BAB 31

2.9K 150 22
                                        

Empat bulan kemudian.

"Huh... S-Sunghoon..." suara Sunoo terdengar nyaris terputus, bergetar oleh rasa sakit yang semakin menusuk. Tangannya mencengkeram erat lengan Heeseung yang berdiri di samping ranjang, wajahnya yang pucat dibasahi keringat dingin. "Sakit... hiks..." lirihnya sambil menahan air mata yang mengalir di sudut matanya. Kontraksi demi kontraksi datang semakin hebat.

Heeseung menggenggam tangan Sunoo lebih erat, menatap sahabatnya dengan penuh perhatian dan kekhawatiran. "Sunoo, dengarkan aku," bisik Heeseung dengan lembut, "atur napasmu pelan-pelan, ya? Sunghoon sedang dalam perjalanan, dia akan segera sampai," lanjutnya mencoba menenangkan. Wajahnya menunjukkan ketulusan, dan suaranya lembut seolah-olah ingin membagikan sedikit kekuatan kepada Sunoo yang tengah berjuang keras.

Sunoo mengangguk kecil meski matanya masih menutup rapat, berusaha meredam rasa sakit yang datang bertubi-tubi. Ketika Heeseung berkunjung ke apartemen Sunoo pagi itu, mereka sama sekali tak menduga bahwa kontraksi akan datang dengan cepat, memaksa Heeseung segera membawa Sunoo ke rumah sakit.

"Akh!" Sunoo meringis lagi, tubuhnya bergetar hebat saat dokter memberitahunya bahwa mereka harus menunggu satu pembukaan lagi sebelum proses persalinan bisa dimulai. Waktu terasa berjalan begitu lambat bagi Sunoo, setiap detik berlalu seakan penuh dengan rasa sakit yang semakin tajam.

Heeseung mengusap dahi Sunoo, berusaha menenangkan, saat pintu ruang persalinan tiba-tiba terbuka. Sunghoon muncul dengan wajah panik, matanya langsung tertuju pada Sunoo yang tengah terbaring dengan ekspresi penuh penderitaan. Ia segera melangkah mendekat, menggantikan Heeseung yang kemudian menyerahkan tangan Sunoo kepada suaminya.

"Sunghoon, tolong temani dia," bisik Heeseung pelan sebelum meninggalkan ruangan, memberikan waktu bagi Sunghoon untuk mendampingi istrinya dalam momen penting ini.

Sunghoon menatap wajah Sunoo yang basah oleh keringat dan air mata. Rasa sakit Sunoo terlihat jelas, membuat hati Sunghoon teriris. Ia menggenggam tangan Sunoo lebih erat, membisikkan kata-kata penuh kasih dan semangat di telinganya. "Kamu bisa, Sunoo, aku di sini. Ayo, atur napasmu," ucapnya lembut sebelum mencium dahi Sunoo yang sudah panas karena kelelahan.

Sunoo merespons dengan anggukan lemah, matanya penuh ketegangan. Namun, saat dokter meminta Sunoo mulai mendorong, tangannya mencengkeram lebih erat lagi, seolah seluruh kekuatannya disalurkan untuk melahirkan bayinya. Tangannya yang bebas meremas sisi ranjang, berusaha sekuat tenaga mendorong, meski rasa sakit membuat seluruh tubuhnya bergetar.

***

Di luar ruangan, Jake dan Heeseung menunggu dengan sabar. Jaeyoon, yang duduk di pangkuan Jake, tampak gelisah. Ia terus menggoyang-goyangkan kakinya, matanya sesekali menatap pintu ruang persalinan dengan penuh rasa penasaran. "Kenapa adik lama sekali?" gumamnya pelan, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan bertanya.

Jake dan Heeseung saling pandang sejenak, menahan tawa mereka. "Sebentar lagi, sayang. Kau harus bersabar," kata Heeseung sambil mengusap lembut rambut hitam Jaeyoon. Heeseung tersenyum kecil melihat wajah putranya yang sangat mirip dengan Jake-sesuatu yang dulu hampir membuatnya merajuk ketika Jaeyoon lahir. Ia berpikir bahwa Jake menyumbang gen terlalu kuat, mengingat putra mereka tampak seperti miniatur suaminya.

Tiba-tiba, suara tangisan bayi yang nyaring memenuhi lorong rumah sakit, membuat Jaeyoon langsung menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar, penuh kegembiraan. "Adik sudah lahir?" tanyanya penuh harap, menatap kedua orang tuanya.

Heeseung dan Jake tersenyum lebar, kompak mengangguk. "Iya, adikmu sudah lahir," jawab mereka dengan nada penuh kebahagiaan. Gurat lega dan sukacita terpancar di wajah mereka, menandakan satu babak baru dalam kehidupan yang akan segera dimulai.

From God To Mee [JAKESEUNG]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang