2. Jaga Jarak

8 0 0
                                    

Hari-hari berlalu sejak Maya dan Arga memutuskan untuk menjaga jarak.

Arga kembali fokus pada lukisannya, menghabiskan waktu di studio kecilnya, mencoba mencari makna di setiap goresan kuasnya. 

Sementara itu, Maya tenggelam dalam dunia kata-kata, menulis puisi yang mencerminkan perasaan hatinya yang bimbang dan penuh harapan.

Mereka tidak lagi bertemu di kafe buku, tidak lagi berbagi cerita tentang mimpi-mimpi mereka.

Meskipun begitu, di lubuk hati masing-masing, mereka merindukan kebersamaan yang pernah mereka miliki. 

Mereka saling menjaga jarak, tetapi perasaan mereka tetap kuat, berdenyut di setiap detik yang berlalu.

Suatu malam, Arga menerima pesan dari Maya.
"Arga, bagaimana kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja."Arga tersenyum tipis melihat pesan itu. Dengan hati-hati, dia membalas.
"Aku baik, Maya. Aku merindukanmu. Bagaimana denganmu?"Maya membaca balasan Arga dengan perasaan campur aduk. Dia menatap layar ponselnya sejenak sebelum akhirnya membalas.
"Aku juga merindukanmu, Arga. Aku ingin kita bisa bertemu dan berbicara, tetapi aku juga tahu bahwa kita butuh waktu untuk memahami perasaan kita."

Arga mengerti. Mereka berdua memang membutuhkan waktu. Namun, perasaan cinta yang tulus tetap ada di antara mereka, seperti api kecil yang terus menyala meski diterpa angin.

Di tempat lain, Lisa yang merasa bersalah karena tanpa sengaja mengganggu hubungan Arga dan Maya, memutuskan untuk berbicara dengan Arga.

"Arga, aku minta maaf jika kehadiranku membuatmu bimbang. Aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan Maya. Aku hanya ingin kamu bahagia," kata Lisa dengan tulus.

Arga menatap Lisa dengan penuh pengertian. "Lisa, aku yang harus meminta maaf. Kehadiranmu memang membawa kembali kenangan lama, tapi itu bukan salahmu. Aku yang harus bisa memahami perasaanku sendiri."

Lisa tersenyum sedih. "Kamu harus jujur pada dirimu sendiri, Arga. Maya adalah orang yang sangat istimewa, jangan sampai kamu kehilangannya karena kebimbanganmu."Arga mengangguk. "Kamu benar, Lisa. Terima kasih sudah mengingatkanku."

Dengan tekad yang bulat, Arga memutuskan untuk menemui Maya. Dia ingin berbicara dari hati ke hati, mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Dia ingin mengakhiri jarak yang selama ini mereka jaga dan kembali merajut cinta yang sempat terputus.

Di taman tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama, Arga menunggu Maya dengan hati yang berdebar. 

Tak lama kemudian, Maya datang dengan senyuman lembut di wajahnya.

"Arga, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Maya, meski hatinya sudah tahu jawabannya.

Arga menggenggam tangan Maya dengan lembut. "Maya, aku menyadari bahwa meski kita menjaga jarak, perasaanku padamu tetap kuat. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin kita kembali bersama dan menghadapi semua ini bersama-sama."

Maya menatap mata Arga, melihat ketulusan dan cinta yang ada di sana. "Aku juga merasakan hal yang sama, Arga. Jarak ini membuatku sadar betapa berharganya kamu bagiku."

Mereka saling tersenyum, merasakan kehangatan cinta yang kembali menyatukan hati mereka. Keputusan untuk menjaga jarak ternyata menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Kini, mereka lebih mengerti dan menghargai perasaan satu sama lain.Dalam pelukan malam yang penuh bintang, Arga dan Maya berjanji untuk tidak lagi membiarkan jarak memisahkan mereka. Mereka akan menghadapi semua rintangan bersama, dengan cinta yang lebih kuat dan pemahaman yang lebih dalam.

Cinta yang sempat TerbagiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang