Chapter 4

79 7 0
                                        

Sean tidak langsung kembali ke tempatnya. Ia berdiri di balkon yang menghadap ke arah pintu masuk ruang bawah tanah.

Tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebuah pemantik api perak tua. Ia menyalakan api kecil, menatap lidah api itu dengan pandangan kosong, sebelum akhirnya mematikannya dengan satu sentakan kasar.

Langkah kakinya membawa Sean kembali ke sel Vincent.

Cahaya lampu koridor yang sengaja ia redupkan membuat suasana semakin mencekam. Vincent masih terduduk di posisi yang sama, napasnya berat, namun kepalanya terangkat saat mendengar langkah Sean.

"Kau kembali untuk memotong lidahku?" tanya Vincent dengan nada mengejek yang lemah.

Sean tidak menjawab. Ia justru mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan membuka pintu sel itu dengan suara klik yang tajam. Sean masuk ke dalam, lalu meletakkan sebuah botol air mineral dan sepotong roti lapis yang dibungkus kertas minyak di lantai, tepat di depan jangkauan Vincent.

Vincent mengerutkan kening. "Apa ini? Jebakan? Atau kau mulai merasa bersalah?"

"Makanlah. Aku tidak ingin mengurus mayat jurnalis di rumah ini," ucap Sean dingin, suaranya nyaris berbisik.

Vincent meraih roti itu dengan rakus, meskipun tubuhnya gemetar karena lemah.

Sean terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke arah dinding beton yang lembap. "Dia sedang tidak stabil. Ada bagian dari dirinya yang sedang hancur di atas sana, dan kau adalah pemicunya. Jangan merasa menang, Vincent. Saat seseorang tidak lagi memiliki beban untuk kehilangan, mereka menjadi jauh lebih berbahaya."

"Kau bicara seolah dia adalah korban," desis Vincent sambil mengunyah rotinya.

"Terkadang, batas antara pemangsa dan mangsa itu sangat tipis," balas Sean. "Satu saran dariku saat dia kembali nanti, jangan menyebut tentang masa lalu lagi. Jika kau terus menggali lubang yang sudah terkubur, kau mungkin akan ikut terkubur di dalamnya sebelum sempat menuliskan berita itu."

Vincent terdiam, roti di tangannya terhenti di depan mulutnya. "Jika kau begitu peduli padanya, kenapa kau membiarkannya melakukan kejahatan ini? Menyekapku adalah tindak kriminal, Sean. Kau justru mempercepat kehancurannya."

Sean berdiri kembali, bayangannya menutupi tubuh Vincent yang ringkih. "Karena terkadang, membiarkan seseorang melakukan kesalahan kecil adalah satu-satunya cara untuk mencegah mereka melakukan kesalahan yang lebih fatal. Tapi kau, kau adalah variabel yang tidak bisa kukendalikan."

Sean keluar dan mengunci pintu sel dengan dentingan logam yang tajam, meninggalkan Vincent yang kini mulai bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi di atas sana yang membuat seorang Sean terlihat begitu khawatir?

Vincent menatap botol air di sampingnya, lalu beralih ke jeruji besi yang mengunci dunianya. Ia menyadari bahwa jika ia tetap di sini, ia hanya akan menjadi saksi kehancuran Jeanne tanpa bisa berbuat apa-apa, atau lebih buruk lagi, dilenyapkan oleh Sean jika situasi di atas semakin tidak terkendali.

Ia mulai mengamati pola langkah penjaga di koridor luar, menghitung durasi antara setiap patroli yang lewat.

Dalam keheningan itu, obsesi jurnalistiknya kembali membara ia harus keluar, bukan hanya untuk menyelamatkan nyawanya, tetapi untuk memastikan kebenaran yang ia temukan tidak ikut terkubur bersamanya.
__________

Vincent mengamati sel sekelilingnya dengan saksama, mencari kelemahan di tengah penjagaan yang sangat ketat. Ia menyadari bahwa jeruji besi selnya memiliki celah kecil pada bagian engsel yang tampak sedikit berkarat akibat kelembapan ruang bawah tanah.

Dengan tenaga yang tersisa, ia menggunakan ujung botol plastik air mineral untuk menekan bagian engsel tersebut secara berkala, menciptakan getaran yang hampir tak terdengar namun perlahan melonggarkan bautnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Silent HeadlineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang