Arion duduk di bangku belakang. Dia sedang memangku Cirrus dan menatap supirnya dengan tatapan rumit.
"Apakah kamu terbiasa berbicara kasar seperti itu?" tanya Arion tiba-tiba mengejutkan si supir.
"Ti-tidak tuan, saya tadi hanya sedikit terkejut. Orang-orang di tempat ini memang kebanyakan ceroboh, tuan mohon jangan terlalu ambil hati," ujar si supir berharap Arion mengerti.
"Kamu membuat putraku terkejut."
Supir itu sedikit menegang. "Maaf tuan, saya tidak bermaksud kasar sebenarnya, hanya saja orang tadi membuat saya terkejut dan tanpa sadar menjadi sedikit emosi."
Arion menunduk menatap Cirrus yang mendongak menatapnya dalam diam. Mata anak itu besar, sedikit bergetar karena ketakutan dengan tutur kata kasar si supir itu sebelumnya.
"Gerbang TK itu sempit, kamu lah yang membawa mobil dengan begitu cepat dan berbelok tajam secara tiba-tiba, mungkin jika orang itu tidak memiliki reflek kuat mereka pasti akan tertabrak."
"Tuan, maaf, saya tahu saya salah, tapi–"
"Jika kamu tahu kamu salah berhentilah mengelak dan membela diri."
Supir itu langsung diam. Dia tidak berani melawan lagi dan hanya bisa menciutkan leher karena takut.
"Aku masih menegurmu dengan ringan sekarang, aku memperkerjakanmu untuk mengantar jemput putraku kedepannya, aku tidak ingin membuat putraku dalam bahaya dengan gaya mengemudimu yang ugal-ugalan itu."
"Ba-baik tuan, saya mengerti dan saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Hum, berhati-hatilah untuk kedepannya."
Arion membuka pintu mobil. Dia turun dengan Cirrus di gendongannya.
"Daddy apakah Daddy sedang marah?"
Tangan kecil Cirrus yang halus terulur untuk mengelus rahang Arion.
"Tidak, daddy baik-baik saja dan tidak marah sama sekali."
Cirrus merebahkan kepala kecilnya di bahu Arion. "Daddy berbohong, daddy marah."
Arion menghela nafas pelan. Dia memang selalu tidak bisa bersembunyi dari putra kecilnya ini.
Cirrus selalu berhasil mengetahui setiap emosinya dengan kepekaannya yang luar biasa.
"Tidak apa-apa, daddy hanya sedikit kesal itu saja."
Arion mengelus punggung Cirrus dengan penuh kasih sayang. "Jangan takut, daddy tidak akan menyakiti Cirrus."
"Um, Cirrus selalu percaya kepada daddy."
Arion tersenyum kecil, mengecup dahi Cirrus penuh kasih sayang tanpa menyadari ada seorang anak kecil yang menatapnya tajam dari sudut jauh di belakang.
-
Rully merasa ada yang tidak beres dengan Rion.
Saudara kembarnya itu memang biasanya tidak suka banyak bicara, tapi dia jelas tidak pernah menjadi sediam ini.
Ada apa ya kira-kira?
"Rully apa kamu mengerti dengan cara perhitungan ini?"
Seorang anak laki-laki yang manis menarik ujung seragam Rully. Dia sekilas tampak cantik dengan kulit bersih dan rambut keriting tipis.
Rully menatapnya sejenak. Dia menerima buku tulis yang diserahkan dan mengamati beberapa soal yang tertulis dengan dahi berkerut bingung.
"Aku tidak mengerti, bagaimana ya? Coba kamu tanya saja kepada Rion."
Yuan, dia menatap Rully dengan wajah cemberut. "Kamu bodoh!"
Rully tersentak kaget. "Apa maksudmu? Aku bilang aku tidak mengerti bukan bilang aku bodoh."
Yuan melengos dan segera berjalan mendekati Rion yang duduk di meja terpisah dari Rully.
"Rion bisakah kamu membantuku untuk menyelesaikan hitungan ini?"
Rion tidak menjawab.
"Rion?"
Yuan memiringkan kepalanya ke samping dengan tatapan bingung. Dia mendapati tatapan Rion sedang terfokus ke arah lain.
Yuan mengikuti arah tatapan Rion. Anak laki-laki manis itu berkedip menatap seorang anak cantik lain yang sedang dikerumuni beberapa anak di sudut lain kelas.
"Dia adalah anak baru tadi pagi, mengapa Rion terus memperhatikannya?"
Rully yang mendengar pertanyaan Yuan segera ikut menoleh.
"Mungkin Rion suka padanya?"
Yuan menoleh ke arah Rully. "Benarkah?"
Rully mengangkat bahu. "Yah siapa yang tahu, selera Rion kan memang seperti itu, cupu sekali!"
"Apanya yang cupu?"
"Menyukai yang imut-imut menuruku itu cupu."
Yuan mendengus kesal. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang Rully bicarakan. Namun entah mengapa dia merasa kesal dan ingin sekali menendang pantatnya sekarang.
Rully berbalik memperhatikan Rion. Anak laki-laki itu mengulurkan tangan dan segera menepuk bahu saudara kembarnya.
"Ah?"
Rion tersadar segera. Dia menatap Rully sebentar lalu menatap Yuan yang berkedip lucu menatapnya juga.
"Apa yang salah denganmu? Yuan memanggilmu sedari tadi!"
"Be-benarkah? Ah maafkan aku."
Yuan menatap Rion sejenak dengan tatapan meneliti sebelum menggelengkan kepalanya perlahan. "Bukan masalah, sepertinya kamu menyukai anak itu, ya?"
"Ah?"
Rion menatap Yuan yang memiliki penampilan agak sedih.
"Tidak!"
Rion dengan cepat berdiri dari kursinya dan menghadap kepada Yuan sepenuhnya.
"Aku tidak menyukainya, aku...,"
Rion melirik ke arah Rully yang masih menatapnya dengan tatapan penasaran sekilas lalu kembali fokus menatap Yuan dengan wajah memerah.
"Aku hanya menyukaimu," gumam Rion pelan namun masih terdengar oleh Rully maupun Yuan.
"Aku melihatnya hanya karena sedikit penasaran, tidak mungkin aku menyukainya."
"Be-begitu rupanya," ujar Yuan sedikit gagap dan tersipu.
Rion dan Yuan memiliki wajah yang sama-sama merah. Saling berpandangan dengan tatapan malu-malu.
Rully yang melihat pemandangan itu segera menyadari sesuatu. Anak laki-laki itu mencibir pelan.
"Dasar anak-anak yang sedang mengalami cinta monyet!"
Rully mengerucutkan bibirnya ke depan lalu beralih menatap Cirrus yang sebelumnya diperhatikan lekat oleh Rion.
Aneh sekali, mengapa saudaranya yang selalu tak acuh kepada orang lain tiba-tiba menyempatkan diri untuk memperhatikan murid baru itu?
---
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
(DROP) [ABO] Happy Family!
RomantizmArion telah lama kehilangan mereka. Mereka yang seharusnya menjadi keluarganya telah memilih pergi karena keegoisannya. Lama mencari namun Arion tidak menemukan sedikitpun jejak pergi yang tersisa. Tapi hingga suatu hari, ketika Arion sudah lelah...
![(DROP) [ABO] Happy Family!](https://img.wattpad.com/cover/377785244-64-k437205.jpg)