***
Daren melangkah dengan cepat menyusuri lorong demi lorong pada rumah sakit Aldrich, terhitung hingga saat ini sudah tiga kali Ansara mengunjungi tempat ini dalam waktu dua bulan.
Dari kejauhan Daren bisa melihat Karina sedang duduk, pada kursi di depan ruang rawat Ansara.
"Bibi, bagaimana keadaan Ansara?" Tanya Daren ketika sudah berada di hadapan Karina.
"Daren--," lirih Karina.
"Ada apa?" Ucap Daren cepat.
"Bagaimana Ansara," tanya Daren lagi.
"Ansara sudah di tangani, namun, saat ini dia sedang tertidur. Bibi menyuruh Dokter Farla untuk memberikan obat tidur, sedari tadi Ansara selalu menangis karena merasa panas dan gatal pada sekujur tubuh dan wajahnya." Papar Karina memberikan tahu secara detail, keadaan putri bungsunya, jujur wanita itu sangat ketakutan saat ini. Bagaimana bisa terdapat bubuk kacang pada kue bolu yang mereka buat.
"Dimana Ares?" Tanya Karina, ia belum melihat kedatangan putra sulungnya.
"Ares tadi memberitahuku, jika dia akan ada urusan sebentar. Setelah selesai, ia akan langsung kemari, Bi." Jelas Daren.
"Boleh aku melihatnya?" Pinta Daren.
Karina mengangguk, "masuklah, bibi tidak sanggup untuk melihat adik di dalam."
Daren membungkuk lalu memasuki ruangan Ansara, meninggalkan Karina kembali sendirian.
Daren menutup pintu dengan sangat pelan, seolah tidak ingin menganggu istirahat sang putri cantik di depannya saat ini.
Ia keluarkan ponsel dari saku kemeja hitam, menekan beberapa nomor, untuk menghubungi seseorang.
"Res, apa di dapur Mansion Mahatma terdapat CCTV?" Ucap Daren setelah sambungan telepon terhubung.
"Bisa, kau kirim padaku?"
"Secepatnya," Daren memutuskan secara sepihak sambungan telepon dengan Ares.
Daren menarik kursi putih, ia duduk di samping Ansara. Ia tersenyum tipis, lalu mengelus perlahan wajah kemerahan dengan beberapa bintik merah yang muncul pada wajah cantik milik Ansara.
"Kau tetap cantik, sayang. Apakah ini sakit?" Daren mengusap sisa airmata pada sudut mata Ansara.
"Kau akan segera pulih, kakak berjanji sayang,"
"Jangan buat kakak selalu khawatir Ansara, kau tahu, kakak selalu merasa gagal, saat melihat kau terbaring di ruangan si4lan ini." Ucap Daren tajam.
"Beri kakak izin untuk memberi sedikit hukuman, pada orang yang membuat kau seperti saat ini."
Ansara mengerjapkan mata beberapa kali, untuk menyesuaikan dengan cahaya pada ruang rawatnya saat ini.
Daren menegakan tubuhnya, ia menaruh ponsel miliknya di atas nakas setelah menelpon James untuk menjalankan sedikit pekerjaan yang diberikan Daren.
Daren menunduk lalu mencium dahi Ansara bertubi-tubi, "sayang,, apa yang kau rasakan?"
"Haus," ucap Ansara pelan.
Daren membantu Ansara untuk duduk, lalu mengambil segelas air putih pada nakas di samping Ansara.
"Perlahan, An." Ingat Daren. Setengah air pada gelas itu sudah tandas oleh Ansara.
Suara tangisan kembali terdengar, Daren lalu menarik Ansara kedalam dekapannya. Ia menepuk pelan punggung Ansara agar gadis itu kembali tenang.
"Kau ingin apa An?" Tanya Daren sebelah tangannya terangkat untuk mengelus pelan surai lembut milik Ansara.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
RomanceHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
