6

129 23 11
                                        

Perjalanan ke pesta berlangsung dengan lancar. Saat mobil melaju di tengah gemerlap kota yang mulai gelap, Gulf mempersiapkan diri untuk menanggapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Mungkin malam ini bukan hanya tentang menggantikan ibunya, tapi juga tentang menciptakan kesempatan baru dan memperluas jaringan dalam lingkup bisnisnya.

Tiba di lokasi pesta, Gulf disambut dengan hangat oleh tuan rumah dan tamu-tamu yang hadir. Dia mencari-cari wajah yang dikenal, sambil tetap memperhatikan lingkungan sekitar dengan hati-hati. Acara berlangsung meriah, dengan musik live yang mengalun lembut di udara, menciptakan atmosfer yang elegan dan berkelas.

Gulf berusaha untuk tetap profesional, menjalin percakapan dengan berbagai tamu yang hadir. Namun, di dalam hatinya, dia tetap berharap untuk bertemu dengan pianis yang mungkin akan tampil di acara ini.

Gulf memandang dengan kagum ketika pianis itu memasuki ruangan, menyaksikan dengan penuh perhatian saat jari-jari mahirnya menyentuh tuts piano dengan gemulai. Sementara itu, Gulf dengan hati-hati memanggil seorang pelayan, membisikkan sesuatu ke telinganya dengan serius.

"Pastikan kau mengurusnya dengan baik," bisik Gulf dengan tegas, matanya menyala dengan kegembiraan yang tersembunyi.

Pertunjukan berakhir, dan pianis itu berdiri dengan anggun di hadapan para penonton, senyum mempesona terukir di wajahnya. Namun, ketika seorang pelayan bergerak mendekat untuk membersihkan meja, kecelakaan tak terhindarkan. Pisau makan yang dibawa pelayan itu meluncur dari tangannya, melukai lengan pianis dengan lembut.

"Astaga! Maafkan saya, tuan!" teriak sang pelayan, wajahnya penuh penyesalan sementara dia menunduk.

Darah menetes dari luka kecil di lengan pianis itu, tetapi dia hanya tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja," jawabnya dengan suara lembut.

Dari balik sorotan lampu, Gulf menyaksikan adegan itu dengan senyum misterius yang tak terbaca. "Dia berakting dengan bagus" gumamnya puas, merencanakan langkah-langkah selanjutnya dalam permainan tak terlihatnya.

Meskipun sempat terjadi kegemparan karena kecelakaan kecil yang menimpa pianis, kerumunan tetap bersemangat dan pesta berlanjut dengan lancar. Suara tawa dan candaan memenuhi ruangan, melengkapi alunan musik yang mengalun lembut dari panggung.

Di tengah keriuhan, Gulf dengan gesitnya menghilang dari perayaan itu, memilih untuk mengakhiri kehadirannya setelah merampungkan rencananya. Dia melangkah keluar dari kerumunan dengan langkah mantap, senyumnya yang khas terukir di wajahnya dengan penuh keyakinan.

"Tuan Gulf, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya seorang pelayan dengan cemas, menyadari bahwa tuannya sedang meninggalkan pesta dengan cepat.

Gulf mengangguk ringan, "Tentu saja, semuanya baik-baik saja. Terima kasih atas keramahannya."

Para tamu yang lain sibuk dengan obrolan mereka sendiri, tak menyadari kepergian tiba-tiba tuan rumah. Meskipun begitu, kehadiran Gulf meninggalkan kesan yang dalam di hati mereka, seperti bayangan misterius yang mengawasi setiap langkah mereka.

