Jalanan pagi ini cukup padat, daun yang berguguran mengotori pinggiran jalan dengan pohon yang terlihat semakin gundul.
Jaemin membiarkan Haechan memeluk lengannya, di depan mereka Jaeno sedang menaiki sepeda kayuh miliknya.
"Jaeno begitu cepat bertumbuh, seingatku baru kemarin dia hanya bisa merangkak kesana kemari," ucap Haechan, ia menatap Jaeno yang kini sudah duduk di bangku kelas satu SMP itu.
"Tidak mungkin juga dia menjadi bayi terus-menerus," jawaban Jaemin mengundang decakan dari Haechan.
Jaemin tetaplah seorang Jaemin.
"Papa, Papi! Aku lapar!" Ucap Jaeno, anak itu menghentikan laju sepedanya sambil menatap ke arah Jaemin dan Haechan.
"Anakmu itu memiliki nafsu makan Jeno sepertinya, tidak ada habisnya," ucap Haechan.
Jaemin mendengus, "Kalau dia memiliki nafsu makan sepertimu, dia akan menjadi balon," ujar Jaemin.
"Apa-apaan?! Aku tidak makan sebanyak itu!" Haechan memukul lengan Jaemein sebelum ia berjalan mendekati Jaeno,
"Tinggalkan saja Papa-mu itu," Haechan naik ke boncengan sepeda Jaeno, sementara anaknya itu tanpa bicara apapun lagi mengayuh sepedanya untuk menuju ke cafe resto yang menarik menurut mata Jaeno, meninggalkan Jaemin yang hanya tersenyum kecil melihat dua orang kesayangannya meninggalkan dirinya.
Toh, dia yang membawa dompet kali ini.
"Papa lama," ucap Jaeno yang tidak dibalas oleh Jaemin, pria itu hanya mengeluarkan dompet lalu membayar karena tahu mereka berdua tertahan di depan kasir karena belum bisa membayar.
"Terimakasih, silahkan duduk untuk menunggu pesanan," ucap si pegawai,
Jaeno berjalan terlebih dahulu, mengambil tempat di dekat jendela kaca agar bisa melihat mobilitas manusia yang sedang menjalani hari.
"Papi, aku penasaran tentang bagaimana kalian bertemu dulu?" Tanya Jaeno,
Anak itu sedang dalam masa ingin tahu semuanya dengan rasa keingintahuan yang besar menurun dari Haechan dan sifat alami kucing, ia ingin mengetahui itu.
"Papa membelinya," jawaban Jaemin tak membuat Jaeno terkejut, ia tahu apa pekerjaan Papa dan Papinya ini, sebagai seorang anak SMP Jaeno terhitung sebagai salah satu anak yang pintar dan mudah menangkap sesuatu, sama seperti Jaemin.
"Tidak heran," Jaeno hanya mengalihkan pandangan mata setelahnya, kembali menatap ke arah mobil yang terpakir di jalan.
"Kau tahu sendiri bagaimana sayangnya Papi pada Papa-mu," ucap Haechan sambil mengusap kepala anaknya,
"Ya, Papa juga begitu meski penampilannya seperti tidak ingin mencintai," jujur Jaeno yang membuat Haechan tertawa, mereka berdua sepertinya sudah sangat terbiasa dengan Jaemin. Sudah lebih dari sebelas tahun Haechan dan Jaemin bersama,
"Hari ini mau mengunjungi Ayah?" Tawar Haechan pada Jaeno, kepala Jaeno mengangguk saja. Agenda mengunjungi Jeno biasanya mereka lakukan setiap satu bulan sekali, dan Jaeno juga mengenal Jeno melalui cerita Haechan dan Jaemin tentunya.
Dan panggilan Ayah itu memang sengaja Haechan yang menyuruh, mengingat Jeno dulu sudah sangat siap untuk menjadi Ayah dari Jaeno ketika Jaemin menolak kehadiran Jaeno. Oleh karena itu Haechan meminta agar Jaeno memanggil Jeno Ayah.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang, ketiga orang itu makan dengan lahap sambil sesekali Haechan mengerjai anaknya yang tak banyak protes seperti Jaemin.
Candaan mereka terhenti ketika seorang anak kecil yang sepertinya berumur dua tahun menghampiri Haechan dan memainkan ekor Haechan yang sedang bergerak kesana kemari karena senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rendezvous (Nahyuck) END
FanfictionJaemin ingin membalaskan dendamnya kepada orang yang telah merusak hidupnya, karena itulah ia membeli seorang hybrid dari penampungan terlarang untuk menjadikannya alat terbaik miliknya. Serta... peliharaan yang patuh. WARNING!! BXB Nahyuck Abuseme...
