7

160 27 7
                                        

Dalam ketegangan yang menusuk, Gulf memegang erat lengan Mew dan menarik lengan bajunya dengan kasar. Mata Gulf menyelidiki bekas luka di kulit Mew, yang serupa dengan bekas luka yang dia lihat pada pianis di pesta semalam.

"Bukankah ini bekas luka yang sama dengan yang dimiliki oleh pianis tadi malam?" tanya Gulf, suaranya bergetar oleh kepastian.

"Hahh?? Apa maksudmu?" Tanya Mew tak mengerti

Gulf menunjuk pada bekas luka dengan tegas. "Ini bukti bahwa kalian adalah satu orang yang sama. Siapa sebenarnya dirimu, Mew?"

Mew menelan ludah, mencoba mencerna serangan mendadak ini. "Bagaimana kamu bisa tahu?"

Gulf tersenyum sinis. "Karena aku yang menyuruh pelayan untuk melukaimu. Kecelakaan semalam bukanlah kecelakaan yang tidak disengaja."

Keterkejutan mewarnai wajah Mew saat pengakuan pahit itu terdengar. "Tapi... mengapa kamu melakukan ini?"

Dalam keheningan yang menegangkan, Gulf menatap tajam ke arah Mew, mencoba memecahkan teka-teki yang menyelimuti keberadaannya. "Kenapa, Mew? Kenapa kau menyembunyikan identitasmu dariku? Mengapa kau membohongiku? Apa sebenarnya tujuanmu mendekatiku?"

Mew hanya terdiam, wajahnya diliputi oleh bayang-bayang ketidakpastian, tetapi bibirnya tetap terkatup rapat, menolak untuk membetikan jawaban apapun atas pertanyaan-pertanyaan tajam Gulf.

Gulf merasa frustasi oleh kebuntuan ini, tetapi dia tidak menyerah begitu saja. "Apakah kau mendekatinya hanya karena harta milikku? Apakah itu sebenarnya tujuanmu?"

Namun, Mew masih terdiam, matanya menggeliat-geliat dalam perjuangan batin yang tidak terlihat. Dia memilih untuk menyimpan rahasia-rahasia yang dalam, bahkan di bawah tekanan yang begitu besar sekalipun.

Wajah Gulf terbakar oleh amarah yang mendidih di dalam dirinya. "Kau tidak akan menjawab, bukan? Baiklah, Mew. Terserah padamu. Tapi ingatlah, rahasiamu tidak akan selamanya terjaga," ucapnya dengan nada yang penuh dengan ancaman.

~~~

Setelah pertengkaran sengit dengan Mew, Gulf tidak langsung pulang. Dia berjalan tanpa tujuan, membiarkan kakinya membawanya ke sebuah bar yang remang-remang, tempat di mana dia bisa mencoba melarikan diri dari kekacauan pikirannya.

Gulf duduk di pojok bar, memesan minuman demi minuman, berusaha menenggelamkan kesedihan dan kemarahannya dalam aliran alkohol. Suasana bar yang gelap dan berasap seolah mencerminkan perasaannya yang kusut.

Sambil menatap gelas di tangannya, Gulf berbicara pada dirinya sendiri. "Kenapa harus Mew? Kenapa dia harus nipu gue?" gumamnya, suaranya penuh keputusasaan.

Gulf menenggak minuman dengan kasar, mencoba menghilangkan bayangan wajah Mew dari pikirannya. "Gue udah mulai suka sama dia, ya ampun... Kenapa dia harus kayak gitu?" katanya pelan, hampir tak terdengar di tengah kebisingan bar.

Pikiran tentang perhatian dan senyum Mew yang tulus menghantui Gulf, membuat hatinya semakin sakit. "Gue pikir dia beneran peduli... ternyata cuma tipu daya."

Pelayan bar mendekat, mengisi ulang gelas Gulf tanpa banyak bicara. Gulf hanya mengangguk, kembali tenggelam dalam pikirannya yang kelam.

"Mew... gue nggak nyangka lo sekejam itu," bisiknya dengan suara serak, menatap kosong ke arah gelas yang kembali penuh. "Gue harus cari cara buat ngelupain dia."

Gulf sudah benar-benar mabuk, matanya setengah tertutup dan langkahnya sempoyongan. Dia tahu tidak bisa berada di bar sampai pagi, jadi dengan susah payah dia berdiri dan berjalan keluar. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, tetapi itu tidak cukup untuk menyadarkannya sepenuhnya.

"Gue harus pulang... nggak bisa di sini terus," gumam Gulf, suaranya hampir tak terdengar di tengah hiruk-pikuk jalanan malam.

Di tengah perjalanan yang goyah, Gulf mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Ada perasaan aneh yang menyelinap di punggungnya. Dia menoleh dengan mata yang buram, tetapi tidak melihat apa-apa. Namun, instingnya berkata lain.

"Sial... ada yang ngikutin gue," pikirnya dengan cemas. Dia berusaha mempercepat langkahnya, meskipun tubuhnya terasa berat karena alkohol.

Langkah-langkah Gulf menjadi semakin cepat dan tidak teratur. Rasa takut mulai menguasai pikirannya. "Siapa... siapa yang ngikutin gue?" dia bergumam, mencoba tetap tenang meskipun hatinya berdebar kencang.

Bayangan gelap mengikuti Gulf dengan langkah tenang namun pasti. Setiap kali Gulf mencoba menoleh, bayangan itu selalu berhasil bersembunyi di antara bayang-bayang malam.

"Gue harus cepet-cepet pergi dari sini," ucap Gulf pada dirinya sendiri, keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Dia mencoba mencari jalan pintas, tetapi semuanya tampak asing dalam keadaan mabuknya.

Gulf mulai berlari, napasnya tersengal-sengal, berharap orang itu tidak mengejarnya. Namun, suara langkah kaki yang semakin dekat membuat kepanikannya semakin terasa. Hatinya berdebar kencang, seperti hendak meledak.

Tiba-tiba, sebuah tangan kuat menarilnya masuk ke sebuah gang sempit. Gulf terhuyung, ketakutan setengah mati. "Kumohon lepaskan aku, pergi!! pergi!!" mohon Gulf dengan suara gemetar, matanya mencari jalan keluar.

"Sshhh, Gulf... Ini aku," suara pria itu memohon Gulf untuk tidak berisik, bersembunyi di dalam kegelapan gang.

"Mew?" panggil Gulf setelah mengenali suara pria yang bersamanya. Degup jantungnya masih berdetak kencang, tetapi kini ada sedikit harapan.

"Iya, ini aku, Mew. Tenanglah," ujar Mew, suaranya lembut berusaha menenangkan Gulf yang gemetar.

"Mew... Hiksss... Aku takut. Ada yang mengikutiku," ujar Gulf sambil menangis, tubuhnya bergetar dalam dekapan Mew. Tangisnya pecah, air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.

"Tenang, Gulf. Aku di sini bersamamu," kata Mew, berusaha menenangkan Gulf dengan suara lembutnya, meskipun hatinya sendiri juga dipenuhi ketakutan.

Langkah kaki yang mengejar Gulf semakin mendekat, membuat jantung mereka berdegup kencang. Gulf bisa merasakan tubuhnya gemetar semakin hebat. "Mew, aku takut...," bisiknya.

"Sstt... Diamlah, jangan bersuara," bisik Mew, mencoba membuat Gulf tetap tenang. Dia menatap ke arah jalan masuk gang, berharap orang yang mengejar mereka tidak menemukan tempat persembunyian mereka.

Orang yang mengikuti Gulf terus berjalan mendekati gang sempit itu. Suara langkah kaki itu semakin mendekat, membuat ketegangan di udara semakin pekat. Mew merapatkan tubuh Gulf ke dinding, mencoba menutupi keberadaan mereka.

Napas Gulf tertahan, tangisnya tertahan dalam diam. Mew memeluknya lebih erat, memberikan sedikit rasa aman di tengah situasi yang penuh bahaya.

~~~

Hei Phi/Nong ayo di Komen dan Vote juga dong, bentar lagi end lohh

Secret Mission || MewGulfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang