14 [END]

764 39 45
                                        

Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Seorang pemuda dengan manik hijau emerald terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia mendapati sang suami masih tertidur pulas. Dirinya tersenyum tipis lalu bangkit dari tempat tidurnya. "Yang lain udah pada bangun belum ya?" gumamnya.

Pemuda itu yang tak lain dan tak bukan adalah Thorn masuk ke kamar mandi. Untuk apa? Tentu saja untuk mandi.

Setelah beberapa lama di dalam kamar mandi, ia pun keluar. Tak lupa memakai pakaiannya juga. Thorn melirik tempat tidurnya, ternyata Solar belum juga bangun. Ia hanya membiarkan pemuda bermanik silver itu tetap tertidur pulas. Dirinya memilih untuk pergi keluar kamar untuk mencari kedua kakaknya.

"Thorn? Udah bangun?" tanya seorang pemuda yang mempunyai manik oranye. Thorn yang mendengar itu langsung menoleh ke sumber suaranya. Ah, ternyata Blaze. "Kak Blaze ternyata. Tumben kak Aze bangun jam segini." balas Thorn sambil berjalan mendekati Blaze.

"Iya, aku nyalain alarm." Blaze berucap. "Liat kak Taufan ga?" tanya Thorn. Blaze menggeleng. "Owalah... Oke, deh!" balas Thorn. "Bikin sarapan, yuk. Bosen nih." ajak Blaze. Thorn langsung mengangguk antusias. "Ayo! Aku juga bosen," Thorn berucap. Mereka berdua pun berjalan ke dapur untuk membuat sarapan.

Sampai di dapur, mereka pun melihat Taufan yang sedang menyiapkan sarapan. "Rajin banget, kak." ucap Blaze. Taufan terkekeh, "Harus." balasnya. Thorn melirik meja makan yang sudah penuh dengan masakan Taufan. "Enak banget pasti!" ucap Thorn antusias.

"Biasa aja, kok." balasnya. "Oh, iya. Boleh minta tolong panggilin yang lain?" tambahnya sambil merapikan alat-alat dapur. Thorn dan Blaze mengangguk serempak. "Thorn, kamu panggil Solar. Aku panggil Ice terus nyuruh dia panggil Hali, deh!" ujar Blaze.

Ternyata, Ice malah sudah turun duluan karena mencium bau makanan. "Ce, panggilin Hali sana!" titah Blaze. Ice yang disuruh pun nurut-nurut aja, ia langsung kembali naik tangga ke lantai dua untuk memanggil Halilintar.

"Oh, ya! Sekalian Solar juga!" teriak Blaze dari lantai satu. "Kak? Berisik, kak Aze kan cempreng!" Thorn berucap.

Nampaknya ada yang patah tetapi bukan ranting. Kira-kira, apa yang patah?

"Heh, diajarin siapa begitu? Ga baik. Minta maaf sama Blaze, ya?" ujar Taufan. "Maaf, kak Aze." ucap pemuda bermanik hijau emerald itu. "Iya, gapapa. Santai aja," balas Blaze lalu duduk di kursi meja makan.

Tak selang lama... Solar, Halilintar beserta Ice pun datang. "Akhirnya, buruan! Laper nih gue," ucap Blaze. Solar mengernyitkan dahinya. "Sabar, cok. Gue masih ngumpulin nyawa." ucapnya. "Udah kenyang makan sabar." balas Blaze.

"Ngapain makan sabar coba kalau ada makanan lain?" tanya Solar. "Ga begitu, cok!" balas Blaze. Ia memutar bola matanya malas, "Terserah lu. Males berantem gue." tambahnya. Semuanya pun duduk di kursi meja makan.

"Kalian makan duluan aja. Aku belum laper." ucap Taufan sambil memainkan ponselnya. "Kita bakal nungguin kak Ufan. Ya, 'kan?" ucap Thorn. "Ga–" belum sempat Solar menyelesaikan kalimatnya, Thorn menginjak kaki Solar dengan kencang.

"ASTAGA NAGA– IYA!" teriak Solar dikarenakan refleks. Taufan terdiam sejenak lalu meletakkan ponselnya di atas meja makan. "Iya, iya. Ayo makan," ucap Taufan. Thorn tersenyum lebar, "Selamat makan semuanya!" serunya.

Mereka semua pun menikmati sarapannya. Thorn habis duluan sarapannya karena lapar katanya. "Cepet banget abisnya, Thorn. Laper banget ya?" tanya Blaze. Thorn mengangguk, "Banget, kak! Thorn udah ga makan lima tahun soalnya," jawabnya sambil ketawa-ketiwi. Blaze mengernyit, "LEBAY!" ucapnya.

"Jahat banget kak Aze, hati mungil Thorn sakit tau." ucap Thorn dramatis. "Pret." balas Blaze lalu lanjut memakan sarapannya. Tak lama, Ice pun juga habis sarapannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SolThorn [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang