Bab 6: Suara Hati yang Terperangkap

355 17 2
                                    

Setelah orang tua Rafael meninggalkan ruangan, Amalia merasa seolah beban di bahunya sedikit lebih ringan. Suasana damai menyelimuti kamar royal class itu, meskipun alat medis masih berdetak lembut di latar belakang. Amalia kembali mendekat ke sisi tempat tidur Rafael, memegang tangannya dengan penuh kasih sayang.

Rafael masih terbaring diam, wajahnya tenang meskipun alat-alat yang terpasang mengingatkan Amalia akan kondisi kritisnya. Amalia mulai berbicara lagi, ingin menyampaikan semua perasaannya kepada Rafael. "Kau tahu, aku sangat bersyukur kau punya orang tua yang mencintaimu begitu dalam," ujarnya pelan. "Mereka sangat mencemaskanmu dan merindukan senyummu. Kami semua merindukanmu, Rafael."

Malam mulai merayap masuk, dengan cahaya lampu lembut yang menerangi ruangan. Amalia menyiapkan beberapa buku yang sering mereka baca bersama—buku-buku yang menyimpan kenangan indah saat mereka berbagi cerita. Ia mengambil satu buku, membukanya, dan mulai membacakan bagian yang paling mereka sukai. Suaranya lembut, seolah ia ingin membawa Rafael kembali ke dunia mereka.

Saat ia membaca, Amalia merasa seolah ada ikatan yang kuat di antara mereka. Ia membayangkan Rafael mendengarkannya, menghidupkan kembali kenangan-kenangan manis yang telah mereka lewati. Setiap kata yang ia ucapkan adalah ungkapan cinta dan harapan untuk masa depan mereka.

Setelah beberapa saat, Amalia menutup buku dan mendongak, menatap wajah Rafael. "Rafael, aku tahu kau berjuang keras untuk kembali. Kami semua menunggumu. Jangan menyerah. Ketika kau bangun, kita akan melakukan semua hal yang kita impikan bersama. Kita akan pergi ke tempat-tempat yang kita inginkan, mencoba makanan baru, dan merayakan hidup."

Ketika Amalia berbicara, ia merasakan sesuatu yang aneh—seolah Rafael mendengarnya, seolah ada cahaya yang berkilau di dalam hatinya. Rasa optimis menyelimuti Amalia, membantunya tetap kuat meskipun situasi tampak sulit.

Tiba-tiba, suara ketukan lembut di pintu menarik perhatiannya. Seorang perawat masuk dengan senyuman ramah. "Sore, Amalia. Saya hanya datang untuk memeriksa keadaan Rafael dan mengganti beberapa peralatan medis."

Amalia tersenyum kembali. "Tentu, terima kasih telah datang. Aku baru saja mengajak bicara dengannya."

Perawat itu mulai melakukan pemeriksaan rutin, memeriksa alat-alat yang terpasang dan memastikan semua berjalan dengan baik. Sambil bekerja, ia menatap Amalia dengan penuh empati. "Kau sangat beruntung bisa merawatnya. Pangeran Rafael adalah orang yang luar biasa. Dia selalu memiliki semangat yang kuat."

Amalia mengangguk, merasakan kebanggaan akan cinta yang ia miliki untuk Rafael. "Saya percaya dia akan bangkit lagi. Kami semua mencintainya, dan saya yakin cinta kami akan membantunya."

Setelah selesai dengan pemeriksaan, perawat itu menepuk bahu Amalia. "Teruslah berbicara dengannya. Itu sangat membantu. Kita tidak pernah tahu betapa kuatnya pikiran dan perasaan kita dalam memengaruhi pemulihan."

Amalia berterima kasih kepada perawat itu sebelum ia meninggalkan ruangan. Ia kembali duduk di samping Rafael, mengambil tangannya dan merasakan harapan yang semakin membara di dalam hatinya.

Ketika malam semakin larut, Amalia mulai merasa lelah, tetapi ia tidak ingin meninggalkan Rafael sendirian. Ia menarik selimut lebih dekat, lalu berbaring di sofa dengan pandangan terus-menerus ke arah Rafael. "Aku akan tetap di sini bersamamu, Rafael. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Aku akan menunggumu."

Dengan suara lembut, Amalia mulai bernyanyi, lagu-lagu yang pernah mereka nyanyikan bersama. Ia berharap suaranya bisa menjangkau hati Rafael, membawanya kembali ke dunia mereka.

Di luar, bintang-bintang bersinar cerah di langit malam, menciptakan keindahan yang seolah memantulkan harapan Amalia. Ia tahu, meskipun jalan yang harus mereka lalui masih panjang, cinta mereka adalah kekuatan yang tidak akan pernah pudar. Dan dengan itu, Amalia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berjuang, berharap dan menunggu, hingga Rafael kembali ke pelukannya.

LOVE IN SILENCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang