00. Prolog

54.5K 1.9K 30
                                        

Malam itu, di dalam sebuah penthouse mewah, suara gelak tawa dari lima gadis terdengar memenuhi ruangan. Mereka merayakan hari ulang tahun salah seorang gadis tomboy yang dilakukan secara tertutup dan eksklusif. "Cheers!" teriak gadis dengan rambut panjang lurus. Kelimanya menabrakkan gelas yang mereka genggam satu sama lainnya secara bersamaan, menimbulkan suara nyaring.

Mereka bersulang, merayakan hari ulang tahun temannya dengan begitu fantastis. Mulai dari memainkan sebuah golf mini dan menggunakan uang sebagai bola golf-nya, salah satu gadis lainnya ada yang memainkan tembakan mainan yang dapat mengeluarkan uang, membuat mereka merasa seperti sedang dihujani uang. Dan sisanya ... hanya menertawakan tingkah konyol teman-temannya itu.

"Woohoo!"
"Yash, Gurl!"
"Kurang gak sih uangnya?"
"Tambah lagi dong!"
"Let's party tonight, Guys!"

Menjadi kaya merupakan suatu keinginan semua khalayak ramai. Begitu pula dengan kelima gadis yang sedari tadi sedang menjadikan uang sebagai bahan mainannya. Bermanjakan harta berlimpah sejak kecil, membuat mereka dapat terus berfoya-foya sesuka hati mereka. Sama sekali tidak khawatir kala menghamburkan semua uang yang mereka punya.

"Tiup lilinnya, Del!" ujar gadis berambut panjang bergelombang. Gadis yang disuruh olehnya pun segera meniupkan lilin di atas kue ulang tahunnya tersebut. Namun, kue itu tidak terlihat seperti apa yang biasa kalian lihat.

Kue ulang tahun yang terbuat dari puluhan bahkan ratusan gulungan uang. Gulungan itu disusun sedemikian rupa agar terlihat seperti sebuah kue yang tentunya tidak dapat mereka makan. Mereka hanya menjadikannya sebagai properti, hanya untuk meramaikan acara. Selebihnya, mereka kembali bernyanyi, menari, dan berbahagia kala merayakan hari penting itu.

Bagi mereka, uang adalah segala yang mereka butuhkan. Memiliki orang tua yang sangat kaya, membuat mereka bepikir seolah-olah dunia telah berada di dalam genggaman tangan. Dengan kekayaan yang mereka miliki, tentu mereka dapat membeli semua hal dan memenuhi seluruh keinginan mereka, bukan?

Harta? Tahta? Kekuasaan? Atau bahkan ...

Cinta?



Pernahkah kalian berpikir bahwa hidup kalian sudah terasa amat sangat sempurna ... bahkan disaat kalian memiliki cukup banyak masalah dan kekurangan? Mungkin, itulah hal yang dirasakan oleh gadis cerdas penerima beasiswa bernama Gita.

Regita Sekar Adhyaksa.

"Ma, aku berangkat dulu ya," serunya sembari memakai sepasang sepatunya. Setelah selesai, ia segera bangkit berdiri untuk berangkat, tak lupa mengecup kedua pipi sang ibu sebelum ia keluar rumah untuk berangkat ke sekolah.

Ia merupakan gadis yang memiliki banyak kekurangan, namun semua kelebihan yang ia miliki mampu menutupi semua hal tersebut. Hampir segala hal dapat ia lakukan sendirian, tanpa bantuan siapa pun. Ia sangat mandiri karena didikan yang sangat baik dari sang ibu. Membuatnya tidak mudah patah semangat, terlebih hanya karena hal kecil.

Kecerdasannya berhasil membuat sang ibu turut bangga kepadanya karena gadis manis itu selalu mendapatkan beasiswa karena hal tersebut. Piala, sertifikat, dan berbagai pernghargaan lainnya berhasil memenuhi lemari kaca. Tak pernah sekalipun ia mengeluh dalam belajar, karena mempelajari hal baru adalah satu hal yang sangat ia gemari. Sejak kecil, ia selalu menerapkan motto hidup.

"Belajar atau berhenti."

Sesekali, gadis itu melirik kilas jam tangannya sembari berlari karena tidak ingin terlambat ke sekolahnya. Hari ini, merupakan hari terakhir ia bersekolah sebagai siswi kelas sepuluh. Jujur saja, ia sudah tidak sabar untuk melanjutkan kehidupannya sebagai siswi kelas sebelas.

"Halo, Dea!" sapanya begitu sumringah saat melihat teman sebangkunya sedang memainkan ponsel di tangan kirinya.

Dea menoleh, membalas sapaannya, "Eh, halo Gita. GIT, TAU GAK?" Gadis itu membalas senyum Gita tak kalah sumringah kemudian menarik salah satu tangan Gita agar gadis itu segera duduk di sampingnya. "SINI, DUDUK!"

Gita pun mengikuti keinginan Dea dengan duduk di sebelahnya. "Kenapa? Ada berita apa pagi-pagi gini?" ucapnya bertanya seraya meletakkan tasnya di atas meja.

"Kamu peringkat satu lagi di sekolah ini! Keren banget dua semester berturut-turut loh kamu peringkat satu paralel." Dea mengguncang bahu Gita girang, membuat Gita ikut tersenyum bahagia saat mendengarnya.

"OHYA? Makasih loh udah dikasih tau. Siapa dulu partner belajarnya?" goda Gita dengan senyum yang menyebalkan, tak lupa menaik-turunkan alisnya kemudian terkekeh pelan.

Kini, Dea pun ikut tersenyum saat mendengar ucapan Gita. "Ah, bisa aja kulkas seribu pintu," gumamnya malu-malu. Gadis itu mendorong pelan tubuh Gita untuk menjauh darinya.

"Makasih ya, Dea karena udah selalu ada buat aku." Gita mengusak rambut Dea yang dibalas anggukkan olehnya.

"Git, ayo sama-sama terus sampai akhir," pinta Dea. Gita pun mengangguk cepat menyetujui permintaan gadis di hadapannya.

Lingkungan sekolah yang bagus, teman yang baik, rumah yang hangat, dan juga segala prestasi yang Gita punya, semuanya sudah sangat cukup baginya. Apalagi hal lain yang ia butuhkan? Tidak ada. Hidupnya sudah sangat sempurna.

Namun, apakah kehidupannya akan terus menerus berjalan seperti yang ia inginkan?

Atau ... kelak akan berubah menjadi lebih buruk?



















Author notes.
Halo! Senang bertemu kalian semua. Ini bukan karya pertama saya. Namun, ini adalah karya pertama yang saya publikasi. Semoga kalian menyukai cerita ini dan terus setia mendukung sampai akhir.

Mohon untuk tidak membawa nama tokoh ke dunia nyata terlebih menyangkutpautkan dengan kehidupan nyatanya yaa. Terimakasih atas perhatiannya. Sampai jumpa pada lembar berikutnya.

Salam hangat, Naell.

OBSESSED I (END) || KathGitsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang