65

41.1K 4.3K 492
                                        

Vote komen🥱 Dua hari niehh

.
.
.
.

"Abang?"

Suara itu membuyarkan lamunan Lian, dia menoleh ke arah Chila yang berada di pangkuannya. Gadis kecil itu terlihat memainkan kerah bajunya, dengan mata yang nampak berkaca-kaca. "Kenapa Mamah sama Papah belantem?" tanyanya dengan suara lirih. "Chila takut. "

Lian kini terdiam, dia mendekap Adik kecilnya itu semakin erat. Dia tau apa yang dimaksud Chila, beberapa menit yang lalu mereka melihat perdebatan Kamila dan Anggara di ruang tengah. Di saat itu, Lian datang dari kantor untuk mengurus beberapa hal, dan yang dia temui ... adalah sosok Chila melihat tontonan tak mengenakkan dari kejauhan. Dan setelah dia sadar, Lian langsung membawa Chila untuk menjauh.

"Abang?"

"Abang Jidan mana?" Chila menatap ke arah Lian dengan tatapan berair. "Chila mau main~"

Lian terdiam, dia terhenyak saat pertanyaan itu diarahkan untuknya. "Dia—dia sedang tidur, " sahut Lian dengan suara tertahan. Dia tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya bukan? "Abang Jidan nya masih tidur, nanti ya mainnya?"

"Di kamal?"

"Di rumah temennya, Abang Jidan nya nginep di sana, Chila mainnya sama Abang aja dulu ya?" Lian bisa melihat perubahan raut Chila menjadi sendu, air matanya meluruh dengan sendirinya. Melihat hal itu, Lian seketika panik, dia berusaha menenangkan Adiknya itu agar berhenti menangis.

"Chila nda suka disini, nda suka ... Chila mau sama Abang Jidan. " Chila menangis keras, gadis kecil itu memukul-mukul dada bidang Lian, dan Lian hanya dibuat terdiam dengan perasaan sesak. "Chila nda nyaman disini ... nda suka, nda suka. "

Lian lagi-lagi berusaha keras menenangkan Chila, dia tidak mengerti mengapa Adiknya sangat rewel hari ini? Apa karena tidak bertemu selama seminggu lebih? Atau mungkin, karena anak kecil lebih perasa? Dia seakan tau jika suasana Mansion sedang tidak baik-baik saja.

"Tuan muda Lian. "

Lian menoleh, dia mengerutkan keningnya saat mendapatkan Bibi Asri menatap ke arahnya. "Biar saya yang menenangkan Non kecil, tuan muda. "

"Apa tidak apa-apa?" tanyanya datar, dan dibalas anggukan cepat oleh Bibi Asri.

"Tak apa tuan muda, saya tau jika tuan muda pasti lelah, saya akan menenangkan Non kecil, " sahutnya. Dia tentu tau jika keluarga ini sedang tidak baik-baik saja, dari Zidane yang terbaring koma di Rumah Sakit, area dalam Mansion yang mengalami perbaikan, serta pengurangan jumlah pekerja secara drastis, dan tak lupa jika ada beberapa pekerja yang tewas karena hal itu.  "Kalau begitu, saya permisi tuan muda Lian. "

"Silahkan, terimakasih Bi. "

Lian nampak memijat pelipisnya yang terasa pening setelah keduanya berlalu. Dia menatap ke arah berkas-berkas yang dia bawa dari kantor, melihatnya membuat rasa pening di kepalanya semakin terasa. Dia tidak yakin, jika dia bisa membantu mempertahankan Perusahaan yang sudah diambang kebangkrutan. "Apa bisa meminta bantuan kepada Om Ethan? Cuman itu harapan satu-satunya, untuk mendapatkan klien lain ... rasanya sangat susah dalam waktu dekat ini. "

Pemuda itu kembali memungut berkas-berkas tersebut, dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari tempat asalnya. Dia menaiki anak tangga, dan berniat untuk ke kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti. "Mamah?" Lian langsung mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam kamar orang tuanya.

"L—lian?"

Kamila menghapus kasar air matanya, menyembunyikan beberapa lembar kertas di belakang tubuhnya. "A—ah ada apa? Maaf, maafkan Mamah untuk keributan tadi—"

Transmigrasi Mantan Santri [TERBIT✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang