Prolog

67 3 0
                                    

Mata seorang anak laki-laki yang mengukir kebahagiaan. Sambil tersenyum, ia meniup api di atas angka enam, menatap kue ulang tahun rasa coklat dengan tidak sabar. Di setiap sudut berkilau menerangi kebahagiaan si bocah. Sang ibu berjongkok agar menyamai tingginya si buah hati. Kemudian, Mama berbisik, "Selamat ulang tahun, sayang. Semoga kelak kamu menjadi anak yang baik, pintar, dan selalu membanggakan kami. Inget ya, Yasa. Mama dan Papa akan selalu bersamamu."

Yasade Madhave mengangguk semangat sembari menarik-narik baju Papa, "Papa, Asa mau kue!"

Papa tertawa sembari membawa Yasa ke gendongannya, "Iya, Asa. Tapi, kita harus foto dulu, ya? Panggil Kak Diyonya dulu, dia masih main sama temennya."

Mata indah Yasa mengikuti jari telunjuk Papa, ia melihat sang Kakak, tengah bermain kubus balok bersama temannya di acara ulang tahun miliknya. Acara ulang tahun ini hanya dihadiri oleh saudara dan teman terdekat Yasa serta Diyo. Namun, kala itu, Yasa masih memiliki rasa peduli sedikit. Sebab yang sebenarnya terjadi ialah, hanya satu atau dua orang temannya yang hadir ke acara ulang tahunnya dari belasan teman sekelasnya. Sementara, di tempat ini tidak jarang ia melihat teman sang Kakak berlarian ke sana dan sini.

Anak itu turun dari gendongan Papa, ia menghampiri dan menarik baju Diyo untuk segera mengambil foto. Perut Yasa sangat rewel membayangkan kue coklat.

Membutuhkan sedikit waktu untuk mereka mengambil foto keluarga. Kemudian menyibukkan diri masing-masing. Mama mengobrol dengan orang tua teman kakaknya, Papa menjawab telepon dari kantor, dan Kak Diyo yang masih asyik bermain lari-larian dengan teman-temannya.

Di keramaian itu, hanya Yasa yang merasa kesepian selagi menatap kue coklat.

To be continued.

Skenario de YasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang