"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia."
_Ali bin Abi Thalib_
°°°°°
"Cepat!!!" ucap satpam yang menjaga pintu gerbang,
"Ayo, Nal!!, duh ini mah kita telat Mulu perasaan" ucap Rania,
"Iya nih, kita pasti udah di tandain sama bapaknya" ucapku,
Selepas membeli sarapan tadi aku dan Rania terlalu asyik sampai lupa jam masuk sekolah. Akhirnya kami terburu-buru pergi ke sekolah sampai Rania hampir terjatuh di jalan.
Perjalanan menuju sekolah memang penuh tantangan, jalannya menanjak dan sedikit becek karena semalam turun hujan. Dan alhasil benar sekali, sekarang aku dan Rania telat dan kami harus di hukum,
janji deh besok aku gak mau kayak gini lagi...malu banget...
Aku dan Rania berkumpul dengan murid-murid lain yang juga sama terlambat seperti kami.
Emang ya para santri/Wati ini setia kawan sekali. Mereka solidaritasnya tinggi sampai-sampai di hukum juga berbarengan seperti ini hehe..
Kami disuruh berdiri dilapangan dan menghadap ke tiang bendera, kami menghadap guru BK dan disuruh menyanyikan lagu Indonesia Raya juga mengumpulkan sampah yang berserakan di sekitar sekolah.
"Dah lah pasrah aja ini mah, panas banget lagi" keluh Rania,
"Ayo..udah cepat jangan ngeluh Mulu" ucapku,
Aku melangkah kesana-kemari memungut sampah supaya hukuman ini cepat selesai. Sampai pada akhirnya mataku melihat sepasang mata yang aku kagumi.
Ya, mata Devan. Kaum Adam yang dari dulu sampai sekarang aku memendam perasaan padanya, hingga tidak ada satupun teman yang mengetahuinya. Hanya aku dan Allah saja yang tau bagaimana hati ini bekerja untuknya.
Dia sedang duduk bersama temen-temen sekelasnya di koridor sambil melihat kami yang dihukum. Aku tidak tau mengapa dia melakukan hal itu, aku juga tidak berharap bahwa dia ingin melihatku, memang siapa aku baginya?
Ngapain juga Devan harus melihat orang yang dihukum kayak gini, gak ada kerjaan banget,
"Nal?" tanya Rania menyadarkanku,
"Apa, Ran?" ucapku,
"Kamu lagi liatin siapa sih? Serius amat?" tanya Rania,
"Nggak kok" ucapku biasa saja seolah aku tidak sedang melihat siapa pun,
"Ya udah yuk, kita pergi ke kelas, udah selesai ini. Kayaknya di kelas aku udah ada guru deh, duluan yaa" ucap Rania lagi,
Dia menghambur pergi dari hadapanku mengejar teman sekelasnya yang juga terlambat.
Aku melihat dari kejauhan bahwa Devan masih berdiam diri di tempat yang sama, aku menghela napas dan lalu pergi masuk ke kelas dengan harap dan cemas.
Alhamdulillah ternyata di kelasku 'jamkos' maksudnya jam kosong
Mungkin Minggu ini masih awal-awal perkenalan kelas XII, kami di bebaskan karena guru-guru sering mengadakan Rapat tentang kurikulum baru yaitu kurikulum merdeka.
°°°°°
Ketika di sekolah aku selalu merasakan jenuh, gak tau kenapa. Semua terasa hambar tak menyenangkan dan tak bermakna masa sekali. Sesekali diri ini pernah berpikir
'Bagaimana rasanya sekolah di luaran sana? Bagaimana rasanya pergi sekolah dari rumah atau diantar oleh orang tua'
Banyak sekali pikiran-pikiranku yang mengarah ke arah sama. Ya, itu adalah bentuk dimana diri ini nggak bersyukur dengan apa yang telah Allah tetapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BeautifuLight
Teen FictionIni adalah kisahku. Kisah seorang gadis yang menceritakan bagaimana kehidupan mengajarkannya untuk menjadi manusia yang meyakini sebuah takdir terbaik yang telah Tuhan berikan kepadanya. Ujian, cobaan hidup, kebahagiaan, kesedihan, dan perjuangan...