Di luar, dalam kegelapan malam, Gulf tersenyum puas. "Semua berjalan sesuai rencana," bisiknya kepada dirinya sendiri, menghirup udara malam dengan lega. "Sekarang, saatnya untuk langkah selanjutnya." Dengan langkah mantap, dia menghilang di balik bayang-bayang kota yang gemerlap.

~~~

Di kantin kampus yang ramai, Gulf, Gun, dan Win duduk bersama, membicarakan tugas yang mereka terima dari dosen dengan serius. Mereka memeriksa catatan mereka, berbagi ide, dan merencanakan langkah-langkah berikutnya dengan cermat.

Namun, kebingungan menyelinap saat Mew tiba-tiba muncul dengan mengenakan baju lengan panjang, meskipun cuaca di luar begitu panas. Win dan Gun saling bertatapan heran, mencoba mencari alasan di balik pilihan pakaian Mew.

"Tumben pakai baju lengan panjang, Mew? Cuaca hari ini panas lho," Gun mencoba mencairkan suasana dengan candaan.

Mew tersenyum simpul, "Oh, ini karena aku memiliki masalah kulit sensitif. Harus ekstra hati-hati dengan sinar matahari."

Gulf, yang duduk di samping mereka, hanya mengangguk dan melanjutkan pembicaraan tentang tugas. "Gak apa-apa, Mew. Duduklah di sini dan mari kita kerjakan tugas ini bersama-sama."

Mew mengucapkan terima kasih sambil menarik kursi untuk duduk bersama mereka. Meskipun pakaiannya agak tidak biasa untuk cuaca saat itu, semangatnya untuk bergabung dalam pengerjaan tugas tidak terbendung.

Gulf sengaja meminta Mew untuk memastikan sesuatu, Mew, dengan penuh perhatian, berusaha mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen mere

Namun, tanpa disadari, saat Mew sedang teralihkan, Gulf dengan sengaja menyenggol lengan Mew dengan keras, membuatnya meringis kesakitan.

"Auch! Apa yang kamu lakukan, Gulf?" Mew merapatkan tangannya yang terluka, matanya memancarkan kebingungan.

"Maaf, Mew. Aku benar-benar tidak sengaja," ucap Gulf dengan wajah polos, meskipun kepuasan terselip di balik ekspresinya.

Mew mencoba tersenyum meskipun kesakitan. "Tidak masalah, Gulf. Aku baik-baik saja," jawabnya dengan suara tercekat.

Namun, di balik senyum Mew, sebuah noda darah mulai terlihat di lengan bajunya yang polos, mengganggu ketenangan mereka.

Gulf menyadari hasil dari kejutan tadi, dan senyum puas tak terelakkan melintas di wajahnya.

"Sudah aku duga" batin Gulf sambil menatap noda darah dengan penuh kepuasan

~~~

Sepulangnya dari kampus, Gulf mengirimkan pesan singkat pada Mew, meminta untuk menemuinya di belakang kampus. Pesan itu singkat namun penuh arti, membuat hati Mew berdebar kencang. Apa yang sebenarnya diinginkan Gulf?

Di belakang kampus, suasana sepi. Hanya ada mereka berdua. Gulf sudah menunggu dengan wajah tegang, tatapan matanya tajam menusuk.

"Mew, aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya," suara Gulf dingin, membuat Mew tersentak.

"Apa maksudmu, Gulf?" Mew mencoba tersenyum

"Tidak perlu berpura-pura, Mew. Aku tahu semuanya. Sudah cukup permainan ini. Akui siapa dirimu sebenarnya," desak Gulf, langkahnya mendekat, menambah tekanan di udara.

Wajah Mew memucat. "Aku... aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Gulf," katanya lirih, berusaha mempertahankan kendali.

Gulf menggelengkan kepala, frustrasi. "Berhenti berbohong, Mew! Aku tahu semuanya! Berhenti berpura-pura!"

Mew mundur selangkah, "T-tapi aku tidak tahu apa yang kamu maksud..." Mew mencoba mempertahankan egonya

Gulf mendesah berat. "Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku buta? Aku tahu siapa kamu sebenarnya, Mew. Aku tahu semuanya," katanya dengan nada lebih tenang, namun tetap penuh tekanan.

"Gulf, aku mohon... aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," suaranya hampir putus.

"Jangan berpura-pura lagi, Mew! Aku ingin kamu mengakuinya!" Gulf berteriak, suaranya bergema di sekitar mereka.

"Apa yang harus aku akui Gulf?" Tanya Mew

"Alasan kenapa kau menyamar dan mendekatiku" ujar Gulf penuh penekanan membuat Mew terkejut

Dalam keheningan yang menegangkan, Mew hanya bisa diam. Dia tahu, rahasianya sudah tidak lagi aman. Dia takut, sangat takut, tapi dia juga tahu bahwa dia tidak bisa terus bersembunyi. Gulf sudah mengetahui segalanya. Haruskah Mew memberitahu Gulf segalanya tapi, Mew takut keselamatan Gulf terancam karna mengetahuinya

~~~

Cerita baru di up setelah story ini End dan mungkin yang baru gak pake visual MG dulu

Secret Mission || MewGulfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang