"Terimakasih Naruto." Balas Hinata pelan.
Pria itu beranjak dari posisinya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Semoga dirimu lekas sembuh." Ucap Naruto tulus.
"Dan Aku harap bayimu sehat Hinata."
Lalu Naruto menghilang dari balik pintu meninggalkan Hinata yang cukup terkejut dengan ucapan terakhir Pria itu.
Hinata tersenyum kecil. Ia menunduk untuk melihat perut rata nya yang kini terisi janin.
'Kali ini, Aku tidak akan menyia-nyiakanmu sayang.'
*
Wanita dengan perut buncit itu terlihat melakukan kegiatannya dengan tenang. Sesekali mulutnya bersenandung mengikuti alunan lagu dari Ponsel nya.
Hinata mengambil adonan pancake di atas teflon dengan spatula lalu meletakkannya di sebuah piring. Begitu Pancake yang ia inginkan siap, Hinata mematikan kompornya dan membawa piring dengan setumpuk pancake di atasnya menuju meja makan.
Selai mapple dengan buah blueberry menjadi toping di pancake nya. Hinata tersenyum senang lalu dengan cepat mengambil ponsel untuk mengambil gambar sarapan pagi nya Itu.
Suara bel pintu membuat Hinata yang baru memasukan potongan pertama sarapannya menoleh ke arah pintu. Ia meletakan kedua peralatan makannya dan bergerak menuju pintu depannya.
Seorang kurir terlihat kesulitan membawa Satu buket bunga yang cukup besar. Wanita itu langsung melihat kalender di samping nya.
Ah, Rupanya hari ini.
Hinata tersenyum ketika Kurir menyerahkan buket bunga itu setelah menanyakan namanya terlebih dahulu.
Setelah ia menerima buket bunga itu. Ia dengan hati-hati membongkar bunga tersebut untuk ia letakan di beberapa vas bunga.
Hinata kembali ke Meja makan dan melanjutkan sarapannya. Setelah siap dengan sarapannya, wanita itu mulai membaca kartu yang memang di selipkan di dalam buket bunga tersebut.
Aku harap kau sehat
Walaupun tanpa nama atau inisal, wanita itu sudah tahu siapa yang telah mengirimkan buket tersebut. Karena setiap tanggal 25, Pria itu selalu mengirimkan buket bunga ataupun hadiah yang lain untuknya.
Hinata mengelus perut buncit nya dengan pelan.
"Lihat nak, dia mengirimkan kita hadiah lagi. Dirimu pasti senang, kan?" Ucap Hinata kepada janin di dalam perutnya. Wanita itu tertawa kecil saat merasakan gerakan di perutnya. Janin nya selalu meresponnya saat Dirinya membicarakan tentang dia.
Hinata menghela nafas, walaupun hati nya masih membenci Pria itu, nyatanya Hinata sulit membenci Pria itu.
Janin nya sangat merespon Pria itu dan itu juga berpengaruh juga pada nya. Sekeras apapun ia menolak namun tetap saja ia kalah karena si kecil ini.
Tidak papa, Hinata pun lelah jika harus membenci seseorang secara terus-menerus. Pun Pria itu tidak akan menampakan dirinya selama ia di sini, dan itu sudah cukup.
*
"Dia masih mengirim mu hadiah?" Tanya Neji. Pria itu langsung meletakan kopi yang akan di minum nya.
Neji menatap vas bunga milik Hinata dengan tatapan sinis. Jika saja tatapan nya bisa mengeluarkan api, mungkin bunga itu sudah terbakar sejak tadi.
Hinata melirik kearah tatapan Neji. Wanita itu mengangguk pelan, Hinata menghampiri Kakak laki-lakinya itu dengan satu slice kue black forest.
KAMU SEDANG MEMBACA
[7] BROKEN HEART (IN PROSES)
RandomAku diperkosa, lalu di buang keluargaku sendiri. Menyedihkan bukan? Aku hamil, dan tidak ada satupun yang menolongku. Aku gila, Karena mereka. Biarkan aku mati. Aku tidak bisa lagi hidup seperti ini * Aku menemukan dia. Tersenyum bodoh dan senang...
![[7] BROKEN HEART (IN PROSES)](https://img.wattpad.com/cover/159148694-64-k996615.jpg)