18

17.4K 785 30
                                        


"Papi sama Pipi pulang dulu, adek kalau libur sekolah jangan lupa main ke rumah, ya?" Ucap Seonghwa, merapihkan rambut hitam sang anak dengan lembut.

Wonbin mengangguk, walau ada rasa sedih.

"Adek bisa video call sama Papi dan Pipi, jangan lupa kabarin kakak kamu. Dia nanyain kamu terus, cerewet banget." Kata Hongjoong.

Wonbin tersenyum mendengarnya, kemarin saat makan malam mereka sempat video call. Awal Wooyoung tampak senang tapi setelah itu marah, katanya Wonbin nggak sayang Wooyoung karena nggak pernah ngabarin. Mukanya juga di buat sedih, padahal Wonbin tau kalau itu bohong. Wonbin kan cuma mendengus habis itu ngangguk, tentu aja buat Wooyoung berteriak heboh.

"Adek, Pipi pasti kangen adek banget." Kata Seonghwa yang kini memeluk tubuh mungil sang anak dan menggerakkannya ke kanan kiri.

"Adek juga." Seonghwa diam, pria manis itu memejamkan matanya dan tersenyum.

"Adek baik-baik ya disini, jangan lupa kabarin papi sama pipi, oke?" Wonbin tersenyum.

"Okeeeee."

Hongjoong menatap Sungchan yang sejak tadi diam melihat mereka.

"Om minta tolong sama kamu, Chan. Jaga Wonbin selama di sekolah, ya? Om takut anak cantik om kenapa-napa." Kata Hongjoong, Sungchan tersenyum dan mengangguk.

"Iya, om."

Suara bel masuk berbunyi, Seonghwa tersenyum menatap Wonbin.

"Sana masuk, nanti kalau sudah sampai pipi kabarin." Wonbin mengangguk, kembali memeluk tubuh kedua orangtuanya sebelum berpamitan untuk masuk ke dalam kelas bersama Sungchan.

Wonbin melambaikan tangannya, setelah itu berjalan beriringan dengan Sungchan dan beberapa siswa lainnya.

Seonghwa menatap punggung sang anak yang menjauh, sebelum masuk ke dalam mobil.

"Ngapain kak?" Tanya Wonbin saat Sungchan ikut berjalan dengannya menuju kelas Wonbin.

Lorong kelas mereka itu beda, kelas Sungchan ya ada di sebrang lorong kelas Wonbin yang di tengahnya itu lapangan.

"Anter lu."

"Aku bisa sendiri, kalau kakak anter aku nanti gurunya keburu masuk."

"Rajin amat guru habis bell langsung masuk."

"Loh? Emangnya nggak?"

"Kaga."

...

Jeno menatap layar laptopnya, pria tampan itu sedang fokus dengan pekerjaannya yang ada di kota.

Tok tok tok

"Masuk sayang." Kata Jeno, karena tau pasti Jaemin yang mengantarkannya kopi.

Senyum yang Jeno kembangkan perlahan luntur saat melihat siapa yang masuk, pria tampan itu menatap Kylo yang membawakan kopi dengan senyum malu.

"Mana Jaemin?" Tanya Jeno.

Kylo menghentikan langkahnya.

"Saya tidak tau, tuan." Jawab Kylo.

"Keluar."

"Tapi tuan kopi anda?"

"Keluar."

"Tuan—"

"Apa kau tuli? Keluar!" Kylo tersentak, pemuda manis itu kemudian membalikkan tubuhnya dengan takut.

Mas Jeno | Nomin [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang