Gue chat Kei tadi, sekitar 1 jam setelah pulang kantor, karena ada makan-makan dadakan sama staff Accounting dan audit, kebetulan Karin hari ini, pertama dia masuk kerja, jadi gue ajak, walaupun beda departemen.
Karin ini sepupu gue yang paling kecil, umur nya baru 20 tahun, dan belum lulus kuliah, tapi dia berniat kerja lebih dulu. Tanpa sepengetahuan gue dan dia, kami papasan di kantor dan gue kaget, ternyata kami satu kantor.
"Kira-kira lebih tinggi dikit dari gue, tapi badan masih lebih buff gue lah" ujar gue sambil ngasih postur tubuh ke Karin.
Karin ngajak gue beli es krim, katanya biar nyobain gaji pertamanya dia.
"Jauh ya Kak sama gue" sehabis menyentuh kepalanya, tangan nya menyentuh puncak kepala gue, membandingkan tinggi kami yang jauh.
"Kan lo sama gue aja jauh, apa lagi sama Kei, pendek banget lo buat dia" gue tertawa dan dia ikutan tertawa sambil mendorong badan gue.
"Lo akan liat, gue bakalan punya cowok, lebih tinggi dari lo sama Kak Kei"
"Pengen liat gue. Btw Rin, temenin gue nyari kado ya, besok Kei ulang tahun"
"HAH?! Kenapa lo baru ngomong anjir" dia shock setelah sesaat menerima es krim pesanan nya.
"Mang Napa?"
"Yaudah ayooo gue temenin cari kado, buruan" setelah dia membayar es krim nya, Karin menarik gue pergi dan kamu cari kado.
Salah gue adalah, gue gak prepare apa-apa buat ulang tahun Kei. Gue baru sadar tadi pas di kantor, lagi liat kalender dan baru ngeh, Kei besok ulang tahun. Gue juga harus beli kue sebelum toko kue nya tutup, karena ini udah malem juga.
"Sama cari kue ya Rin" ujar gue.
°°°
Sampai rumah hampir jam 12, sekitar 20 menit lagi jam 12. Gue kirim chat ke Kei kok, gue bilang gue pulang telat, karena gak mungkin gue balik duluan, di saat ada direktur yang ikutan minum-minum bareng gue. Tapi, chat gue cuma di balas singkat, bahkan satu huruf doang.
Gue minum dikit, dikit banget malah, takut mabuk, takut semua yang gue siapkan buru-buru ini, jadi gak terealisasi.
Sambil gendong boneka dino yang gede banget ini dan nenteng box kue. Gue naik tangga dengan ribet, sebisa mungkin, pokoknya dia gak bangun.
Sampai di depan pintu kamar, gue prepare semua nya, kue nya, lilin, boneka, terus, gue tunggu sampai tinggal 2 menit menuju jam 12.
Gue buka pintu dengan pelan, kamar gelap, hanya cahaya dari pintu yang terbuka dan api yang ada di lilin. Baru gue berlutut di hadapannya yang masih berbaring, gue liat di sesegukan.
Nangis?.
Istri gue nangis?.
Pelan gue taruh kue itu di meja nakas.
"Sayang?" Panggil gue pelan sambil menyisir rambutnya.
"Kei kenapa? Sayang kok nangis"
"Aku gak mau di pegang pake tangan yang habis megang perempuan lain" katanya dengan suara serak.
Hah? Perempuan lain? Siapa?.
Gak paham maksud nya, gue membantu nya duduk dan gue usap air matanya. Table lamp juga gue nyalakan.
"Aku gak paham, perempuan lain ini siapa sayang?"
"Gak usah pura-pura bego kamu, aku lihat sendiri, tadi aku ke Central Park, t-te-terus liat kamu beli es krim sama itu cewek, terus dia acak-acak rambut kamu, rambut yang tiap pagi aku rapihin buat kamu, kenapa gitu loh Tetsu, emang bener kata Papa, kita cerai aj- hhmmp"
Gue tutup mulutnya, gue gak mau denger kelanjutan dari perkataannya yang malah bikin gue ke trigger juga. Masih dengan mulutnya yang gue bekap, dia masih nangis, air matanya membasahi tangan gue.
Dia? Se sayang ini sama gue? Itu Karin loh, dia se sakit itu ngeliat gue sama Karin?.
Tangan gue berhenti membekap mulutnya, dia berhenti ngomong, tapi tangis nya enggak. Tangan gue menyisir rambutnya kebelakang, mengusap tengkuk lehernya, biar dia tenang dulu, biar dia mau dengerin gue.
"Sayang. Itu Karin, sepupu aku dari keluarga Mama, ya? Kenal kan? Dia deket juga kan sama kamu" gue usap wajahnya yang basah karena air mata, berkali-kali, karena dia belum berhenti nangis. K
"Tapi kan bisa, gak usah acak-acak rambut begitu, kepala kamu punya aku, dia gak boleh kaya gitu ke kamu, gak boleh" aaaaa lucu nya, pengen gue gigit. Dia ngomong masih sambil sesegukan.
"Iya sayang, iya, nanti aku bilangin ke dia ya"
"Mana dino nya" dia notice dong gue bawa boneka dino. Gue kasih dan langsung dia peluk boneka sebesar itu.
"Suka?"
Dia mengangguk dan gue tersenyum, syukur kalo dia suka.
"Kei, gak boleh ngomong kaya tadi lagi ya. Bawa-bawa kata itu, divorce, aku gak suka, jangan ya" gue usap kepalanya, pelan, dia udah mulai tenang dan sesegukan nya udah gak se heboh tadi.
"I-iya, maaf"
Sampe lupa, kalo dia ulang tahun dan gue liat jam yang ada di nakas, udah lewat 10 menit dari jam 12. Lilin yang ada di kue juga udah mati.
"Ayo sayang, tiup lilin dulu" gue pegang kue itu di depan dia yang muka nya beler banget, matanya masih basah dan ingus nya masih di tarik-tarik dari tadi.
"Maaf ya gak bawa bunga, soalnya toko bunga nya pada tutup" ujar gue, sambil menyalakan kembali lilin nya.
"Make a wish dulu" dia mulai make a wish, lumayan lama, banyak banget ya harapan nya, tapi gapapa, semoga bisa di wujudkan satu-satu.
Kei mulai meniup lilin nya.
"Yeaayyyy. Nih a" gue mencolek kue nya dan menyodorkan ke depan mulutnya.
"Enak?"
Kei mengangguk, masih dengan memeluk bonekanya, dia balik ke posisi tidur. Gue puk puk pelan tangan nya, biar dia tidur lagi, istirahat lagi. Tapi ketika matanya hampir tertutup, dia ngomong.
"Jangan macem-macem kamu ya Tetsu"
Jujur, gue gemeter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evermore づ Kurotsuki
Fanfiction"kalo aku mati, kamu gak boleh nikah lagi ya" "Dih"
