CHAPTER 6: OMBAK DAN BUIH

219 16 9
                                        

Anya tak sempat mengangguk saat bibir lembut Nabila menyapa miliknya. Hatinya bersorak gembira menyambut kecupan demi kecupan yang kini mengisi suara sunyi dikamarnya yang masih jauh dari kata rapi.

Tangan tak sopan Nabila menelusup dibalik kaos over size milik Anya tanpa penolakan dari sang pemilik. Ia menjelajah bebas lalu sesekali menstimulasi pijatan agresif pada titik tertentu tergantung reaksi pemilik tubuh itu.

Anya menarik tengkuk Nabila mencoba memperdalam ciuman mereka yang kian memanas. Nabila menggeser sedikit tubuhnya dan kini menghapus jarak diantara mereka. Ia baru menarik diri saat nafas Anya terasa berat.

"Why..." Anya protes dengan nafas yang masih berat. Ia menatap tak suka pada Nabila yang tiba-tiba memaksanya menghentikan pagutan panas mereka.

Cup!

"Coba nafas dulu, gue bukan bakwan yang harus buru-buru lo makan selagi panas", selorohnya mencoba menenangkan anak Richard yang sedang diperbudak nafsu bejatnya itu. 

Anya melengos malas namun tetap mengambil nafas sejenak. Setelahnya ia berpindah tempat dalam sepersekian detik ke pangkuan Nabila. Senyum nakalnya terbit.

"Masalahnya adalah gue tergoda setiap saat karena lo bukan bakwan yang biasa aja kalo udah dingin. Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya gue menghilangkan minat kalau bakwannya ga pernah dingin?", ucap Anya sembari merapikan anak rambut gadis yang kini dibawahnya itu. 

Jemarinya berakhir menekan pelan bibir bawah Nabila, bayangan bibir itu bersentuhan tanpa pembatas dengan miliknya mengotori pikiran Anya Olsen.

"hmmm..", Nabila berpura-pura berpikir sejenak.

Ia tak merespon saat Anya mulai melepaskan kembali kancing kemeja baby blue yang beberapa menit lalu susah payah ia pasang kembali. Nabila menahan jemari lincah sahabatnya saat gadis itu sampai pada kancing terakhir. 

"Stop teasing me, babe", balas Anya memelas. Bagaimanapun ia tak bisa melanjutkan keinginannya jika Nabila tidak sukacita dengan sentuhannya. Bukannya ia tak pernah memaksa.

Nabila manahan tawanya. "Pertahanan diri Anya Olsen ini sudah meningkat, ya?"

"Yes, tapi gue ga yakin batasnya dimana", jawab Anya terkekeh. 

Ia mendaratkan kecupan dalam pada bibir Nabila yang kian waktu makin meruntuhkan imannya yang tak seberapa. Ia berteriak gemas saat kulumannya dibalas tipis oleh pemilik bibir, artinya Nabila tak benar-benar menolaknya. 

Nafas berat keduanya berpadu memenuhi seisi ruangan yang masih berantakan itu. Kaos yang dipakai Anya jatuh kebawah ranjang melengkapi kekacauan kamarnya. Tawa Anya terdengar sesaat setelah Nabila mendorongnya dan dalam sepersekian detik ia kini ada dibawah kungkungan Nabila. 

"Lo cantik banget, gila", gumam Anya. Senyumnya makin lebar saat gadis diatasnya itu selesai melepas penutup terakhir tubuh atasnya. 

Tubuh Nabila beringsut turun dan membungkam gombalan murahan Anya Olsen itu dengan bibirnya. Anya menggeliat sesaat setelah ia sadar ia kini dibawah kendali Nabila tanpa ampun. Ia tak melakukan perlawanan saat kedua tangannya kini sudah terangkat digenggam gadis itu. 

Pagutan panas keduanya sudah menghapus sisa logika Anya. Suara nafas Nabila bersahutan dengan miliknya. Sentuhan bibir Nabila saja ternyata sudah membuatnya melayang. Rasa manis gadis itu sudah merubah mimik wajah Anya dalam waktu singkat. Nabila paling tau dirinya sehingga ketika gadis itu menyadari bahwa Anya Olsen sudah seutuhnya dalam kuasanya, ia melepaskan tautan bibirnya pada bibir Anya. 

Anya menatapnya protes. "Please...", wajahnya memerah. 

"Ekspresi ini kadang suka muncul dalam pikiran gue, An. Demi Tuhan gue bisa tiba-tiba pusing dan mabuk di siang bolong meski tanpa alkohol"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NICOTINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang