Malam itu Haechan masih terdiam di dalam kamarnya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada dirinya dan kandungannya. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, meskipun dirinya sudah meminum susu daripada obat tidur, semuanya terasa sia-sia.
"Kau bisa melakukannya Haechan, tidurlah, besok kau masih harus bekerja bersama dengan Tuan Jaemin," Haechan kembali mencoba untuk memejamkan matanya, namun tak lama kemudian ia malah mendengar getaran ponsel dari nakas. Panggilan itu adalah dari Jaemin, dengan jantung berdebar ia langsung mengangkat panggilan itu.
"Ada yang bisa aku bantu Tuan?" tanya Haechan,
"Datang ke kamarku sekarang juga," setelah memberikan perintah kepada Haechan, panggilan itu terputus. Tubuhnya seolah sudah terbiasa melaksanakan perintah Jaemin, kedua kakinya langsung bergerak cepat keluar dari kamarnya menuju ke kamar Jaemin.
Tubuhnya adalah hak milik Jaemin, ia terus mengulangi kalimat itu di dalam hatinya agar dia tidak melawan Jaemin sedikitpun nanti.
Haechan mengetuk pintu kamar Jaemin sebelum membuka pintu kamar tersebut, langkahnya yang tadinya lebar kini menjadi menyempit ketika ia melihat Jaemin duduk dikursi dengan sebatang rokok ditangan kanannya. Haechan berhenti ketika sudah berdiri dihadapan Jaemin,
"Kau tahu aku tidak menyukai memiliki keturunan, kan?" pertanyaan Jaemin dibalas anggukan oleh Haechan,
"Saya tahu, Tuan," jawabnya,
Jaemin menusukkan ujung panas rokok ditangannya ke perut Haechan, membakar kemeja yang dikenakan anak itu hingga mengenai kulit perutnya. Haechan tak menampilkan ekspresi apapun meski sekarang ia merasakan perih di perutnya,
"Lalu kenapa kau tidak segera menggugurkan bayi ini setelah mendapat diagnosa dari Andrew?" Jaemin melayangkan satu tendangan keras pada perut Haechan setelahnya, meskipun dari kursi, Haechan terpental hingga hampir menabrak tembok.
Pria dengan tubuh yang lebih besar dari Haechan itu berjalan menghampiri Haechan, menarik kerah kemeja anak itu untuk kembali menendang perut Haechan dengan dengkulnya berkali-kali.
"M-maaf kan aku Tuan.." pintanya,
"Jangan melawan Haechan... Jangan melawan... kau miliknya, kau tidak berhak atas hidupmu," kepala Haechan terus mengulang ucapan tersebut agar dia 'sadar diri'.
Jaemin menghajarnya berkali-kali bahkan hingga darah keluar dari mulutnya, Jaemin terus menendang perutnya tanpa henti hingga Haechan mendengar suara pintu kamar yang dibuka secara kasar. Haechan melihat Jeno disana, berlari menghampiri Jaemin hanya untuk melayangkan sebuah pukulan keras,
"Kalau kau tidak menginginkan anak ini, biarkan aku yang mengurusnya jauh darimu!" Jeno kembali melayangkan pukulan keras kepada Jaemin, keduanya saling beradu jotos selama beberapa waktu sebelum akhirnya Jeno berhasil membawa Haechan keluar dari sana dengan sisa kesadaran yang Haechan miliki.
Entah kenapa, di dunia ini Haechan merasa jika dirinya tidak pernah mendapatkan tempat. Ia tidak pernah bisa memiliki dirinya sendiri meskipun dia pemilik, meskipun dirinya yang menggerakkan seluruh otot tubuhnya.
Disaat ini, kesadaran Haechan melemah dan membuat semua pikiran buruk menghampirinya. "Aku benci semua orang,".
Malam itu, Jeno memilih untuk tidak tidur, ia memilih untuk menjaga Haechan dari jauh. Ia mengenal Jaemin lebih dari orang lain, dan kini ia khawatir kalau bayangan di pikirannya menjadi kenyataan.
Maka ketika Jeno melihat Haechan keluar dari kamar, dirinya langsung berjaga-jaga, keluar dari kamarnya yang berada di lantai 1. Jeno menunggu apa yang dilakukan oleh Jaemin dan apa yang dilakukan oleh Haechan,
"Gila, Haechan kenapa kau tidak melawan?" Jeno membuka pintu kamar Jaemin dan melawan si pemilik kamar, tidak peduli jika Jaemin adalah sahabatnya dan Tuan-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rendezvous (Nahyuck) END
Fiksi PenggemarJaemin ingin membalaskan dendamnya kepada orang yang telah merusak hidupnya, karena itulah ia membeli seorang hybrid dari penampungan terlarang untuk menjadikannya alat terbaik miliknya. Serta... peliharaan yang patuh. WARNING!! BXB Nahyuck Abuseme...
