Fiona masa random gitu. Terus, ada fotoku juga weh!" ujar Freya antusias. Fiona yang duduk tepat di samping Freya hanya menaikkan bahunya tak acuh. "Kamu kaya stalker gitu ya ceritanya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED I (END) || KathGits
Fanfiction"I think ... I like you." - Kathrina. "You make me hate you the most." - Gita. Pernahkah kalian membayangkan kehidupan kalian yang mulanya sederhana dan menyenangkan, tiba-tiba berubah menjadi mewah namun begitu menyesakkan? Mulai dari masalah kelua...
