TARIAN & PENYUCIAN

51 14 0
                                        

Pagi kembali menyapa dunia, langit kembali cerah dan tidak ada lagi langit biru. Jisung masih tertidur di dalam bangunan. Jisung merasakan pipinya merasa ditepuk-tepuk oleh seseorang, Jisung menyingkirkan tangan yang menepuk pipinya, Jisung memiringkan badannya dan lanjut tidur. Pipi Jisung masih ditepuk-tepuk untuk membangunkan dirinya.

"Bangun, Jisung," bisik orang itu tepat di telinga Jisung.

Jisung membuka matanya, dirinya membalikkan badang untuk melihat siapa yang berbisik di telinganya. Jisung melihat ada Chenle yang tersenyum, Jisung mendudukkan badannya. Jisung melihat sekeliling bangunan, teman-temannya sudah tidak ada di dalam bangunan. Jisung mengusak rambutnya dan mengusap mukanya sembari mengumpulkan nyawa. Chenle merapikan rambut Jisung secara perlahan dengan tangannya. Jisung terus memperhatikan Chenle yang merapikan rambutnya, jarinya sangat telaten. Mata Jisung kembali berat, dirinya memejamkan matanya lagi dan kepalanya menyandar di perut Chenle. Chenle tersenyum sambil terus merapikan rambut Jisung.

"Ayo kita sarapan," ajak Chenle sambil terus merapikan rambut Jisung. Jisung mengangguk sebagai jawabannya.

Chenle menjulurkan tangannya, Jisung meraih tangan Chenle dengan senang hati. Chenle membawa Jisung untuk sarapan bersama warga desa dan teman-temannya. Matahari di luar bangunan sudah sangat terik, Jisung menyipitkan matanya karena matahari sangat silau. Jisung mengikuti saja setiap langkah Chenle. Saat matanya sudah mulai terbiasa, Jisung membuka matanya lebar agar dapat melihat dengan lebih jelas. Jisung dapat melihat warga desa yang awalnya duduk ataupun berdiri langsung memberikan hormat ke Jisung dan Chenle. Jisung menatap Chenle dengan penuh tanda tanya dan Chenle hanya tersenyum.

Jisung dan Chenle mendekat ke para warga yang sudah duduk melingkar di tanah, Jisung dan Chenle duduk bersebelahan. Chenle di sebelah warga desa dan Jisung di sebelah teman-temannya. Beberapa warga desa datang membawa makanan di tangan mereka, mereka menaruh makanan di depan warga desa, Jisung, dan teman-teman Jisung. Di hadapan Jisung ada sepiring nasi dan lauk serta mangkuk yang berisi cairan berwarna keruh. Jisung berpikir bahwa cairan berwarna gelap ini akan dirinya minum seperti kemarin.

"Maaf kita ga bangunin elu, kita lupa," ucap Jeno yang duduk di sebelah Jisung.

"Maafin kita, Ji," sahut Yeonjun. Jisung tetap diam mendengar ucapan dari kedua temannya.

Senandung kembali Jisung dengar, Jisung mencari siapa yang sedang bersenandung. Jisung melihat Moteris dan Vyras yang bersenandung. Jisung mulai menikmati senandung Moteris dan Vyras, sebelumnya, Jisung merasa senandung Moteris dan Vyras sangat mengerikan namun sekarang terasa sangat indah dan menenangkan hati. Jisung memejamkan matanya agar senandung Vyras dan Moteris dapat masuk ke dalam dirinya

"Kamu merasakannya?" Tanya Chenle ke Chenle dengan sedikit berbisik.

"Merasakan apa?"

"Rasa yang dapat merasakan ketenangan dan rasa yang dapat menggetarkan hati," bisik Chenle. Jisung mengangguk setuju.

"Aku merasakannya, hati aku tenang dan dapat menggetarkan hati," balas Jisung sambil tersenyum.

Vyras dan Moteris mengangkat mangkuk yang berisi cairan berwarna keluh, seluruh warga desa ikut mengangkat mangkuk yang berwarna keruh. Jisung melirik ke arah teman-temannya, Jisung melihat Mark yang ikut mengangkat mangkuk. Jisung ikut mengangkat mangkuk, Vyras dan Moteris meminum cairan yang berwarna keruh dan diikuti oleh semua warga desa. Jisung dan teman-temannya ikut meminum cairan di mangkuk. Jisung menggelengkan kepalanya, cairan itu rasanya sangat aneh. Pandangan Jisung kabur, dirinya berusaha mengembalikan pandangannya dengan menggelengkan kepala.

Di lain sisi, Vyras dan Moteris menaruh mangkuk mereka di tanah diikuti warga desa. Vyras dan Moteris menatap ke arah Chenle, Chenle mengangguk saat ditatap oleh Vyras dan Moteris. Chenle mengangkat makanan dan ingin dimasukkan ke dalam mulut, namun pandangannya teralihkan. Chenle melihat Jisung yang berada di sebelahnya, Chenle menaruh lagi makanannya. 

Solstice & Equinox | JichenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang