13

1.3K 120 10
                                        

Pertemuan ini tidak pernah diharapkan baik oleh Rune atau Arion sendiri. Selama ini keduanya sudah tidak saling mengharapkan satu sama lain. Sejak mereka berpisah sekitar enam tahun yang lalu.

Arion memang mencari Rune, tetapi dia sendiri sudah pasrah menyerah ketika tak kunjung menemukan sedikitpun jejak Rune.

Begitu juga Rune yang berharap besar Arion akan berbahagia tanpanya.

Dan meski suatu saat mereka dipertemukan tanpa bisa mengelak, semoga disaat itu hati mereka telah diperkuat dan mampu saling menghadapi tanpa menyimpan perasaan lagi.

"Mau pesan apa?"

Rune mengukir sedikit senyum. Tidak ada ekspresi terpaksa atau tertekan di wajahnya.

Arion terhenyak. Lamunannya buyar begitu telinganya akhirnya menangkap suara familiar yang selalu dia rindukan.

"Aku--"

"Daddy aku ingin makan daging."

Cirrus menyela tiba-tiba dengan senyuman ceria. Anak itu polos dan tidak berhasil menangkap suasana aneh di antara dua orang dewasa di hadapan mereka.

Rune menatap Cirrus dengan tatapan lembut. Anak itu lucu dan manis sedikit mirip dengan omega yang datang bersama mereka.

Zhan yang diletakkan ditengah-tengah perlahan mulai menyadari bahwa ada sedikit masalah di antara Arion dan omega pelayan itu.

"Silahkan sebutkan pesanan Anda sekalian dan saya akan menulisnya," ucap Rune mengabaikan tatapan lekat Arion yang tidak lepas darinya.

Rune fokus menatap Zhan yang diam-diam menjadi gugup.

"Ini aku juga ingin makan daging, jadi aku ingin pesan...,"

Zha menyebutkan pesanannya dengan tenang. Sesekali dia melirik Arion yang seperti orang bodoh di sampingnya lalu beralih melirik Rune yang masih berdiri di tempatnya dan menulis pesanan.

"Bagaimana dengan Anda pak?"

Mata Arion sedikit berkilat ketika bertemu tatap dengan mata tenang Rune yang menanyainya dan menyebutnya 'pak' dengan seenaknya.

"Samakan."

Suara Arion datar dan terkesan tidak berminat.

Rune mengangguk dan tersenyum manis selayaknya ia bekerja melayani pelanggan cafe selama ini. Dia memang profesional.

"Baiklah pesanan Anda akan segera kami siapkan, harap tunggu sejenak."

Rune berbalik dan pergi.

Arion menatap punggungnya sebentar lalu berdiri.

"Daddy? Mau kemana?"

"Toilet," jawab Arion singkat lalu pergi begitu saja tanpa menoleh menatap Cirrus yang kebingungan.

"Biarkan daddy pergi sebentar, sepertinya ada yang harus diurusnya," ucap Zhan perlahan, membujuk Cirrus yang hampir membuka mulut seolah ingin mencegah Arion pergi.

-

"Bisa bicara sebentar?"

Rune membeku. Dia telah selesai menyampaikan pesanan pelanggan ke bagian dapur. Dia tidak menyangka ketika malah melihat Arion tiba-tiba mencegatnya di pintu masuk seperti ini.

"Sedang apa kamu? Menyingkir!"

"Tidak, bicara denganku dulu baru aku akan menyingkir."

Arion tegas. Matanya penuh tekad tak terbantahkan yang membuat Rune sedikit pusing dan tertekan.

"Apakah kamu buta? Tidak lihat aku sedang bekerja, huh?"

"Ya aku buta terhadap segalanya kecuali kamu. Bicaralah denganku untuk sembuhkan mataku."

Rune berkedip cepat. Mulutnya agak menganga kaget setelah selesai mendengar perkataan Arion yang terkesan seperti gombal jadul.

"Kamu-"

"Bicara denganku."

Sial!

Rune menghela nafas berat. Bajingan ini begitu kuat dan sulit sekali untuk dilawan.

"Oke, ikuti aku."

Rune meraih tangan Arion dan membawanya ke area belakang, mengabaikan tatapan penasaran dari pekerja lain terutama Hegi yang melotot tajam seperti akan melepaskan kedua bola matanya dari tempatnya.

-

"Bicara!"

Arion terdiam. Dia memandangi wajah Rune yang masih sama seperti di ingatannya dulu dengan ekspresi rindu.

"Hey!"

"Diam."

Rune merapatkan bibirnya segera. Matanya mendelik kepada Arion yang perlahan tersenyum.

"Kamu masih cantik."

Arion mengulurkan tangannya menyentuh satu sisi pipi mulus Rune.

"Terimakasih, aku tahu."

Rune mengelak, memiringkan kepalanya seolah enggan membiarkan Arion menyentuhnya.

"Jangan sembarangan menyentuh orang lain, bicara saja sekarang jika tidak mau lebih baik aku pergi."

Arion mengatupkan bibirnya.

"Aku... Aku...,"

Arion ingin sekali berkata rindu tapi apalah daya bibirnya tiba-tiba terasa kelu.

Masih pantaskah Arion menyimpan rindu setelah semua yang telah dia lakukan di masa lalu?

"Aku..., ha... Bagaimana kabarmu?"

Yah, pada akhirnya Arion tetap tidak mampu berterus-terang tentang kerinduannya sendiri.

"Aku baik," jawab Rune singkat. "Jika hanya itu yang ingin kamu katakan maka aku akan perg–"

"Anak itu."

Kelopak mata Rune sedikit bergetar. Dia mengangkat kepala dan menatap Arion dengan ekspresi rumit.

"Apakah anak itu baik-baik saja?"

"Ya."

Arion menghembuskan nafas lega. "Aku senang mendengarnya, kamu dan anak itu baik-baik saja, lalu kita sudah bertemu satu sama lain, bisakah aku–"

"Tidak."

"Apa?"

Rune menunduk. "Aku akan pergi, jangan temui aku lagi."

Arion tertegun.

"Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, kita lebih baik bersikap seolah tidak saling kenal saja."

"Mengapa?"

"Tidak ada alasan, kembalilah kamu kepada keluargamu, mereka sudah menunggu."

Rune langsung berjalan pergi melewati bahu Arion tanpa banyak berkata lagi.

---
Tbc

(DROP) [ABO] Happy Family! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang