8

194 27 9
                                        

Mew melepaskan pelukannya, membuat Gulf bertanya-tanyan"Gulf, kau tunggu di sini," perintah Mew dengan suara tegas.

"Apa? Kau mau kemana? Jangan tinggakan aku sendirian, Mew. Aku takut," ujar Gulf, memeluk Mew erat-erat.

Mew menatap Gulf dengan penuh kepastian "Gulf, aku janji aku akan segera kembali. Percayalah padaku," ujarnya sambil melepaskan pelukan Gulf dengan lembut namun tegas.

Mew keluar dari tempat persembunyian, menghadapi bayangan gelap dari orang-orang yang mengejar Gulf. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, empat pria berdiri di hadapannya, mata mereka penuh dengan ancaman.

"Siapa kalian? Kenapa kalian mengejar pria tadi?" tanya Mew dengan suara dingin, siap untuk apapun yang akan terjadi.

Salah satu pria maju dengan seringai jahat. "Bukan urusanmu. Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan."

Tanpa peringatan, pria itu menyerang Mew dengan pukulan keras. Mew, yang sudah bersiap, menghindar dengan gesit, membalas dengan tendangan cepat ke arah perut pria itu. Pria itu terhuyung ke belakang, tapi segera bangkit dan menyerang lagi dengan lebih ganas. Tiga pria lainnya segera bergabung, mengelilingi Mew.

Mew bergerak dengan kecepatan dan ketangkasan luar biasa, menghindari serangan dan membalas dengan pukulan dan tendangan yang tepat sasaran. Dia memutar tubuhnya, mengelak dari tinju yang meleset, lalu dengan cepat menendang salah satu pria di sisi kepala, membuatnya jatuh ke tanah.

Pria kedua melompat maju, mencoba menangkap Mew dalam kuncian. Namun, Mew dengan cepat berputar, mengunci lengan pria itu dan membantingnya ke tanah dengan keras. Suara benturan membuat pria ketiga dan keempat semakin marah, mereka menyerang Mew bersamaan.

Mew menghindari serangan ganda itu dengan lompatan akrobatik, mendarat dengan ringan di belakng mereka. Dia memukul tengkuk pria ketiga dengan siku, membuatnya pingsan seketika. Pria keempat, yang melihat ketiga temannya sudah tumbang, mulai ragu, tetapi tetap maju dengan niat membunuh.

Mew menatap pria itu dengan tatapan tajam. "Kau masih mau mencoba?"

Pria itu berteriak marah dan melompat ke arah Mew. Mew menunggu dengan tenang, lalu di detik terakhir, dia berputar dan menggunakan kekuatan serangan pria itu untuk membantingnya ke dinding. Pria itu jatuh dengan suara berat, tak mampu lagi bangkit.

Napas Mew terengah-engah, tubuhnya tegang namun siap untuk serangan berikutnya. Dia memandang sekeliling, memastikan tidak ada lagi ancaman.

Setelah memastikan semua musuh telah Mew kalahkan, Mew mendekati para pria yang tergeletak di tanah. Dengan cekatan, dia mengeluarkan borgol dari sakunya dan mulai memborgol mereka satu per satu. Gulf berdiri di dekatnya, masih terkejut dan kelelahan setelah kejadian yang menegangkan tadi.

Tak lama kemudian, suara sirine mobil polisi terdengar mendekat. Beberapa mobil berhenti di dekat mereka, dan sekelompok polisi keluar, berlari ke arah Mew.

"Mew, ada apa di sini?" tanya seorang polisi, tampaknya salah satu atasan Mew.

Mew berdiri tegak, menatap atasannya dengan tegas. "Mereka mengejar Gulf. Aku berhasil menangkap mereka," jawab Mew sambil menunjuk ke arah pria-pria yang diborgol di tanah.

Gulf memandang dengan mata terbelalak. "Mew... Kamu polisi?"

Mew menoleh ke Gulf, ada rasa bersalah di matanya. "Lebih tepatnya aku detektif Gulf, aku minta maaf. Aku nggak bisa ngasih tau identitas asliku sebelumnya."

Polisi lain mendekati Mew, memberi hormat singkat. "Bagus, Mew. Kau melakukan pekerjaan yang hebat. Kami akan membawa mereka ke kantor."

Mew mengangguk. "Terima kasih. Pastikan mereka diinterogasi segera. Saya yakin mereka punya banyak informasi yang bisa diungkap."

“Jadi selama ini…” pikiran melayang memikirkan fakta yang baru dia ketahui

Mew menatap kearah Gulf yang masih terdiam ditempatnya, perlahan Mew menghampiri Gulf dan memanggil namanya beberapa kali untuk membuyarkan lamunan Gulf

“Gulf kamu gakpapa kan? Sekarang kamu udah aman” ujar Mew

“I-iya makasih” balas Gulf gugup dan masih mencerna apa yang terjadi

“Yuk, aku anter kamu pulang yahh” ujar Mew sambil mengarahkan Gulf kesalah satu mobil dan membukakan pintu untuk Gulf, Gulf hanya mengikuti dalam diam

Mobil melaju perlahan, Gulf duduk diam, masih terkejut dengan semua yang baru saja terjadi. Hujan turun perlahan, membuat suasana semakin hening dan tegang. Gulf memandang Mew yang duduk di sampingnya, mencoba memahami segala sesuatunya.

"Mew, siapa sebenarnya orang-orang yang ngikutin aku tadi?" tanya Gulf dengan suara yang masih bergetar.

Mew menarik napas panjang sebelum menjawab. "Itu sekelompok mafia, Gulf. Mereka ingin mencelakai kamu."

Mata Gulf melebar. "Mafia? Tapi kenapa aku? Apa alasan mereka?"

Mew menatap Gulf dengan serius. "Beberapa waktu lalu, kamu pernah nggak sengaja masuk ke ruangan tempat mereka lagi ngelakuin transaksi ilegal kan. Mereka kira kamu tau sesuatu dan mungkin bisa ngancem mereka."

Gulf terdiam sejenak, mencoba mengingat kejadian itu. Lalu, wajahnya berubah saat ingatannya mulai kembali. "Aku inget... waktu itu aku beneran nggak sengaja masuk ke ruangan yang salah. Begitu aku sadar, aku langsung berbalik dan pergi. Aku nggak liat apa-apa, Mew. Sumpah!"

Mew menatap Gulf dengan penuh pengertian. "Yah aku percaya sama kamu, Gulf. Tapi mereka nggak mau ambil risiko. Mereka pikir kamu tau sesuatu yang bisa ngerusak bisnis mereka."

Gulf merasa ketakutan kembali merayapi dirinya. "Jadi, selama ini aku diincer karena kesalahan yang nggak disengaja?"

Mew mengangguk pelan. "Iya, Gulf. Tapi tenang, aku dan tim bakal pastiin kamu aman. Kita nggak bakal biarin mereka nyentuh kamu lagi."

"Tapi Mew, aku masih nggak ngerti. Kenapa kamu menyamar jadi mahasiswa? Kenapa kamu harus jaga aku?" tanya Gulf, suaranya penuh kebingungan.

Mew menghela napas, menatap Gulf dengan tatapan lembut namun tegas. "Gulf, aku dan timku udah lama banget ngincer kelompok mafia itu. Mereka udah lama kita awasin, tapi kita belum punya cukup bukti untuk nangkep mereka."

Gulf mendengarkan dengan saksama, mencoba memahami situasinya.

"Saat kita tau mereka ngincer seorang mahasiswa, timku langsung ngasih aku tugas buat melindungi mahasiswa itu, dan ternyata mahasiswa itu adalah kamu," lanjut Mew, suaranya sedikit melembut.

Gulf mengerutkan kening "Jadi kamu udah tau dari awal?"

Mew menganggu "Iya, aku terpaksa nyamar buat bisa jaga dan lindungi kamu. Semua yang aku lakuin, termasuk kecerobohan aku, itu semua disengaja biar nggak ada yang curiga aku detektif kepolisian."

Gulf terdiam sejenak, merenungkan semua yang baru saja didengarnya "Tapi kenapa kamu harus nyamar? Kenapa nggak langsung aja lindungin aku secara terbuka?"

Mew menatap Gulf dengan penuh perhatian "Gulf, kalau mereka tau aku polisi, mereka bakal curiga dan ngilangin semua bukti. Dengan nyamar, aku bisa lebih deket sama kamu dan pastiin kamu aman tanpa bikin mereka curiga"

“Terus, kenapa lo juga nyamar jadi pianis juga?" tanya Gulf, kebingungan tergambar jelas di wajahnya.

"Kalo itu karna....

~~~

Karna apa ayo?? 😏😏

Maaf lama up kemarin gak sempet nulis

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 11, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Secret Mission || MewGulfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang