Bab 25

1.3K 118 40
                                        

Desiran angin malam menemani Irene yang masih duduk di salah satu restoran dengan konsep terbuka yang berada tepat di rooftop J-Hotel, milik keluarganya.Wanita dengan balutan celana jeans dan kemeja warna putih yang dilipat bagian tangannya hingga ke lengan itu beberapa kali melihat ponselnya, menunggu laki-laki yang malam ini memiliki janji makan malam dengannya.

Hampir 30 menit lelaki yang ditunggunya tidak ada kabar, bahkan nomer Mario juga tidak bisa dihubungi.

Tidak ada perdebatan, Irene memutuskan untuk menunggu sedikit lebih lama hingga 45 menit berlalu, tapi tidak ada satupun dari Mario ataupun Aksara yang bisa dihubungi.

Saat dia tidak tahu harus mencari sang suami kemana, satu-satunya yang terlintas di kepalanya adalah Erlin. Manusia dengan sejuta kemampuan yang selalu bisa dia andalkan bahkan hanya untuk sekedar mencari sesuatu yang dia hilangkan dua atau tiga hari sebelumnya.

[Ya Direktur?]

"Lin dimana? Saya butuh bantuan."

[Saya di rumah. Anda perlu apa?]

Irene mulai menceritakan tentang dirinya yang hari ini memiliki janji dengan Aksara, tentu saja dia melewatkan bagian bahwa dia sedang mengandung. Dia tidak ingin ada siapapun yang tahu tentang kondisinya, paling tidak saat ini.

"Tolong cari Aksara untuk saya, bisa?"

[Anda pulang saja direktur, begitu ada kabar langsung saya kabari]

"Terimakasih."

Malam itu, Irene pulang dengan keadaan cemas. Bagaimanapun juga dia perduli dan mencintai Aksara, jadi tentu saja dia harus tahu kemana dan dimana posisi sang suami saat satupun panggilannya tidak ada yang dijawab dan tidak ada pesan yang dibalas.

 Bagaimanapun juga dia perduli dan mencintai Aksara, jadi tentu saja dia harus tahu kemana dan dimana posisi sang suami saat satupun panggilannya tidak ada yang dijawab dan tidak ada pesan yang dibalas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Irene benar-benar tidak bisa menangis sekarang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Irene benar-benar tidak bisa menangis sekarang. Air matanya sudah terasa habis, atau lebih tepatnya wanita itu mungkin sudah benar-benar menyerah dan mati rasa.

Irene bergegas ke kamarnya, beberapa pakaian dan hal yang dia perlukan dia masukkan ke koper. Setelah semuanya selesai, pandangannya terarah ke satu foto kecil yang ada di ujung meja riasnya. Foto saat Aksara menghadiri acara sumpahnya sebagai seorang dokter beberapa tahun sebelum mereka menikah.

Best Wedding [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang