2. Asca-Ravea (sebuah pertemuan)
Di tengah-tengah keramaian di sekolah, Ashraf Cakrana yang memiliki nama singkatan Asca kini sedang berjalan-jalan di tengah-tengah keramaian para penjual bazar. Ia baru saja selesai mengikuti lomba seni musik beberapa menit lalu.
"Hai cantik!" sapa Asca kepada seorang gadis cantik yang sedang membeli bazar. Gadis itu tersenyum kikuk.
"Hai juga kak Asca," balasnya malu-malu.
Asca lalu tersenyum dan melanjutkan jalannya. Beberapa gadis termasuk gadis yang disapa tadi berteriak histeris melihat ketampanan ketua Aodra. Senyumnya benar-benar memanah setiap hati para gadis.
Brakh!
"Aaaaakkhhh!!" pekikan keras terdengar dari arah belakang membuat Asca sontak berbalik.
Matanya melebar melihat sosok cowok tinggi dengan seragam sekolah yang berbeda dengan seragam mereka. Tatapan tajam langsung dilayangkan pada Asca membuat sang empu menatapnya kembali.
Asca menoleh kiri dan kanan melihat ramainya orang-orang di sana dan ada beberapa gadis di tahan oleh musuh bebuyutan Aodra itu.
Mereka geng motor Gamok. Dan apa kesalahan Aodra kali ini sampai-sampai mereka mendatangi mereka di sekolah. Bisa bahaya anak-anak SMA Budi Jaya kalau mereka langsung menyerang sekarang.
"Asca!"
Asca menoleh ke samping dimana Kaisar, Nando, Bendi dan Wildan sudah ada disampingnya dengan napas terengah-engah karena berlari dari lapangan latihan menuju ke tempat bazar yang berada di dekat gerbang sekolah. Sedangkan Bian, laki-laki itu tidak cukup pandai untuk berkelahi, namun bukan berarti dia tidak ada gunanya di Aodra. Dia cukup pintar, jadi terkadang ketika membuat strategi-strategi Aodra selalu melibatkannya.
Bian kini melapor kepada guru dan membantu mengungsikan satu persatu siswa siswi. Sedangkan Asca, empat anggota inti Aodra dan teman-teman lainnya kini saling berhadapan dengan geng Gamok. Mereka sudah siap jika harus berperang saat ini juga.
"Lepasin dua gadis itu!" ucap Asca menunjuk dua gadis yang tadi ia gombali.
"Kalau gue nggak mau gimana, Ca? Gue kemari mau buat perhitungan sama geng lo ini dan sekolah lo karena teman-teman lo buat adik gue masuk rumah sakit, anj**!!!"
Asca terdiam sejenak. Ia melirik inti Aodra yang juga tidak tahu apa-apa.
"Ya udah, tapi dua cewek itu nggak ada sangkut pautnya, bro!" teriak Wildan dengan wajah tengilnya.
"Yang mukul bukan geng lo, tapi beberapa murid sekolah lo."
Bendi yang tampak kesal dengan bac*tan yang terus mereka layangkan membuat Bendi darah tinggi. Ia dengan kesal maju secara tiba-tiba dan langsung memukul dua orang yang menahan dua gadis SMA Budi Jaya. Saat itu juga langsung terjadi penyerangan.
Bendi dengan cepat menarik dua cewek itu menjauh dari kerumunan.
"M–makasih kak!"
"Pergi sekarang!" perintahnya dengan tatapan tajam.
Setalah dua gadis itu pergi, Bendi langsung berlari membantu teman-temannya. Sedangkan Wildan mendengus sebal karena gara-gara Bendi malah terjadi kegiatan baku hantam. Kalau saja Bendi diam, pasti negosiasi antara Asca dan ketua Gamok berjalan lancar, tidak ada perkelahian sama sekali.
Dengan terpaksa Wildan pun melayangkan pukulan keras pada lawan. Asca sendiri melawan ketua dari Gamok, namanya Alaska. Serangan demi serangan terus terjadi sampai akhirnya Asca menendang kuat perut Alaska membuat sang empu tersungkur di tanah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Suara untuk Ravea
Teen Fiction"Gue akan menjadi suara buat lo. Gue akan selalu menjadi penghubung antara lo dan semesta." _ Ashraf Cakrana Adinata