Apartemen Vincent adalah sebuah museum kecil bagi kegilaan. Cahaya dari lampu meja yang sudah berkedip-kedip menyinari ribuan lembar kertas yang ditempel di dinding.
Di sana, wajah Jeanne seolah sedang menatapnya dari segala arah. Vincent duduk di tengah kekacauan itu, mengabaikan bau mie instan dingin yang telah mengeras di wadahnya.
Matanya yang memerah tertuju pada layar ponselnya yang tiba-tiba menyala, memecah kesunyian malam yang mencekam.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar. Tanpa nama, hanya deretan angka acak yang mengirimkan sebuah kalimat singkat namun mampu membekukan aliran darah Vincent.
"Jeanne Primarily bukan porselen yang kau kira. Dia adalah abu yang dikumpulkan dari api yang dia sulut sendiri. Cari tahu tentang 'Tragedi Panti Asuhan Saint Jude 2005'. Aku memegang kuncinya, jika kau berani membuka pintunya."
Jantung Vincent berdegup kencang. Saint Jude. Nama itu asing, namun terasa seperti sebuah potongan puzzle yang selama ini ia cari di bawah tumpukan kebohongan agensi L'Élite.
Baru saja jarinya hendak mengetik balasan, sebuah dentuman keras mengguncang pintu apartemennya.
BRAK!
Pintu kayu tua itu hancur seketika, terlepas dari engselnya seolah hanya terbuat dari kertas. Vincent tersentak, refleks meraih kamera tele panjangnya seolah benda itu bisa melindunginya.
Dari balik debu kayu yang beterbangan, muncullah Sean. Pria itu berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang licin tanpa cela, ekspresinya sedingin es kutub.
Di belakangnya, tiga orang pria bertubuh raksasa yang lebih mirip gunung otot daripada manusia merangsek masuk, memenuhi ruangan apartemen Vincent yang sempit.
"Tuan Vincent," suara Sean terdengar berat dan monoton. "Nona Jeanne merasa pertemuan kalian di dermaga tadi pagi belum berakhir dengan cukup sopan. Beliau mengundang Anda untuk meluruskan beberapa hal."
Vincent mundur selangkah, punggungnya menabrak meja kerja. "Katakan pada majikanmu, aku tidak tertarik pada undangan dari seorang aktris sandiwara."
Sean tidak tersenyum. Ia hanya memberikan kode kecil dengan jempolnya. Dua pengawal bertubuh besar itu maju dengan langkah berat yang membuat lantai apartemen Vincent bergetar.
Vincent tahu ia kalah jumlah, namun insting bertahannya mengambil alih. Saat pengawal pertama mencoba mencengkeram bahunya, Vincent menunduk dan menghantamkan kursi kayu ke arah lutut pria itu. Suara kayu patah terdengar, disusul erangan rendah.
Vincent mencoba berlari menuju jendela, namun pengawal kedua dengan cepat menjegal kakinya.
Baku hantam pecah di antara tumpukan kertas riset. Vincent cukup kuat ia adalah jurnalis lapangan yang terbiasa berkelahi di kerumunan demonstrasi. Ia berhasil mendaratkan pukulan telak di rahang salah satu pengawal, namun kekuatan fisik yang sangat jomplang membuatnya tak berdaya saat Sean sendiri turun tangan.
Dengan satu gerakan cepat dan taktis, Sean menghantamkan lututnya ke perut Vincent, membuat pemuda itu kehilangan napas.
Vincent tersungkur di lantai, wajahnya menempel pada salah satu foto Jeanne yang ia spidol merah. Darah dari bibirnya menetes di atas wajah cantik yang ia benci sekaligus ia puja itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Headline
Teen FictionDi hadapan lensa kamera, Jeanne adalah mahakarya kesempurnaan. la dipuja dunia karena kepolosan yang tampak tanpa cela sebuah peran yang ia mainkan dengan sangat apik sepanjang hidupnya. Namun, panggung sandiwara Jeanne mulai goyah saat Vincent, seo...
