-Princess's Point of View-
Aku terbangun karena silau matahari yang membias dari sela-sela gorden jendela kamar apartemen yang ku tempati. Rasanya masih mengantuk sekali karena semalaman perutku terasa kram ditambah lagi sakit di kepala. Aku baru bisa tertidur pukul 4 subuh sehabis meminum segelas susu dan kini terbangun pada pukul setengah tujuh pagi. Aku tertidur hanya dua jam setengah, ohh God!
Tiba-tiba saja perutku bergejolak kembali. Buru-buru aku bangkit berdiri dan berlari menuju wastafel yang berada di kamar mandi.
Huueeekk.. Huueekkk..
Keluarlah cairan kental berwarna coklat muda yang menurutku adalah susu coklat yang kuminum subuh tadi dari mulutku. Aku membasuh mulutku dan wajah dengan air yang mengalir, lalu memandang diriku di depan cermin. Wajah kusam, pipi agak chubby dan terlihat kering, padahal aku paling suka merawat diri apalagi wajah dan paling anti apabila pipiku mulai menggembung, tapi lihatlah sekarang sangat kacau. Beberapa bulan ini aku memang malas sekali merawat diriku sendiri.
Dering lagu Happy milik Pharell William menggema dari HP-ku yang berada di nakas sebelah ranjang, buru-buru aku mengambilnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Pagi nak... How are you today?" Sapa seorang pria bersuara berat diseberang sana, Papaku.
"I'm fine Pah. How about you?" Tanyaku sambil memasang earphone dan memakaikannya ditelingaku.
"Not bad. Kapan kamu pulang Princess? Ini sudah bulan keenam kamu tidak pulang. Sebenarnya apa yang kamu kerjakan disana nak? Apa perlu Papa dan Mama menjemputmu kesana?" Tanyanya khawatir.
Yeaahh, that's my Papa. Papa sebenarnya adalah sosok laki-laki yang cuek dan dingin, begitu pula pada anak-anaknya. Jarang sekali Papa menunjukkan rasa sayangnya kepada kami melalui kata-kata manis, tapi aku tahu, Papa adalah sosok yang hebat, peduli pada keluarga dan yaaaa agak sedikit protektif.
Dulu sewaktu Kak Ricky kelas 6 SD, dan aku kelas 3 SD, dia pernah bermain futsal yang mengakibatkan tangannya keseleo dan pingsan karena ketidaksengajaan temannya, dan akhirnya temannya yang beralis tebal khas keturunan arab itu tidak pernah muncul lagi di sekolah, dan aku pasti bisa memastikan bahwa ada campur tangan Papa dalam hal ini, mengingat Papa adalah salah satu anggota yayasan di sekolah Kak Ricky dahulu. Papa memang terkadang agak sedikit lebay dalam menjaga kami.
"Ohh, nggak perlu Pah. Caca tau Papa sibuk. Caca disini baik-baik aja kok. Setelah urusan Caca kelar, Caca pasti balik segera." Jawabku sekenanya. Yaaa, paling tidak dengan kata-kata itulah aku menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh anggota keluargaku begitu juga beberapa teman kantor yang memang dekat denganku.
"Baiklah Princess. Papa ada meeting sebentar lagi, jaga dirimu baik-baik ya nak. Kalau kamu kekurangan uang saku, hubungi Papa segera."
"Siapp big boss! I miss you so much Pah."
"Miss you too, my girl!"
Aku meletakkan kembali HP-ku setelah panggilan dengan Papa terputus. Lalu beranjak kearah dapur untuk mulai memasak sarapan dan membuat segelas susu. Aku memandang pantulan diriku dari kulkas yang tingginya melebihi diriku, banyak sekali yang berubah dari bentuk tubuhku rupanya. Lalu aku membuka pintu kulkas, dan ternyata hanya tertinggal air putih dan dua buah mangga di dalamnya.
"Anak Mommy lagi pengen spageti ya hari ini? Nanti bahannya kita beli dulu ya nak ke supermarket." Ucapku menutup pintu kulkas sambil mengelus perut buncitku yang kini tengah bersemayam seorang bayi, menurut hasil USG sebulan lalu.
***
Aku mendorong troly besi sambil melirik deretan sayur yang tertata rapih di supermarket kota ini, sambil mengingat-ingat bahan apalagi yang belum ku beli. Kali ini, aku menggunakan maternity dress tanpa lengan berwarna pink yang ku beli minggu lalu, sehingga menampilkan perut buncitku yang masih berukuran sedang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fix You (Sudah Tamat)
General FictionSelalu mendapat hinaan sebagai gadis cupu, tidak menarik, tidak laku, dan sebagainya, membuat seorang gadis bernama Princess Salsa Narendra nyaris depresi. Terlebih lagi nama yang orang tuanya berikan semakin menambah beban untuknya. Bukan hanya nam...
