Pagi hari, beberapa murid mulai berdatangan masuk kelas, membawa energi baru setelah malam sebelumnya.
"Si, kok lo kemarin nggak ngasih kabar sih?" tanya Karina begitu melihat Sieun duduk di bangkunya.
"Hehe, HP gue mati kemarin," ucap Sieun sambil memasukkan buku ke laci meja.
Chaeyeon yang awalnya duduk di bangkunya akhirnya berdiri dan berjalan mendekati Sieun. "Jadi dijemput kakak lo kan kemarin?"
"Dia pulang bareng gue," sahut Jeno dari bangkunya sebelum Sieun sempat menjawab.
"Loh? Kok bisa?" Lia yang duduk di sebelah Jeno langsung menoleh.
Sieun menghela napas kecil, sedikit merasa nggak enak karena ada Chaeyeon di situ. "Nggak sengaja ketemu di supermarket, udah mau kemaleman banget jadi Jeno nganter gue."
"Oalah gitu, syukur deh untung ada Jeno kemarin. Kemarin lo nggak bisa dihubungi, gue sempat kepikiran takut-takut lo diculik," ucap Chaeyeon dramatis.
Sieun tertawa kecil. "Nyampe rumah gue nggak buka HP langsung tidur sih."
"Lo nggak chat kita dulu kek buat ngabarin," ujar Karina, sedikit menggerutu.
"Hehe, gue bener-bener udah ngantuk banget kemarin, sorry ya," balas Sieun sambil tersenyum.
Tiba-tiba, dari depan pintu kelas terdengar suara salah satu murid dari kelas lain. "Dabin dipanggil Bu Jisoo di ruangannya."
Dabin yang sibuk merapikan bukunya langsung menoleh. "Oh iya, makasi ya."
"Ada apaan tuh?" tanya Haechan, penasaran.
"Nggak tau, gue kesana dulu ya," ucap Dabin sebelum beranjak pergi meninggalkan kelas menuju ruangan Bu Jisoo.
Tok tok tok tok.
"Assalamualaikum," ucap Dabin saat memasuki ruangan Bu Jisoo.
"Waalaikumsalam," sahut Bu Jisoo dengan senyum hangat. "Dabin ya? Duduk dulu sini."
Dabin mengangguk dan duduk di kursi yang tersedia, sedikit bertanya-tanya apa yang akan dibahas.
"Ada apa ya, Bu?" tanyanya, mencoba memastikan.
Bu Jisoo menyusun beberapa berkas sebelum akhirnya berkata, "Gini, Nak Dabin. Si Tyas yang ikut OSN Matematika bersama Sungbum terpaksa mengundurkan diri karena opname. Ibu ingin kamu maju menggantikan Tyas untuk mewakili sekolah dalam OSN Matematika bersama Sungbum. Gimana menurut kamu?"
Dabin membelalakkan mata, sedikit terkejut. "Saya?"
Bu Jisoo mengangguk, tersenyum lembut. "Iya, Ibu yakin kamu bisa. Nilai kamu selama ini bagus dan kamu punya kemampuan yang cukup."
Dabin menggigit bibir bawahnya, masih sedikit ragu. "Tapi waktunya tinggal satu minggu lagi, Bu. Saya takut nggak bisa mengejar ketertinggalan materi."
Bu Jisoo mengangguk memahami. "Nanti Ibu buatkan surat dispen untuk satu minggu ke depan. Kamu bisa belajar di perpustakaan sama Sungbum. Yang penting lakukan sebisamu, Ibu nggak maksa harus menang kok. Bisa, kan?"
Dabin menarik napas pelan lalu mengangguk mantap. "Baik, Bu. Saya bersedia."
Bu Jisoo tersenyum puas. "Terima kasih ya, Nak. Dabin mau dibuatkan surat dispen sekarang atau besok saja? Ini masih jam pelajaran ketiga, kan?"
Dabin berpikir sebentar, lalu menjawab, "Sekarang boleh, Bu. Biar saya bisa mulai merekap materi dulu supaya lebih mudah dipelajari nanti."
"Baiklah kalau begitu," ucap Bu Jisoo sambil mengambil berkas, lalu menuliskan surat dispen untuk Dabin. Setelah selesai, ia menyerahkan surat tersebut kepada Dabin. "Ini surat dispennya. Nanti kamu sama Sungbum, ya. Sekalian ini juga ada surat dispennya Chani, tolong suruh dia ke lab fisika."
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bangku SMA | 00 Line
Fanfiction(00 Line) "Kita bukan hanya teman sekelas, sekarang kita juga keluarga" -Elsio Cerita yang lebih berfokus pada persahabatan namun ada sedikit bumbu-bumbu percintaan dan pertikaian anak sekolah Warning! Mengandung kata-kata kasar atau umpatan Design...
