______________________
Happy reading all ❤️🩹
______________________.
.
.
Tringgggg......tringgggg.......Suara bel istirahat berbunyi nyaring membuat seluruh isi kelas lekas berlari keluar menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan.
Seorang gadis berambut sebahu dengan style setengah laki-laki terlihat tengah menatap dalam teman sebangkunya yang sedang senyum-senyum sendiri dengan handphone ditangannya.
Alisnya menukik bingung. Tumben sekali temannya itu tidak langsung berlari ke kantin dan berebut kuaci rebo dengan anak kelas sebelah.
"Ekhem" dehemnya mencoba mengalihkan atensi temannya itu yang malah dihiraukan begitu saja.
"Ekhem...khemm..." dehem nya kembali yang lagi-lagi terus dihiraukan.
Karena merasa kesal dengan sahabatnya itu pun, gadis bername tag 'Diandra lavenya' itu pun merampas ponsel temannya yang membuat dirinya tak dihiraukan sedari tadi.
"DIAN! balikin gak hp gue" teriak nya saat ponselnya di ambil.
Bukannya dikembalikan Dian malah mengangkat tinggi ponsel itu agar temannya yang kurang tinggi itu tidak bisa meraihnya.
"Ambil coba kalo lo bisa" tantangnya sembari menaikkan lagi ponsel temannya itu agar lebih tinggi.
"Yan, balikin lah gue gak nyampe woi" ujarnya setengah merengek pada temannya itu.
"Aralnya Dwi Sankara, lo tuh udah bukan bocah sd lagi tapi masih aja pendek" ejek Dian sembari menyentil keras dahi yang dihiasi oleh poni milik temannya itu.
Tangan milik Aya terangkat untuk mengusap dahi yang disentil dengan tidak manusiawinya oleh Dian itu dengan mulut yang sudah maju lima centi setengah ke depan.
"Mending gue pendek gemesin dari pada dia tinggi kek tiang listrik nyasar" gumamnya sendiri yang samar-samar masih bisa didengar oleh Dian.
"Lo ngomong apa tadi" ujar Dian dengan mata setengah melototnya.
"Balikin hp gue!!" Teriak Aya yang sudah terlanjur kesal dengan temannya itu.
Bukan Diandra namanya kalau tidak menggoda teman kecilnya itu. Bukannnya dikembalikan Dian malah mengalihkan pandangannya guna menatap layar ponsel milik Aya yang rupanya tengah berada di salah satu room chatnya.
"Jangan di baca!!" Peringat Aya yang malah memancing rasa penasaran yang lebih dalam pada diri Dian.
"Njir lo masih kontekan sama Argot" rasanya Dian tak habis pikir dengan temannya itu.
Siapa yang menyangka bahwa uang lembaran lima ribu yang mereka dapati sebuah nomor telepon itu membawa Aya pada sosok yang sekarang menemani hampir separuh waktu memandang ponsel miliknya.
Namanya Arga, lebih lengkapnya Argantara Naendra. Sosok pemilik nomor telepon yang mereka jumpai di uang kembalian kedai minuman dingin di pertigaan depan lampu merah.
Tidak banyak yang bisa dijabarkan tentang dirinya yang jelas ia salah satu lelaki baik hati milik semesta. Biarkan alur cerita yang memberi tahu kalian seperti apa sebenarnya sosok Argantara ini. Mungkin kalian juga akan jatuh cinta pada rupa dan kehangatannya di akhir cerita nanti.
"Emang kenapa, anaknya sefrekuensi sama gue makanya langgeng" ujarnya memberi alasan.
"Langgeng? Bahasa lo kek orang pacaran aja. Atau jangan-jangan lo udah pacaran yah ma Argot" ledek Dian sembari mencolek pipi Aya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Virtual Boyfriend
De TodoTidak ada yang bisa ku deskripsikan tentang apa yang akan aku tulis kali ini. Hanya seutas kisah yang akan ku bagikan untuk kalian tentang Dia yang istimewa dan berhasil mengukir namanya dalam hati kecil yang ku miliki ini. Mungkin kisah ini tak ak...