Di hadapan lensa kamera, Jeanne adalah mahakarya kesempurnaan. la dipuja dunia karena kepolosan yang tampak tanpa cela sebuah peran yang ia mainkan dengan sangat apik sepanjang hidupnya. Namun, panggung sandiwara Jeanne mulai goyah saat Vincent, seo...
Lampu neon di ruang redaksi sudah lama padam, menyisakan keremangan yang hanya ditembus oleh pendar biru dari layar monitor milik Vincent.
Pemuda itu tidak peduli pada jam dinding yang sudah melewati angka dua pagi. Baginya, waktu adalah sekadar angka yang tidak relevan selama ia belum menemukan "retakan" itu.
Di hadapannya, ratusan tab terbuka. Semuanya menampilkan wajah yang sama: Jeanne Primarily.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeanne yang tampak seperti malaikat jatuh dari langit yang lupa cara untuk berbuat dosa. Dunia mengenalnya sebagai mahakarya kesempurnaan.
Namun, bagi Vincent, kesempurnaan itu adalah sebuah penghinaan terhadap akal sehatnya. Sebagai seorang jurnalis muda yang ambisius, ia tahu bahwa di balik setiap dinding yang terlalu putih, pasti ada noda yang disembunyikan dengan sangat rapi.
"Tidak ada manusia yang sebersih ini, Jeanne," bisik Vincent pada layar monitor. Suaranya serak, matanya merah karena kurang tidur. "Kau bukan malaikat. Kau hanya seorang aktris yang sangat bagus, dan aku akan menjadi orang yang menurunkan tirai panggungmu."
Vincent bukanlah jurnalis senior yang memiliki jam terbang tinggi, namun ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki rekan sejawatnya: obsesi yang nyaris gila.
Ia bosan menulis berita tentang skandal politikus rendahan atau kenaikan harga bahan pokok. Ia ingin namanya terpampang di tajuk utama nasional. Ia ingin menjadi jurnalis yang berhasil menelanjangi rahasia terbesar dari ikon paling dipuja di abad ini.
Obsesi ini bukan lagi sekadar pekerjaan; ini adalah validasi yang ia butuhkan untuk membuktikan bahwa dirinya adalah yang terbaik.
Tangannya bergerak lincah di atas keyboard. Ia telah menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk satu hal: mencari tahu di mana Jeanne akan berada selanjutnya.
Agensi Jeanne, L'Élite, sangat tertutup. Mereka menjaga jadwal Jeanne lebih ketat daripada protokol keamanan negara.
Tapi Vincent punya cara lain. Ia mulai menelusuri kontrak-kontrak vendor katering, penyewaan lampu panggung, hingga izin penutupan jalan di berbagai sudut kota. Ia mengikuti jejak uang, karena uang tidak pernah bisa berakting.
Hingga akhirnya, sebuah nama muncul di layar: Grand Central Warehouse, Dermaga 7. Besok jam 10 pagi. Pemotretan eksklusif untuk koleksi musim dingin Noir et Blanc.
Vincent menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya. "Dapat kau." __________
Keesokan harinya, udara pagi di pelabuhan terasa lembap dan berbau karat. Vincent berdiri di kejauhan, mengenakan jaket hoodie gelap yang membantunya melebur dengan kerumunan pekerja pelabuhan.
Di tangannya, sebuah kamera dengan lensa tele panjang tersembunyi di balik tas kain lusuh senjata utamanya untuk membedah realitas.
Ia melihat iring-iringan mobil hitam mewah masuk ke area gudang tua yang telah disulap menjadi set pemotretan.