03 Gadis Kantor Pos

786 90 25
                                        


"Sepertinya persediaan kita cukup untuk pengiriman selanjutnya," ujar Andries yang duduk di sebelah Leon.

Hari sudah terasa tidak terlalu panas menjelang sore di Kota Kemenangan. Mobil yang mengangkut Leon dan Pamannya berjalan pelan di sisi kanal Molenvliet. Mereka baru saja dari gudang persediaan barang-barang di dekat pesisir. Selain di gudang milik perusahaan di Toko Merah, mereka menyewa gudang tambahan jika pasokan barang dari daerah berlebih. Dari rempah-rempah, kopi, teh, beras, gula, serta kain dan beberapa jenis benda kerajinan.

Perekonomian dunia sepertinya sudah bergerak membaik setelah krisis besar melanda. Malaise. Krisis itu membuat perdagangan kacau. Tuan Baron cukup cakap mengelola perusahaannya. Sehingga bisa melewati masa sulit itu dengan baik. Perusahaan bertahan, keuntungan bisa tetap didapatkan. Tapi sayangnya, dia tidak bisa berlama-lama menikmati jerih payahnya.

"Paman, apakah cerita mengenai para Bupati yang memeras petani seperti di Lebak itu benar terjadi?" Tanya Leon. Dia tidak pernah mengalami cerita semacam itu secara langsung sebelumnya. Tetapi dia tiba-tiba kepikiran setelah melihat banyaknya karung kopi yang akan dikirim ke belahan dunia yang lain.

Andries memahami, dunia Leon luas dari bacaan yang dilahapnya. Tapi pemuda itu belum pernah keluar dari kota kelahirannya. "Apakah kau membaca tulisan Multatuli?"

Leon mengangguk. Cerita tentang ketidakadilan yang dialami petani yang dipimpin seorang Bupati yang zolim. Cerita itu memicu banyak pemuda melakukan pergerakan. Seperti banyak mengisi surat kabar yang dia baca.

"Cerita itu karya yang bagus, tapi mungkin saja hanya karangan. Fiksi. Kalaupun itu terjadi, politik etnis sudah menggantikan kultur stelsel, jaman sudah berganti, Leon. Bahkan pribumi sudah bisa bersekolah bukan?"

Leon mengangguk lagi, mencoba paham. Pemerintah Hindia Belanda sudah melakukan banyak perbaikan. Mulai memikirkan nasib pribumi, katanya. Lagi-lagi dia ketahui dari surat kabar yang di abaca.

Obrolan terjeda, Leon dan Andries saling diam, tidak ada yang bertanya maupun menjawab. Seperti sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka baru saja melewati Toko Merah, kantor mereka.

"Kemarin rupanya Nyonya Meijer berkunjung ke rumahku bersama anaknya. Mereka belajar menjahit bersama istriku. Oya, Nona Marie menitip salam untukmu," cerita Andries beralih pokok pembahasan. Setelah urusan stok perdagangan selesai, dia mulai membahas mengenai hal di luar pekerjaan yang melelahkan.

Leon tidak langsung menanggapi, seperti biasanya. Dia memikirkan dulu apa maksud pamannya dengan menceritakan itu, serta menimbang bagaimana menimpalinya.

"Kau tidak tertarik untuk mengunjungi rumah Nona Marie?"

"Apakah sebaiknya saya melakukannya, Paman?"

Andries menyeringai, "Hampir setiap orang yang mengetahui cerita kalian di pesta dansa bilang kalau kalian pasangan yang serasi. Perusahaan kita juga bisa mendapat jaminan keamanan dari Ayah gadis cantik itu. Aksesmu akan semakin luas."

Leon menimbang pendapat pamannya. Suatu relasi yang menguntungkan. Baik untuk perusahaan maupun secara personal. Marie cantik, perempuan terhormat yang memiliki cita-cita untuk masuk sekolah tinggi. Pun, Leon tidak perlu berpikir keras untuk merasakan ketertarikan perempuan itu padanya. Bukankah hal itu yang dibayangkan orang-orang yang datang di pesta yang lalu, seperti kata Pamannya barusan.

Tapi entah apa yang membuat Leon enggan bergerak lebih jauh untuk memulai mendekati perempuan cantik itu. Apakah karena hubungannya terlalu transaksional? Apakah diam-diam Leon adalah pemuja cinta? Leon menimbang sangat dalam. Sepertinya dia belum merasakan getaran yang sering disebut cinta itu.

Toko Merah [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang